Pelaku Pembacokan Suporter Bonek Mengakui Tindakannya
MN (21) mengakui telah membacok seorang suporter Bonek berinisial GAD (18) sebanyak dua kali hingga korban mengalami luka serius. Peristiwa ini terjadi di Jalan Sumatera, Kelurahan Pacarkeling, Kecamatan Tambaksari, Surabaya.
Setelah kejadian, pelaku melarikan diri ke Sampang, Madura, karena takut setelah mengetahui kasusnya viral di media sosial. MN mengaku berada di bawah pengaruh minuman keras sebelum mengikuti perayaan HUT Persebaya ke-99. Polisi telah menangkap dan menahan pelaku serta mengamankan barang bukti berupa celurit untuk proses hukum lebih lanjut.
Mengaku Kabur Karena Takut Kasusnya Viral
Setelah melakukan aksi pembacokan, MN memilih melarikan diri ke Kabupaten Sampang, Madura. Ia mengaku ketakutan setelah mengetahui kasus yang melibatkannya ramai diperbincangkan di media sosial. “Lihat medsos Pak. Viral lalu saya takut, akhirnya lari,” ujar MN saat diinterogasi.
Meski berusaha menghindari kejaran aparat dengan kabur ke luar Surabaya, persembunyian tersangka akhirnya berhasil diketahui dan ia ditangkap oleh petugas kepolisian.
Sempat Mabuk dan Ngaku Trauma
Dalam keterangannya, MN juga mengakui dirinya berada di bawah pengaruh minuman keras sebelum mengikuti perayaan Hari Ulang Tahun Persebaya ke-99. Ia mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, dirinya bersama sekitar 15 orang lainnya sempat mengonsumsi minuman beralkohol di depan sebuah gang.
Pengakuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kondisi mabuk menjadi salah satu faktor yang memicu tindakan kekerasan yang terjadi pada malam itu. Selain mengakui mengonsumsi minuman keras, MN juga memberikan alasan mengapa dirinya membawa senjata tajam berupa celurit. Menurut pengakuannya, ia masih menyimpan trauma akibat peristiwa kekerasan serupa yang pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Karena alasan itu, ia memilih membawa celurit saat mengikuti perayaan.
Namun demikian, alasan tersebut tidak menghapus pertanggungjawaban pidana yang harus dihadapinya atas tindakan pembacokan yang dilakukan.
Kapolrestabes Beri Teguran Keras kepada Pelaku
Mendengar seluruh pengakuan tersangka, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan menyampaikan kekecewaannya atas tindakan yang dilakukan MN. Ia menilai aksi kriminal tersebut telah mencoreng suasana perayaan ulang tahun klub sepak bola kebanggaan warga Surabaya.
“Mau perayaan disuruh tasyakuran malah mabuk bawa celurit. Doakan Persebaya supaya berjaya, malah mabuk gimana. Sudah kamu pertanggungjawabkan lah perbuatanmu. Merenung di sel bawah tanah sana,” tegas Kombes Pol Luthfie.
Kapolrestabes juga menyoroti keputusan tersangka yang memilih melarikan diri ke Sampang setelah kejadian. Menurutnya, tindakan tersebut tidak akan menghilangkan tanggung jawab hukum yang harus dijalani. Saat ini MN telah ditahan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Polisi juga telah mengamankan barang bukti berupa celurit yang diduga digunakan dalam aksi pembacokan tersebut.
Kronologi Pembacokan
Sebelumnya, Aksi konvoi di jalanan kota Surabaya kembali memakan korban jiwa dan menyisakan duka mendalam bagi pihak keluarga serta dunia pendidikan. Seorang remaja berusia 17 tahun berinisial GAD, atau yang akrab disapa Aldo, tewas mengenaskan setelah menjadi korban pembacokan brutal di kawasan Jalan Sumatera, Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Rabu malam, 17 Juni 2026, di tengah keriuhan konvoi perayaan ulang tahun sebuah klub sepak bola. Aldo yang merupakan siswa kelas 2 di SMA Dharma Wanita Surabaya ini mengembuskan napas terakhirnya justru saat mencoba melakukan aksi solidaritas untuk menolong temannya.
Berdasarkan penuturan pihak keluarga, Aldo awalnya pergi bersama saudara laki-lakinya untuk mengikuti kegiatan malam itu. Namun, situasi di jalanan mendadak berubah mencekam ketika sekelompok oknum mulai memicu keributan hingga menyebabkan salah satu rekan mereka terjatuh di jalan raya.
Melihat temannya terdesak, Aldo secara spontan bergerak maju dengan niat melerai perkelahian tersebut. Malangnya, kelompok penyerang tersebut ternyata mempersenjatai diri dengan senjata tajam. Sonya Cantika, kakak kedua korban, mengungkapkan kronologi pilu yang ia dapatkan dari rekan-rekan adiknya:
“Informasi dari teman-temannya, ada pihak yang memicu keonaran hingga terjatuh. Adik saya berniat maju untuk melerai dan membela temannya. Namun, ternyata pelaku membawa senjata tajam, sehingga adik saya langsung menjadi sasaran serangan brutal tersebut,” ujar Sonya dengan nada lirih menahan kesedihan, dikutip dari tayangan youtube Infomalangraya.net.
Selain merenggut nyawa Aldo, insiden berdarah ini juga menyebabkan rekan Aldo yang bernama Bobi berada dalam kondisi kritis di rumah sakit. Bobi mengalami luka bacok serius di bagian punggung saat mencoba menghindar dari amukan massa.
Secara keseluruhan, peristiwa mencekam malam itu dilaporkan memakan tiga orang korban, dengan rincian satu korban meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka. Kepergian Aldo yang begitu mendadak meninggalkan luka yang teramat dalam bagi Sonya dan seluruh keluarga besarnya.
Di mata orang-orang terdekatnya, Aldo dikenal sebagai sosok remaja yang baik, menyenangkan, dan humoris meskipun sekilas tampak pendiam. “Anaknya itu sebenarnya sangat periang dan humoris, suka bercanda meskipun kadang susah tersenyum,” kenang Sonya mengenai kepribadian adik kelimanya tersebut.
Sambil menahan tangis, Sonya juga menceritakan sebuah firasat atau permintaan terakhir yang disampaikan oleh Aldo beberapa hari sebelum tragedi itu terjadi. Aldo sempat berulang kali meminta agar dibelikan pakaian baru kepada kakaknya. “Beberapa hari yang lalu dia sempat meminta dibelikan baju baru. Katanya ingin punya kaos-kaos yang keren,” tutur Sonya mengenang keinginan terakhir adiknya yang belum sempat terwujud sepenuhnya.
Kini, pihak keluarga hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan pahit ini dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak berwajib. Mereka berharap besar agar aparat kepolisian bisa segera meringkus seluruh pelaku pembacokan dan menjatuhkan hukuman yang seadil-adilnya sesuai undang-undang.
