Hubungan Tegang Antara Trump dan Netanyahu Akibat Serangan Israel ke Lebanon

Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu semakin memburuk setelah Israel melancarkan serangan yang lebih masif ke wilayah Lebanon. Hal ini memicu reaksi keras dari Trump, yang merasa tindakan Israel mengancam negosiasinya dengan Iran.

Serangan Israel terhadap Lebanon dilakukan dengan alasan menargetkan Hizbullah di pinggiran selatan Beirut. Tindakan ini membuat Trump marah karena dianggap mengganggu upaya diplomasi AS dengan Iran. Selain itu, Iran juga mengancam akan memboikot negosiasi damai dengan AS sebagai bentuk protes atas tindakan Israel tersebut.

Trump meluapkan amarahnya kepada Netanyahu melalui telepon, bahkan menyebutnya “gila”. Menurut sumber Axios, Trump menuduh Netanyahu mendorong Israel menuju isolasi internasional dan membahayakan upaya diplomatik AS dengan Iran. Dalam percakapan tersebut, Trump juga menyampaikan bahwa Netanyahu bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

“Kau benar-benar gila. Kau pasti sudah dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini,” ujar sumber Axios.

Penangkapan oleh ICC dan Perlindungan Trump

Pada 21 November 2024 lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama konflik di Jalur Gaza. Surat perintah ini mengikat 124 negara anggota ICC.

Namun, Trump secara aktif melindungi Netanyahu dari ICC dengan mengeluarkan perintah eksekutif yang menjatuhkan sanksi terhadap lembaga tersebut. Trump menuding pengadilan internasional tersebut melakukan tindakan tidak sah dan tidak berdasar karena berani menargetkan sekutu dekat AS, yaitu Israel.

Trump juga memasukkan nama Netanyahu ke dalam struktur Dewan Perdamaian yang dibentuknya, meskipun pemimpin Israel tersebut berstatus sebagai buron ICC.

Iran Menghentikan Pembicaraan dengan AS

Iran memutuskan menghentikan sementara pembicaraan dan pertukaran pesan dengan AS yang selama ini berlangsung melalui perantara. Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes terhadap berlanjutnya serangan Israel di Lebanon dan Jalur Gaza.

Menurut Iran, pelanggaran yang terjadi di Lebanon juga berarti pelanggaran terhadap keseluruhan upaya penghentian konflik di kawasan. Para pejabat dan negosiator Iran menegaskan bahwa syarat utama untuk melanjutkan jalur komunikasi dengan Washington adalah penghentian segera operasi militer Israel di Lebanon dan Gaza, serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang masih diduduki.

Iran juga menyatakan bahwa tidak akan ada pembicaraan lebih lanjut sebelum tuntutan tersebut dipenuhi oleh pihak-pihak terkait. Tasnim menambahkan bahwa Iran bersama kelompok-kelompok yang tergabung dalam apa yang disebut sebagai “Front Perlawanan” telah memasukkan sejumlah opsi balasan ke dalam agenda mereka, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz dan pengaktifan front-front lain di kawasan seperti Selat Bab al-Mandab.

Sidang Darurat PBB atas Eskalasi Konflik

Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat atas permintaan Prancis pada Senin, 1 Juni 2026 malam, menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan. Pertemuan tersebut digelar setelah militer Israel memperluas operasi daratnya hingga ke wilayah yang lebih dalam di Lebanon, sementara Hizbullah meningkatkan serangan roket, rudal, dan drone ke berbagai wilayah Israel.

Kekhawatiran internasional semakin meningkat setelah pasukan Israel dilaporkan merebut Kastel Beaufort di dekat Nabatiyeh, sebuah lokasi strategis dan simbolis yang pernah menjadi basis militer Israel selama pendudukan Lebanon Selatan pada periode 1982–2000.

Di saat yang sama, serangan di dekat sebuah rumah sakit di Kota Tyre dilaporkan melukai sejumlah tenaga medis. Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Operasi Perdamaian, Martha Ama Akyaa Pobee, mengatakan situasi di Lebanon saat ini “sangat mengkhawatirkan”.

Menurutnya, pasukan Israel terus bergerak ke utara wilayah Lebanon, sementara Hizbullah memperluas jangkauan serangannya lebih jauh ke wilayah Israel. Pobee menjelaskan bahwa Israel telah meningkatkan operasi militernya dengan bergerak ke utara Sungai Litani, memperluas serangan udara hingga ke Lembah Beqaa dan pinggiran Beirut, serta mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil di sejumlah wilayah.

Sementara itu, Hizbullah terus melancarkan puluhan serangan menggunakan roket, rudal antitank, drone serat optik, hingga rudal permukaan-ke-udara terhadap target-target Israel.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version