Pendekatan Pendidikan yang Beragam dan Inklusif
Di era modern saat ini, kesadaran akan pentingnya pendekatan pendidikan yang beragam semakin meningkat. Setiap anak memiliki karakter, potensi, serta cara belajar yang unik, sehingga membutuhkan dukungan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga perkembangan emosional dan sosial. Orang tua dan pendidik pun kini semakin menyadari bahwa lingkungan belajar yang tepat dapat menjadi kunci dalam membantu anak tumbuh percaya diri, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan di masa depan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pendidikan inklusif dan pendekatan yang lebih memahami cara belajar anak, Atelier of Minds, pelopor pusat student care dan pengembangan anak, resmi diluncurkan di Jakarta Selatan. Dirancang untuk mendukung anak dengan beragam kebutuhan belajar, Atelier of Minds menghadirkan ekosistem holistik agar setiap anak dapat berkembang secara optimal, baik secara akademik, sosial, maupun emosional.
Urgensi Kebutuhan Pendidikan Inklusif
Urgensi kebutuhan ini semakin nyata. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2021) memperkirakan terdapat 2,4 juta individu dengan autisme di Indonesia, dengan penambahan kasus baru sekitar 500 setiap tahunnya. Sementara itu, penelitian tahun 2024 di Surabaya menemukan bahwa 15,1 persen siswa sekolah dasar berada dalam kategori berisiko mengalami gejala ADHD.
Di sisi lain, data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) per Desember 2023 mencatat terdapat 40.164 sekolah yang memiliki siswa penyandang disabilitas, namun hanya 5.956 sekolah (14,83 persen) yang memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK). Kesenjangan ini menunjukkan masih terbatasnya dukungan pendidikan inklusif di Indonesia.
Pendekatan Berbasis Terapi
Berbeda dengan pusat pendidikan konvensional, Atelier of Minds mengintegrasikan pendekatan berbasis terapi ke dalam pengalaman belajar sehari-hari, sehingga menjembatani kebutuhan antara pendidikan dan dukungan perkembangan anak.
“Neurodiversitas adalah perbedaan, bukan kekurangan. Ketika kita mengubah cara pandang dari ‘memperbaiki anak’ menjadi ‘memahami anak’, kita membuka potensi terbaik mereka,” ujar Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist Agape Psychology, Singapura, yang juga menjadi mitra penasihat Atelier of Minds dan pembicara utama dalam peluncuran.
“Anak akan berkembang ketika lingkungan disesuaikan dengan cara kerja otaknya, bukan sebaliknya.”
Filosofi ini menjadi fondasi Atelier of Minds. Alih-alih hanya berfokus pada hasil akhir, pusat ini menekankan bagaimana anak belajar, mengelola emosi, serta berinteraksi dengan lingkungannya, pendekatan yang semakin diakui secara global sebagai kunci perkembangan jangka panjang.
Perspektif Orang Tua dan Keluarga
Bagi banyak keluarga, kebutuhan ini melampaui aspek akademik semata. “Memiliki anak neurodivergent mengubah seluruh perjalanan sebagai orang tua,” kata Wina Natalia, figur publik dan ibu dari empat anak, termasuk anak neurodivergent.
“Yang dibutuhkan keluarga bukan hanya terapi atau sekolah, tetapi ruang aman di mana anak dipahami dan diterima. Tempat seperti Atelier memberi harapan bagi orang tua.”
Peluncuran ini juga diisi dengan rangkaian workshop bagi orangtua, pendidik, dan sekolah, yang membahas strategi praktis seperti membantu regulasi emosi, membangun resiliensi, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi anak. Pendekatan ini berbasis ilmu saraf (neurosains), yang menekankan bahwa anak perlu merasa aman secara emosional sebelum dapat belajar secara optimal.
“Banyak orangtua merasa harus memilih antara dukungan akademik atau perkembangan anak,” ujar Ries Sansani, Lead Coach dan Terapis Okupasi Atelier of Minds.
“Di Atelier, kami orang tua tidak perlu memilih tersebut. Anak didukung secara menyeluruh, melalui struktur, permainan, dan interaksi bermakna yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka.”
Program Utama yang Disesuaikan dengan Tahap Perkembangan Anak
Atelier of Minds menghadirkan tiga program utama yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak:
- Atelier Minis (usia 2–5 tahun) – program berbasis bermain untuk anak usia dini
- Student Care (usia 6–12 tahun) – pendampingan setelah sekolah yang mengintegrasikan akademik, regulasi emosi, dan keterampilan sosial
- Enrichment Program – meliputi coding, art therapy, seni dan kerajinan, angklung, gitar, gym & movement
Melalui kombinasi pembelajaran sehari-hari dengan pendekatan berbasis terapi, Atelier berupaya menjembatani kesenjangan antara pendidikan, terapi, dan pengasuhan anak yang selama ini masih terpisah di Indonesia.
“Atelier of Minds dibangun dari keyakinan sederhana: setiap anak berhak mendapatkan lingkungan yang tepat untuk berkembang,” ujar Donny Eryastha, Co-Founder Atelier of Minds.
“Kami tidak hanya membangun sebuah tempat, tetapi juga mendorong gerakan menuju pendidikan yang lebih inklusif dan berempati di Indonesia.”
Dengan kehadirannya di Jakarta Selatan, Atelier of Minds diharapkan dapat menjadi model ruang belajar inklusif di masa depan, yang mempertemukan orangtua, pendidik, dan profesional untuk mendukung tumbuh kembang generasi berikutnya.
