Tren Perang di Timur Tengah yang Mengancam
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan semakin dekat dengan potensi perang besar di kawasan Timur Tengah, khususnya terhadap Iran. Menurut laporan media AS, Axios, serangan militer yang akan dilakukan AS bersama Israel ke Iran disebut sebagai operasi besar-besaran yang akan berlangsung selama berminggu-minggu.
Serangan ini diperkirakan merupakan kampanye gabungan antara AS dan Israel yang cakupannya lebih luas dibandingkan perang 12 hari yang dipimpin Israel pada Juni 2025. Pada saat itu, AS hanya ikut secara terbatas dalam menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran.
Perang seperti ini akan memiliki dampak besar terhadap seluruh kawasan dan juga implikasi signifikan terhadap sisa masa kepemimpinan Trump. Dengan fokus pemerintah dan masyarakat yang teralihkan, tidak ada banyak perdebatan publik di AS mengenai intervensi militer di Timur Tengah.
Trump sebelumnya nyaris menyerang Iran pada awal Januari 2026 akibat unjuk rasa berdarah yang mengguncang negara tersebut. Namun, ketika peluang tersebut berlalu, pemerintah AS beralih ke pendekatan dua jalur: perundingan nuklir yang dibarengi dengan peningkatan kekuatan militer secara besar-besaran.
Dengan menunda dan menerapkan begitu banyak kekuatan, Trump telah meningkatkan ekspektasi mengenai seperti apa operasi yang akan dilakukan jika kesepakatan tidak dapat dicapai.
Persiapan Militer yang Signifikan
Penasihat Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi selama tiga jam di Jenewa pada Selasa. Meskipun kedua belah pihak mengatakan perundingan tersebut “menghasilkan kemajuan,” kesenjangan yang ada masih besar dan para pejabat AS tidak optimis untuk menyelesaikannya.

Peta pergerakan armada Angkatan Laut AS, USS Abraham Lincoln dari Laut Cina Selatan menuju Laut Arab sepanjang Januari 2026. – (X)
Wakil Presiden Vance mengatakan kepada Fox News bahwa perundingan itu “berjalan dengan baik” dalam beberapa hal. Namun “di sisi lain sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa batasan yang belum mau diakui dan diselesaikan oleh Iran.”
Vance menjelaskan bahwa meskipun Trump menginginkan kesepakatan, dia dapat menentukan bahwa diplomasi telah “mencapai tujuan alaminya.”
Sejauh ini, armada Trump di Timur Tengah telah berkembang hingga mencakup dua kapal induk, puluhan kapal perang, ratusan jet tempur, dan beberapa sistem pertahanan udara. Beberapa dari senjata itu masih dalam perjalanan.
Lebih dari 150 penerbangan kargo militer AS telah memindahkan sistem persenjataan dan amunisi ke Timur Tengah. Hanya dalam 24 jam terakhir, 50 jet tempur lainnya yakni F-35, F-22 dan F-16 telah menuju ke wilayah tersebut.
Axios mengalisis, peningkatan kekuatan militer dan retorika Trump membuatnya sulit untuk mundur tanpa konsesi besar dari Iran mengenai program nuklirnya. Ini bukan sifat Trump, dan para penasihatnya tidak memandang pengerahan semua perangkat keras tersebut sebagai sebuah gertakan.
Persiapan Perang oleh Israel
Pemerintah Israel – yang mendorong skenario maksimalis yang menargetkan perubahan rezim serta program nuklir dan rudal Iran – sedang mempersiapkan skenario perang dalam beberapa hari, menurut dua pejabat Israel.
Beberapa sumber di AS memberi tahu Axios bahwa AS mungkin memerlukan lebih banyak waktu. Senator Lindsey Graham mengatakan serangan masih mungkin terjadi dalam beberapa minggu lagi. Namun ada pula yang mengatakan jangka waktunya mungkin lebih pendek.
“Bos sudah muak. Beberapa orang di sekitarnya memperingatkan dia agar tidak berperang dengan Iran, tapi saya pikir ada 90 persen kemungkinan kita melihat tindakan kinetik dalam beberapa minggu ke depan,” kata salah satu penasihat Trump.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi di Muscat, Oman, 6 Februari 2026. – (Kemenlu Iran/WANA via Reuters)
Kesiapan Iran dan Rusia
Para pejabat AS mengatakan setelah perundingan hari Selasa bahwa Iran perlu memberikan proposal terperinci dalam dua minggu.
Pada 19 Juni 2025 lalu, Gedung Putih menetapkan waktu dua minggu bagi Trump untuk memutuskan antara perundingan lebih lanjut atau serangan. Tiga hari kemudian, dia meluncurkan Operasi Midnight Hammer.
Sementara, Iran dan Rusia akan melakukan latihan angkatan laut di Laut Oman dan bagian utara Samudra Hindia pada Kamis (19/2/2026). Lokasi latihan itu dilaporkan sangat dekat dengan berlabuhnya kapal induk AS USS Abraham Lincoln yang disiagakan untuk mengancam Iran.
Kabar latihan itu disampaikan kantor berita Iran Fars, beberapa hari setelah Garda Revolusi melakukan latihan militer di Selat Hormuz.
“Menciptakan konvergensi dan koordinasi dalam langkah-langkah bersama untuk melawan aktivitas yang mengancam keamanan dan keselamatan maritim… serta memerangi terorisme maritim, adalah salah satu tujuan utama dari latihan bersama ini,” kata seorang komandan angkatan laut Iran, Hassan Maghsoodloo, menurut Fars.
Data pelacakan publik yang diterbitkan oleh Institut Angkatan Laut Amerika Serikat menunjukkan bahwa USS Lincoln mungkin berada di sekitar lokasi latihan tersebut.

Kapal tempur militer Iran mengepung kapal induk tiruan selama latihan perang di Selat Hormuz, selatan Iran, 28 Juli 2020. – ( EPA-EFE)
Peringatan dari Ayatollah Khamenei
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei pada hari Selasa memperingatkan bahwa negaranya memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang AS. “Kapal perang tentu merupakan senjata yang berbahaya, namun yang lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu menenggelamkannya,” ujarnya.





