Anak Bayi Tabung Tumbuh Kembangnya Sama dengan Anak Lain

Anak-anak yang lahir melalui program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) secara umum memiliki tumbuh kembang yang sama baiknya dengan anak yang lahir secara alami. Isu bahwa “anak IVF rentan gangguan perkembangan” lebih dekat ke mitos ketimbang fakta medis.

Dokter Spesialis Anak dari SMC RS Telogorejo Semarang, dr Farid Agung Rahmadi, menegaskan berdasarkan berbagai literatur dan penelitian medis, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada perkembangan mental maupun fungsional anak-anak IVF. Untuk perkembangan bahasa, motorik, sosial, sampai kognitif relatif tidak ada masalah. Tidak ada kontribusi langsung IVF terhadap gangguan mental.

Namun, dr Farid mengingatkan ada satu catatan penting terkait pertumbuhan fisik, khususnya risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Risiko prematur pada bayi IVF sekitar 1,5 kali lebih sering dibandingkan non-IVF. Karena itu pemantauannya harus lebih ketat.

Ia membedakan antara pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan ukuran fisik seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, yang idealnya dipantau setiap bulan sejak lahir hingga usia lima tahun. Sementara perkembangan berkaitan dengan kematangan fungsi, mulai dari kemampuan bicara, motorik kasar dan halus, sosialisasi, hingga kognitif.

“Bayi IVF yang punya riwayat masalah di awal kelahiran biasanya kita kategorikan sebagai high risk infant. Untuk mereka, pertumbuhan dipantau tiap bulan, perkembangan tiap tiga bulan,” katanya.

Meski demikian, secara umum arah tumbuh kembang anak IVF disebut tidak berbeda. Kuncinya ada pada deteksi dini dan stimulasi yang tepat. Anak tetap butuh pola asuh yang baik, stimulasi yang cukup, dan nutrisi seimbang supaya tumbuh kembangnya optimal sesuai potensi genetik.

Menanggapi kekhawatiran orang tua soal tinggi badan anak IVF, dr Farid menjelaskan pentingnya melihat data pertumbuhan secara longitudinal, bukan hanya satu titik pengukuran. Kita lihat grafiknya dari waktu ke waktu. Kalau dari awal posisinya konsisten di pita yang sama, itu bisa jadi memang potensi genetiknya di situ.

Ia juga mengenalkan konsep mid parental height, yakni prediksi tinggi badan anak berdasarkan tinggi kedua orang tua. Untuk mengoptimalkan potensi tinggi badan, asupan protein menjadi kunci. Proteinnya jangan tunggal. Dalam satu porsi makan bisa ayam dan ikan, atau telur dan ayam. Komposisi protein dibuat dobel, bukan porsinya yang dibesarkan.

Pengalaman dan Edukasi untuk Pasien Bayi Tabung

Sementara itu, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi sekaligus Konsultan Fertilitas dari SMC RS Telogorejo, dr Arie Sutanto, menyebut kegiatan ini juga menjadi ajang reuni sekaligus edukasi bagi para pasien program bayi tabung yang telah berhasil. Ini bukan cuma temu kangen. Kami ingin memberi edukasi tentang tumbuh kembang anak IVF sekaligus memotivasi pasangan lain yang masih berjuang.

Menurut dr Arie, secara medis pasangan suami istri dikatakan mengalami kesulitan memiliki anak jika setelah satu tahun menikah belum juga hamil. Penyebabnya beragam, bisa dari pihak suami, istri, atau keduanya. IVF biasanya jadi pilihan ketika ada indikasi kuat, misalnya saluran telur bermasalah atau kualitas sperma yang sangat rendah.

Ia menyebut prevalensi infertilitas berada di kisaran 10–15 persen pasangan usia subur, termasuk di Kota Semarang. Angka ini cenderung meningkat seiring bertambahnya usia menikah dan faktor lingkungan yang makin tidak sehat. Lingkungan tercemar bisa memengaruhi kesehatan reproduksi, termasuk kualitas sperma dan gangguan reproduksi lainnya.

Soal keberhasilan IVF, dr Arie menyebut rata-rata berada di angka 30–40 persen, sangat bergantung pada kondisi individu, terutama usia perempuan. Usia adalah faktor paling krusial. Semakin ditunda, peluangnya makin turun.

Sejarah dan Layanan Program Bayi Tabung di SMC RS Telogorejo

Program bayi tabung di SMC RS Telogorejo sendiri telah berjalan sejak akhir 1990-an dan aktif berkembang sejak awal 2000-an, dengan ratusan pasangan telah mengikuti program ini. Direktur Pemasaran RS SMC Telogorejo Semarang, Diana Loretta Sari, mengatakan program bayi tabung di rumah sakit tersebut telah berjalan sejak 1989, dengan bayi IVF pertama lahir pada 1991. Hingga kini, ratusan bahkan anak telah lahir melalui program tersebut.

IVF di Telogorejo ini sudah 35 tahun lebih. Kami ingin masyarakat tahu, tidak perlu jauh-jauh ke luar kota atau luar negeri, karena layanan IVF yang berpengalaman ada di Semarang. Menurutnya, kegiatan gathering digelar sebagai bentuk ucapan syukur sekaligus sarana berbagi pengalaman antarorang tua, serta motivasi bagi pasangan yang masih berjuang mendapatkan keturunan.

Diana menambahkan, keunggulan RS SMC Telogorejo terletak pada kelengkapan dokter spesialis infertilitas, fasilitas medis yang canggih, serta skema layanan yang bertahap dan terjangkau. Saat ini program bayi tabung bisa dimulai dari Rp37 jutaan, dengan pemeriksaan awal sejak Rp1,1 juta. Tidak langsung bayi tabung, semua melalui tahapan sesuai kondisi pasien.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version