Alwi Farhan Alhasny: Harapan Masa Depan Tunggal Putra Indonesia

Alwi Farhan Alhasny, pebulu tangkis muda kelahiran tahun 2005, menjadi bintang baru dalam pertandingan Indonesia Masters 2026. Ia berhasil meraih gelar juara di nomor tunggal putra, yang menjadi satu-satunya gelar untuk tuan rumah. Prestasi ini menunjukkan potensi besar dari seorang atlet muda yang siap mengisi masa depan tunggal putra Indonesia.
Alwi adalah putra dari pasangan Muhammad Anis dan Inten Untari. Dengan ambisi yang kuat, ia terus berusaha untuk mencapai prestasi di nomor tunggal putra. Salah satu idola Alwi adalah Anthony Sinisuka Ginting, yang memberinya motivasi untuk terus berkembang.
Bakat Alwi mulai mencuat ke publik setelah sukses besar di BWF World Junior Championships 2023, di mana ia menjadi juara. Status juara dunia junior bukan sekadar label, melainkan bukti bahwa transisi Alwi ke level senior berjalan dengan baik. Ia telah dipercaya tampil di Piala Thomas, Piala Sudirman, dan beberapa turnamen BWF lainnya.
SEA Games 2025 juga menjadi momen penting bagi Alwi. Ia berhasil meraih dua medali emas, yaitu di sektor tunggal putra dan tim beregu putra. Kemenangan ini memperkuat keyakinannya bahwa ia bisa menjadi salah satu pemain unggulan di masa depan.

Jangan Sampai Jadi Bumerang
Pelatih Alwi, Indra Wijaya, menyadari bahwa prestasi yang diraih oleh Alwi bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan baik. Ia memahami bahwa Alwi memiliki energi yang tinggi, namun perlu disalurkan dengan cara yang tepat.
“Alwi sangat energik. Nah, itu perlu disalurkan di cara yang tepat,” ujar Coach Indra Wijaya. “Kita semua bersyukur Alwi bisa juara di Indonesia, di rumah sendiri. Saya berharap ini jadi langkah awal untuk Alwi ke depannya. Lebih percaya diri, tetap rendah hati, terus berusaha yang terbaik karena masih banyak lawan yang perlu dikalahkan.”
Pesan pelatih tersebut menekankan pentingnya menjaga sikap rendah hati dan fokus pada latihan. Alwi diingatkan untuk tetap belajar dari pengalaman dan terus meningkatkan kemampuannya.

Menjaga Emosi Diri
Masalah emosi sering kali menjadi tantangan bagi atlet muda, termasuk Alwi. Jonatan Christie, salah satu senior di bidang ini, juga memberikan saran kepada Alwi untuk tetap fokus dan membumi.
“Koh Jo [Jonatan] bilang ‘kontrol, Wi, napsunya. Kontrol keinginan juaranya harus dikontrol. Karena kalau tidak dikontrol, bisa menjadi suatu bumerang’,” kata Alwi. “Koh Jo cukup bijak dan menjelaskan pengalaman dia selama bermain di Istora. Jadi, siapa pun lawannya, dia menekankan untuk selalu kontrol dari segi ambisi dan motivasi.”
Dengan nasihat-nasihat ini, Alwi semakin sadar bahwa kesuksesan tidak hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana menghadapi tekanan dan menjaga sikap.
Masa Depan Tunggal Putra RI
Kesuksesan Alwi tidak lepas dari atribut-atribut yang dimilikinya. Ia memiliki pukulan smash tajam serta variasi serangan yang sulit diantisipasi lawan. Kemampuan netting-nya juga cukup baik, sehingga membuat lawan kesulitan dalam membalas serangan.
Kecepatan dan penempatan posisi yang apik juga menjadi keunggulan Alwi. Namun, faktor konsistensi harus benar-benar dijaga. Ia tidak bisa hanya tampil menawan di rumah sendiri, tetapi harus membuktikan kapasitasnya di ajang-ajang yang lebih besar.
Ekspektasi terhadap Alwi semakin meningkat, terutama setelah cedera Anthony Ginting dan keluarnya Jonatan Christie. Hal ini membuat Alwi menjadi tumpuan pelatnas PBSI.
Dengan pengalaman dan pencapaian di usia muda, kehadiran Alwi merupakan sinyal baik untuk masa depan tunggal putra Indonesia. Ia bisa dipandang sebagai bagian dari proyek besar PBSI, bukan solusi instan, tapi fondasi masa depan. Proyek ini bertujuan untuk menghasilkan pemain yang matang di usia emas antara 24–27 tahun.
Tentu, tanpa mengesampingkan bakat-bakat muda lainnya. Saat ini, tunggal putra Indonesia masih memiliki Zaki Ubaidillah (Ubed), Prahdiska Bagas Shujiwo, Muhammad Yusuf, hingga Yohanes Saut Marcellyno. Mereka juga mencicipi persaingan di Istora tahun ini.





