Ustadz Abdul Somad Beri Pesan Kemerdekaan dalam Upacara 17 Agustus
Pembina upacara di Pesantren Tahfizh Qur’an Az-Zahra, Yayasan Pendidikan Hajjah Rohana, Ustadz Abdul Somad (UAS) kembali menjadi sorotan setelah video pidatanya viral di media sosial. Dalam momen peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2026, UAS tampil dengan pakaian teluk belanga khas Melayu Riau dan menyampaikan amanat yang penuh makna.
Dalam pidatanya, UAS menyoroti pentingnya memahami perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan yang diraih tidaklah mudah, melainkan hasil dari perjuangan para pejuang yang berani melawan penjajah. UAS mengungkapkan bahwa Belanda, sebagai negara penjajah, awalnya datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah seperti cengkeh dan tembakau. Namun, seiring waktu, mereka terus memperluas pengaruhnya.
Ia kemudian menyebutkan tokoh-tokoh perlawanan yang berani menghadapi penjajah, seperti Sultan Babullah dari Ternate dan Sultan Nuku dari Tidore. Selain itu, UAS juga menceritakan kisah Syekh Yusuf Almakassari, seorang ulama dari Sulawesi yang terusir ke Pulau Jawa, lalu dibuang ke Celon, Sri Lanka, dan akhirnya meninggal di Afrika Selatan. Meski dalam kondisi sulit, Syekh Yusuf tetap berdakwah dan membawa agama Islam ke berbagai daerah.
UAS juga mengisahkan perjuangan dua pejuang perempuan asal Aceh, Cut Nyak Dien dan Cut Meutia. Kedua perempuan ini bahkan sampai ditakuti oleh Belanda hingga makam mereka dicari-cari. UAS menegaskan bahwa keberanian mereka berasal dari api jihad yang menyala dalam hati umat Islam.
Penentuan Tanggal 17 Agustus
Selain itu, UAS juga menjelaskan alasan pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, tanggal tersebut bukan dipilih secara sembarangan. Presiden Soekarno memilih tanggal 17 karena yakin bahwa kemerdekaan Indonesia didapat melalui 17 rakaat sholat. Ia juga menyebut bahwa tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari turunnya Al-Qur’an dan hari Jumat, yang merupakan hari paling mulia.
UAS menekankan bahwa kemerdekaan harus disyukuri dengan doa dan istighasah. Ia menilai bahwa orang-orang yang mengkhianati kemerdekaan, seperti pelaku judi atau ateis, tidak layak tinggal di Indonesia. Ia menegaskan bahwa sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, harus dijunjung tinggi.
Isu Korupsi dan Hak Kemanusiaan
UAS juga menyentil para koruptor yang memakan APBN dan APBD. Ia menilai bahwa mereka tidak memiliki kemanusiaan dan tidak mengamalkan nilai keadilan. Ia menekankan bahwa masyarakat hanya meminta hak-hak dasar, seperti akses pendidikan dan kesehatan yang murah serta lapangan kerja yang layak.
UAS juga menyoroti pentingnya kebijakan yang adil dan berdasarkan musyawarah. Ia mengkritik keputusan Mahkamah Konstitusi yang diambil di saat libur atau tanpa proses yang transparan. Menurutnya, hal tersebut bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Pancasila dan kebangsaan.
Ancaman bagi Pengkhianat
Terakhir, UAS menyatakan bahwa para pengkhianat kemerdekaan tidak layak hidup di Indonesia. Ia menegaskan bahwa mereka harus dihukum mati karena telah mengkhianati perjuangan bangsa. Ia menekankan bahwa keadilan sosial harus ditegakkan demi seluruh rakyat Indonesia.
