Perubahan Pandangan tentang Otak dan Fokus

Saya pertama kali tersentak ketika mendengar kembali pesan lama Tony Robbins dalam sebuah podcast: “Energy flows where attention goes.” Kalimat sederhana, tapi menghantam keras terutama bagi orang dengan ADHD. Bagi sebagian orang, fokus adalah keterampilan. Bagi kami, fokus sering terasa seperti medan perang. Namun kalimat itu pelan-pelan mengubah cara saya memandang otak saya sendiri.

Perubahan cara pandang itu semakin dalam ketika saya membaca tulisan seorang penulis dengan ADHD yang menyebut dirinya “rusak” karena tak bisa diam, tak bisa fokus lama, dan selalu merasa tertinggal. Rasanya seperti bercermin ke masa kecil saya sendiri. Saya pernah ada di titik itu meyakini bahwa ada yang salah dengan diri saya, bukan dengan sistem yang tak memberi ruang.

Masalahnya bukan pada otak kami, melainkan pada kacamata yang dipakai untuk menilai kami. Dunia neurotipikal sering hanya mengenal satu standar: tenang, rapi, fokus lama, patuh. Ketika seseorang dengan disleksia dan ADHD seperti saya tidak masuk ke kotak itu, label “malas”, “bodoh”, atau “bermasalah” pun datang lebih cepat daripada empati.

Padahal, ilmu pengetahuan modern sudah lama menjelaskan bahwa ADHD bukan soal kemauan, melainkan soal regulasi atensi dan energi otak. Russell Barkley, salah satu pakar ADHD terkemuka, menjelaskan bahwa ADHD adalah gangguan fungsi eksekutif bukan gangguan kecerdasan. Otak kami tidak kekurangan kemampuan, tetapi bekerja dengan pola yang berbeda. Fokus kami tidak hilang, ia hanya berpindah dengan cepat ke hal yang dianggap bermakna.

Di lapangan, saya melihat sendiri faktanya. Dalam perjalanan Dyslexia Keliling Nusantara, saya bertemu banyak anak dengan ADHD dan disleksia yang “hidup” saat belajar lewat gerak, visual, diskusi, atau praktik langsung. Mereka runtuh saat dipaksa duduk diam dan menyalin papan tulis. Bukan karena tidak bisa, tapi karena kelelahan melawan cara belajar yang tidak ramah otak mereka.

Kekuatan dan Kelemahan dalam Pandangan yang Berbeda

Di sinilah saya menemukan jembatan menarik antara sains modern dan kebijaksanaan lama. Jauh sebelum Tony Robbins mempopulerkan kekuatan fokus, seorang biksu India bernama Swami Vivekananda sudah mengatakan: “Strength is life, weakness is death.” Kekuatan adalah kehidupan, kelemahan adalah kematian terutama bagi pikiran.

Bagi otak ADHD, kalimat ini bukan ajakan untuk menjadi “lebih kuat” dengan cara memaksa diri menjadi normal. Justru sebaliknya. Ini adalah undangan untuk berhenti memberi makan narasi kelemahan. Otak kita bisa memegang dua kebenaran sekaligus: aku berbeda dan aku mampu. Yang menentukan arah hidup kita adalah kebenaran mana yang terus kita beri perhatian.

Sebagai penyandang disleksia dan ADHD, saya belajar bahwa perhatian adalah bahan bakar. Ketika sejak kecil saya diberi perhatian pada kesalahan, nilai merah, dan perbandingan, otak saya tumbuh dalam rasa tidak cukup. Namun ketika dewasa, saat saya mulai mengarahkan perhatian pada kekuatan empati, kreativitas, cara berpikir visual, dan kepekaan rasa energi hidup saya mengalir ke sana.

Mengubah Fokus untuk Menemukan Kekuatan

ADHD bukan kutukan. Ia menjadi masalah ketika lingkungan hanya melihat kelemahannya. Tetapi ia bisa menjadi kekuatan besar ketika kita mengubah fokus: dari “apa yang tidak bisa saya lakukan” menjadi “bagaimana cara otak saya bekerja paling optimal.”

Mungkin kita tidak perlu otak baru. Yang kita butuhkan adalah cara pandang baru yang berhenti menghukum perbedaan dan mulai merawat potensi. Karena pada akhirnya, otak tidak pernah benar-benar kehabisan fokus. Ia hanya kehabisan ruang untuk bernapas.

“Saya tidak bodoh. Saya tidak rusak. Otak saya hanya bekerja dengan cara yang berbeda dan ketika perbedaan itu diterima, di situlah kekuatan saya hidup.” Imran Setiawan

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version