Ringkasan Berita:

  • Keluarga Dini Hardiyanti (30), istri siri yang dibunuh suaminya, menduga pelaku pembunuhan bukan hanya Dwi Bagus Martono (40). 
  • Keluarga menuding ada pelaku lain yang ikut menghabisi nyawa Dini dan anaknya, AG (4) di Kota Madiun. 
  • Harti, ibu Dini mengungkap kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. 

 

Infomalangraya.netI MADIUN – Keluarga Dini Hardiyanti (30), istri siri yang dibunuh suaminya, menduga pelaku pembunuhan bukan hanya Dwi Bagus Martono (40). 

Keluarga menuding ada pelaku lain yang ikut menghabisi nyawa Dini dan anaknya, AG (4) di Kota Madiun.

Harti, ibu Dini mendesak polisi mengusut perkara tersebut hingga tuntas karena dia menduga masih ada pihak lain yang terlibat dan meminta penyidik mendalami kemungkinan tersebut.

Sementara itu, adik Dini, Khanza, juga meminta penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim mengungkap seluruh fakta dalam kasus pembunuhan tersebut.

Khanza menjadi salah satu sosok penting dalam pengungkapan kasus ini. Ia merupakan pihak yang melaporkan hilangnya Dini dan AGF ke Polres Madiun Kota pada Senin (5/10/2026).

Dalam prarekonstruksi tersebut, Khanza menilai masih ada sejumlah kejanggalan yang belum terungkap, baik dari keterangan tersangka kepada polisi maupun adegan yang diperagakan.

Ia menduga Bagus tidak bertindak seorang diri dan meminta penyidik tidak berhenti pada keterangan tersangka saat ini.

“Ada yang (masih) janggal, tidak mungkin Bagus sendirian,” pungkasnya.

Khanza berharap polisi mengusut tuntas perkara tersebut agar seluruh rangkaian kejadian, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain, dapat terungkap secara terang.

Kejanggalan Versi Keluarga

Harti mengaku meski hubungan Bagus dan Dini kerap diwarnai pertengkaran, dia tidak pernah membayangkan konflik tersebut berujung pada hilangnya nyawa dua orang yang dicintainya.

“Ya, sering cekcok, tapi nggak seperti ini,” tuturnya.

Harti mengungkapkan, dirinya sempat merasakan ada sesuatu yang tidak beres sebelum kasus tersebut terungkap. Ia mengingat komunikasi terakhir dengan Dini yang terjadi sekitar 20 September 2026.

Saat itu, Dini sempat menghubunginya dan mengeluhkan kondisi yang dialaminya.

“‘Ibu, sampai sekarang nggak bisa tidur, nggak bisa makan.’ Ibu sudah curiga waktu tanggal 20 itu. Ibu telepon, dia telepon, video call. Nah, sudah nggak ada itu lagi,” kenangnya.

Setelah komunikasi tersebut terputus, Harti tidak lagi mendapatkan kabar seperti sebelumnya.

Hingga akhirnya, ia harus menghadapi kenyataan bahwa putri dan cucunya menjadi korban pembunuhan.

Kuasa hukum keluarga korban, Ikbal Sermaf, menambahkan  panggilan video antara korban dan ibunya itu berlangsung selama kurang lebih setengah jam.

Percakapan jarak jauh tersebut berjalan normal layaknya keluarga yang saling menanyakan kabar dan aktivitas sehari-hari.

Namun, di tengah-tengah kehangatan percakapan tersebut, sambungan video itu tiba-tiba mati secara mendadak pada sekitar pukul 09.00 WIB.

“Kalau firasat dari mimpi sudah ada, karena saya juga sempat bertanya dan memang ada firasat yang kurang enak. Bahkan, yang muncul firasat kurang enak itu pasca dia telepon video call di tanggal 20, dan tiba-tiba di jam 9 itu video call-nya mati secara tiba-tiba. Di situ sudah mulai ada firasat yang kurang enak begitu cara menafsirkannya,” ungkap Ikbal saat ditemui awak media di depan Lobby Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, Senin (26/10/2026) malam.

Pesan Ketakutan Korban

Selain firasat dari sambungan komunikasi terakhir, tim penasihat hukum juga menelusuri jejak digital berupa pesan singkat melalui Direct Message (DM) Instagram milik korban.

Dari penelusuran tersebut, terungkap adanya rasa ketakutan yang sempat dirasakan oleh Dini sebelum peristiwa nahas ini terjadi.

Korban sempat berbagi cerita kepada rekan terdekatnya bahwa dirinya merasa enggan kembali ke Kota Madiun lantaran mendapat tekanan serta bentuk komunikasi yang membuat dirinya merasa terancam secara mental.

“Jadi memang ada chat-chat yang memang dia merasa bahwa dia tidak mau ke Madiun karena ada ketakutan-ketakutan yang mendalam, dengan ancaman-ancaman yang memang keras dan sebagainya, yang memang ancaman… lah bahasanya dalam tanda kutip,” terang Ikbal.

