Perajin Miniatur Kapal Larungan di Jepara yang Bertahan Selama 22 Tahun
Agus Mardiko, seorang perajin miniatur kapal larungan dari Jepara, terus menunjukkan semangatnya dalam menjalankan tradisi Pesta Lomban meskipun usianya telah menginjak 54 tahun. Tinggal di RT 04 RW 04 Gang Sari Samudra, Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Agus telah dipercaya sebagai perajin miniatur kapal larungan sejak 2004. Sampai saat ini, ia sudah berhasil membuat 22 kali miniatur kapal larungan untuk acara tersebut.
Miniatur kapal ini memiliki makna penting dalam tradisi Lomban. Kapal tersebut digunakan sebagai tempat sesaji berupa kepala kerbau dan benda-benda lainnya. Tahun ini, Agus kembali dipercaya oleh Disparbud Kabupaten Jepara untuk menyiapkan miniatur kapal larungan. Kapal yang dibuatnya memiliki ukuran panjang 4,5 meter dan lebar 1 meter. Dibandingkan dengan kapal serupa pada Pesta Lomban 2025, miniatur kapal ini lebih panjang sekitar 30 sentimeter. Tujuannya adalah untuk menyesuaikan dengan jenis kapal trend 2026 dan mencegah kapal mudah tenggelam akibat ombak besar.
Kapal yang diberi nama Joyo Samudro mulai dibuat pada pertengahan Ramadan dengan pasaran Manis/Legi. Dalam proses pembuatannya, Agus melakukan ritual puasa selama satu hari dan membacakan doa-doa sebagai langkah awal memulai pembuatan struktur kapal. Ia juga dibantu oleh beberapa pemuda sekitar agar kapal siap digunakan sebelum acara Lomban dimulai.
Kapal tersebut ditargetkan selesai sebelum Jumat (27/3/2026) pukul 14.30 agar bisa ikut dalam ritual doa sesaji. “Dalam pembuatannya juga harus dalam keadaan bersih. Artinya, selain ada doa-doa, tetap berusaha menjaga agar dalam kondisi bersih,” ujarnya.
Tiga Bahan Utama yang Harus Ada
Agus menyebutkan bahwa ada tiga bahan utama yang tidak boleh ditinggalkan dalam pembuatan kapal miniatur larungan Lomban. Ketiga bahan tersebut adalah debog pisang raja, bambu apus, dan kain putih. Ketiganya saling berkaitan dan tidak boleh dihilangkan.
Debog pisang raja diumpamakan sebagai rajanya roh jahat yang bersemayam di laut. Bambu apus berfungsi sebagai senjata untuk membunuh roh tersebut demi mencapai kemakmuran nelayan pesisir pantai. Kain putih yang digunakan untuk melilit kerangka kapal dianggap sebagai simbol kemakmuran nelayan Jepara.
Agus berharap melalui tradisi Lomban larungan sesaji ini, nelayan dan masyarakat Jepara pada umumnya diberikan kelimpahan rizki mencari ikan di laut melalui perantara melarung kepala kerbau disertai doa-doa. “Untuk larung kenapa kepala kerbau, konon filosofinya membuang kebodohan. Agar masyarakat Jepara semakin pintar-pintar,” tuturnya.
Proses Pembuatan yang Memerlukan Keseimbangan
Saat ini, miniatur kapal buatan Agus sudah hampir selesai. Kerangka utama kapal sudah terpasang, lengkap dengan kain putih yang melilitnya. Finishing pengerjaan tinggal pemasangan pelampung, hiasan kapal, dan pemasangan nama Joyo Samudro sebagai identitas kapal.
Nama tersebut tidak pernah berubah selama 22 tahun terakhir. Nama itu mengandung doa besar agar nelayan Jepara semakin makmur. “Untuk kerangka tambahan kapal ada papan dari kayu sengon, dan beberapa jenis bambu lainnya.”
“Kapal miniatur ini dibuat manual, harus diperhatikan keseimbangannya.” Agus menjelaskan bahwa mereka berupaya membuat kapal lebih kokoh agar tidak mudah terbalik, mengingat ombak laut masih cukup besar.
Kepercayaan yang Menjadi Amanah
Agus tidak pernah mengalami hal-hal mistis selama 22 tahun dipercaya membuat kapal larungan. Namun, beberapa tetangganya bercerita bahwa setiap konstruksi kapal selesai dipasang kain putih, selalu ada sosok makhluk halus yang menjaga kapal tersebut. Cerita itu selalu didengar dari tetangganya setiap kali dipercaya membuat miniatur kapal larungan setiap tahunnya.
Dia pun tak mempermasalahkan hal itu, selagi tidak mengganggunya dalam proses pembuatan kapal. Agus justru merasa bersyukur lantaran dipercaya sebagai perajin miniatur kapal larungan tradisi Lomban selama 22 tahun terakhir.
Biaya pembuatan kapal yang awalnya hanya Rp250 ribu pada 2004, kini meningkat menjadi Rp6,6 juta pada 2026. Anggaran tersebut sudah termasuk biaya pengangkutan kapal dengan melibatkan enam orang sebagai petugas khusus pelarungan.
Rencananya ritual sesaji dilakukan Jumat (27/3/2026) sore. Selanjutnya sesajen dinaikkan ke atas kapal, dibawa ke TPI Ujungbatu sebagai titik awal Tradisi Lomban hingga Pantai Kartini sebagai titik finish pelarungan.





