Kritik terhadap Penunjukan Kepala BGN dan Perdebatan yang Muncul

Beberapa waktu lalu, terjadi perdebatan menarik antara Juru Bicara Partai Gerindra, Astrio Feligent, dengan eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Perdebatan ini berlangsung dalam program Bola Liar Kompas TV yang akhirnya viral di media sosial. Video potongan tersebut menjadi sorotan karena mengangkat isu penting terkait penunjukan Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

Perdebatan dimulai ketika Tiyo Ardianto mengkritik keputusan pemerintahan Prabowo Subianto yang menunjuk Nanik S Deyang sebagai kepala BGN. Menurut Tiyo, rekam jejak Nanik menunjukkan bahwa promosi jabatan lebih didasarkan pada loyalitas politik daripada kompetensi. Ia menyoroti karier Nanik yang dimulai sebagai wartawan, kemudian menjadi tim sukses (timses) Prabowo pada Pilpres 2019, hingga kini menjabat sebagai Wakil Kepala BGN sebelum akhirnya dipercaya memimpin lembaga tersebut.

Tiyo menyatakan bahwa syarat utama menjadi pejabat adalah kompetensi dan moralitas. Namun, ia menilai bahwa di bawah pemerintahan Prabowo, kompetensi dan moralitas tidak menjadi prioritas utama. “Kompetensinya enggak ada, moralitasnya tidak ada, yang penting loyalitasnya,” ujar Tiyo dalam tayangan YouTube Kompas TV.

Ia juga mempertanyakan kompetensi Nanik untuk memimpin BGN. “Kalau kita ngomong kompetensi, kompetensinya (Nanik S Deyang) adalah seorang wartawan yang kebetulan jadi timses Prabowo, sempat punya masalah moral terkait masalah Ratna Sarumpaet yang bikin kebohongan publik, kemudian menjadi Wakil Kepala BGN, hari ini diklaim sebagai Kepala BGN,” kata Tiyo.

Tanggapan dari Astrio Feligent

Menanggapi kritik tersebut, Astrio Feligent mempertanyakan apakah profesi wartawan otomatis membuat seseorang dianggap tidak kompeten. “Jadi menurut Mas kalau wartawan itu tidak kompeten?” tanya Astrio.

Tiyo langsung menjawab, “Apa hubungannya wartawan dengan pengelolaan gizi anak-anak, Mas Trio? Silakan dijawab.”

Astrio kemudian menegaskan bahwa menjalankan program BGN tidak harus berasal dari latar belakang ahli gizi. “Mohon maaf dengan segala hormat, tidak perlu untuk menjalankan program BGN itu harus menjadi seorang ahli gizi. Yang diperlukan adalah…” ujar Astrio sebelum dipotong Tiyo.

Belum selesai memberikan penjelasan, Tiyo langsung menyela. “Inilah wajah dari Istana kita bahwa kompetensi memang tidak diperlukan. Terima kasih konfirmasinya Mas Trio,” kata Tiyo.

Astrio kemudian meluruskan pernyataan tersebut. “Tidak, bukan kompetensi tidak diperlukan, Mas. Tapi tidak perlu background-nya adalah seorang ahli gizi. Yang diperlukan adalah bagaimana menjalankan program yang tepat sasaran, memanage supply chain-nya, mengelola tata kelola program,” jawab Astrio.

Namun Tiyo tetap pada pendiriannya. “Apa yang saya sampaikan bahwa kompetensi dan morality tidak diperlukan. Yang diperlukan adalah loyalitas,” ujarnya.

Profil Astrio Feligent

Astrio Feligent dikenal memiliki latar belakang kuat di dunia debat sejak masa kuliah. Saat menempuh pendidikan di BINUS International, ia tergabung dalam BINUS International Pool of English Debaters (BIPEDS) dan menorehkan sejumlah prestasi dalam kompetisi debat tingkat nasional.

Kemampuan argumentasi dan komunikasi publik yang diasah melalui berbagai ajang debat tersebut menjadi bekal penting dalam kiprahnya di dunia komunikasi politik saat ini. Pada 2011, Astrio mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam ajang One Young World 2011, mengutip laman binus.ac.id.

One Young World adalah konferensi pemuda dunia yang digelar di Zurich, Swiss, pada 1-4 September 2011. Saat itu, Astrio berangkat bersama dua delegasi Indonesia lainnya yang merupakan pemenang debat Bahasa Inggris tingkat nasional, yakni Vincentius Dito Holanda dari Institut Teknologi Bandung dan Sheila Koesin dari Universitas Teknokrat Lampung.

Melalui akun media sosialnya kala itu, Astrio mengungkapkan antusiasmenya untuk tampil dalam forum internasional tersebut. “Tidak sabar untuk menyuarakan Indonesia di One Young World! Mari kita buktikan bahwa anak muda mampu menggerakan dunia,” tulis Astrio saat itu.

Konferensi One Young World 2011 menghadirkan sejumlah tokoh dunia sebagai penasihat, di antaranya peraih Nobel Perdamaian Desmond Tutu, aktivis Bob Geldof, peraih Nobel Muhammad Yunus, para senator, hingga CEO perusahaan global.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version