Meski demikian, Ikbal meluruskan bahwa ketakutan tersebut bukan menyangkut dinamika rumah tangga secara umum, melainkan bentuk penyampaian kata-kata atau pesan yang menciptakan rasa tertekan bagi korban secara psikologis.

Respons Pelaku yang Menutup Diri dan Laporan Orang Hilang

Melihat korban tidak kunjung dapat dihubungi semenjak terputusnya sambungan telepon pada 20 September tersebut, pihak keluarga mulai dilanda kecemasan luar biasa. Keluarga lantas berupaya meminta kepastian kepada Dwi Bagus Martono selaku suami siri sekaligus orang yang terakhir kali mendampingi korban.

Kendati demikian, tanggapan yang diberikan oleh pelaku dinilai tidak kooperatif dan memicu kecurigaan lanjutan. Sikap tertutup tersebut membuat keluarga akhirnya memutuskan untuk terbang langsung menuju Kota Madiun guna mencari kejelasan.

Ikbal memaparkan, pihak keluarga kemudian mendatangi kantor kepolisian untuk membuat laporan resmi terkait orang hilang pada 7 Oktober 2026.

“Jadi begini, tanggal 7 Oktober itu mereka melaporkan terkait dengan berita orang hilang. Memang sebenarnya keluarga korban sudah mendesak, ia ke mana sebenarnya? Karena orang terakhir yang bersama korban ini adalah pelaku sebenarnya, sebagai suami siri. Dia sempat mendesak seperti itu, sehingga keluarga mendesak dan responsnya kurang baik. Akhirnya keluarga menempuh untuk datang ke Madiun, sehinggalah diterbitkanlah laporan kehilangan tertanggal 7 Oktober,” jelas Ikbal.

Kronologi Pembunuhan

Peristiwa tragis ini bermula ketika korban dan pelaku menginap di sebuah hotel pada Sabtu (19/9/2026) untuk merayakan ulang tahun sang anak AG. 

AG merupakan anak semata wayang dari pernikahan Dini dengan suaminya terdahulu. 

Sedangkan, selama menikah siri kurun waktu 2-3 tahun dengan pelaku, mereka belum dikaruniai anak. 

Namun, pada hari yang sama, istri sah pelaku yang berprofesi sebagai guru menghubungi untuk meminta dijemput dari luar kota. 

Nah, pelaku yang selama ini menyembunyikan pernikahan sirinya dari istri sah, diduga kebingungan membagi waktu tersebut.

Tak pelak, si pelaku berusaha berkelit dan beralasan untuk bepergian satu hari kepada istri siri atau korban untuk memperbaiki mobil Fortuner yang sedang rusak.

Nah, Roy menambahkan, di sisi lain, korban yang sudah berada di hotel merasa ditinggalkan dan kembali menghubungi pelaku.

Pada Minggu (20/9/2026) tersebut, percekcokan hebat tak terhindarkan di kamar hotel hingga berujung pada aksi pembunuhan terhadap Dini dan putranya pada siang hari. 

“Pada tanggal 19 itu juga korban mungkin cemburu atau bagaimana telepon lagi ke tersangka, ‘Kok saya dibiarin?’ Pada tanggal 20 dia datang, si pelaku ini datang menemui korban. Nah, di situlah terjadi emosi yang meluap. Peristiwa timbul di situ,” ujarnya di Ruang Konferensi Pers Gedung Bidang Humas Mapolda Jatim, pukul 09.00 WIB, Selasa (27/10/2026). 

Menanggapi spekulasi mengenai perselisihan antara istri sah dan istri siri, Roy menegaskan, pihaknya tetap fokus utama penyelidikan saat ini didasarkan pada fakta pemeriksaan awal terhadap pelaku. 

Namun, ia tak mempermasalahkan jika terdapat perbedaan pendapat atau persepsi perihal dugaan motif atas kasus pembunuhan tersebut. 

“Yang jelas berdasarkan hasil penelitian kita bahwa motif yang dimunculkan pada waktu pemeriksaan disebabkan karena adanya perselisihan yang terjadi sesaat pada saat tersangka dengan korban bertemu di hotel. Terjadi percekcokan dan akibat dari percekcokan itu timbul emosi dari tersangka sehingga mengakibatkan korban harus dihabisi pada saat itu,” jelasnya. 

Lantas, bagaimana kualitas hubungan pelaku dengan istri sirinya ini?

Menurut Roy, hubungan antara korban dan pelaku selama ini tergolong harmonis tanpa riwayat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Apalagi, status hubungan keduanya adalah nikah siri yang telah berjalan selama dua tahun sejak dilangsungkan di Samarinda, Kalimantan Timur. Mereka juga sempat bermukim di sana selama kurang lebih dua bulan.

Diduga kasus pembunuhan ini dipicu permasalahan percekcokan biasa antara sepasang kekasih dan emosi sesaat yang berlebihan hingga berujung fatal. 

“Selama ini hubungan mereka harmonis, tidak ada permasalahan. Nah, bahkan sebenarnya kalau dilihat ya pelaku ini memang betul-betul sayang sama korban. Hanya percekcokan di saat itu saja yang menyebabkan emosi singkat di mana mungkin pelaku harus mengambil tindakan seperti itu,” tambahnya.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version