Paskah sering dikaitkan dengan simbol kelinci dan telur berwarna-warni. Namun, pernahkah Anda bertanya bagaimana hewan imut ini menjadi bagian dari tradisi Paskah? Perayaan Paskah akan segera tiba, dan pada tahun 2026, Hari Paskah jatuh pada hari Minggu, tanggal 5 April 2026. Paskah adalah hari raya bagi umat Kristen yang merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.
Di hari Paskah, dekorasi seperti telur berwarna-warni dan kelinci sering ditemukan. Pertanyaannya adalah, bagaimana asal usul kelinci Paskah menjadi simbol yang ikonik hingga saat ini?
Menurut Ulrich Lehner, profesor teologi di Universitas Notre Dame, simbol kelinci sudah ada sebelum agama Kristen. Meskipun tidak ada sumber pasti mengenai simbolisme ini, awalnya berasal dari tradisi pagan, yaitu kelinci sebagai lambang kesuburan. Tradisi ini kemudian masuk ke Amerika Serikat melalui imigran Jerman pada akhir abad ke-18.
Lehner menjelaskan bahwa kelinci mewakili makna Paskah. Kelinci merupakan lambang kesuburan, dan kesuburan berarti kehidupan baru. Dalam agama Kristen, kehidupan baru juga menjadi inti dari perayaan Paskah. Simbol ini dianggap baik dan imajinatif dalam ingatan orang-orang.
Selain itu, terdapat sebuah cerita rakyat tentang Oschter Haws, yang diperkenalkan oleh imigran Jerman di Pennsylvania, Amerika Serikat. Oschter Haws adalah seekor kelinci ajaib yang bertelur. Konon, kelinci ini akan memberikan telur hias berwarna-warni kepada anak-anak yang berbuat baik. Telur-telur ini akan dibawa oleh kelinci pada hari Minggu Paskah.
Tradisi ini memunculkan kebiasaan anak-anak membuat “sarang” tempat kelinci meletakkan telur-telur berwarna-warni sebagai hadiah mereka saat Paskah tiba. Menariknya, di beberapa negara, hewan yang membawa telur sebagai simbol Paskah bukan hanya kelinci. Misalnya, di Swiss, simbol Paskah adalah burung cuckoo, sedangkan di beberapa daerah Jerman, simbol hewan Paskah adalah rubah, anak ayam, ayam jago, dan burung bangau.
Kelinci sebagai Lambang Kesuburan Musim Semi
Sejak lama, kelinci menjadi simbol kesuburan dan kehidupan baru karena kemampuannya berkembang biak dengan cepat, terutama dalam perayaan musim semi di Eropa. Dalam mitologi pagan Jerman, kelinci dikaitkan dengan dewi kesuburan Ostara (atau Eostre), yang perayaannya diyakini menjadi cikal bakal perayaan Paskah modern.
Karena merasa sedih tidak bisa bertelur seperti burung, kelinci diceritakan menghias dan membagikan telur sebagai hadiah. Dari sinilah kemungkinan besar munculnya sosok “Kelinci Paskah” yang membawa dan menyembunyikan telur.
Perpaduan Tradisi Paganisme dan Kekristenan
Bagaimana kelinci dan telur, yang berakar pada perayaan paganisme, bisa menjadi bagian dari perayaan Paskah Kristen? Para sejarawan percaya bahwa para misionaris Kristen awal secara bertahap mengadopsi dan menginterpretasikan kembali simbol-simbol paganisme untuk memudahkan konversi dan memberikan makna Kristen pada perayaan musim semi yang sudah populer di masyarakat.
Telur yang semula melambangkan kehidupan baru dalam konteks alam, kemudian diberi makna baru sebagai simbol kebangkitan Kristus. Sementara itu, kelinci yang melambangkan kesuburan dan datangnya musim semi, diasosiasikan dengan pembawa sukacita dan harapan yang menyertai kebangkitan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi Kelinci Paskah dan telur berwarna semakin populer dan menyebar ke berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara Barat. Tradisi ini juga telah menjadi bagian dari perayaan Paskah, terutama dalam kegiatan bersama keluarga dan jemaat.
Makna religius kebangkitan Kristus tetap menjadi yang utama, namun kehadiran kelinci dan telur menambah semarak dan kegembiraan, khususnya bagi anak-anak. Meskipun asal-usulnya berakar pada kepercayaan paganisme, kelinci dan telur dalam perayaan Paskah kini telah menjadi simbol yang diterima secara luas dan diintegrasikan ke dalam konteks Kristen.
Keduanya mengingatkan kita akan tema pembaharuan, kehidupan baru, dan harapan yang menjadi inti dari pesan Paskah.



