Kerja Sama Antara Kemendikdasmen RI dan KWI untuk Perluasan Penggunaan Bahasa Indonesia
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia memiliki rencana strategis untuk memperluas penggunaan bahasa Indonesia di berbagai negara. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan menjalin kerja sama dengan para misionaris Indonesia yang berkarya di lebih dari 80 negara. Tujuan utamanya adalah menjadikan para misionaris sebagai duta bahasa Indonesia di negara tujuan misi mereka.
Pertemuan antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen RI dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menjadi awal dari inisiatif ini. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin menerima kedatangan Komisi Komunikasi Sosial KWI yang didampingi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI).
Tujuan pertemuan ini adalah terkait penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Takhta Suci. Hal ini diawali dengan penandatanganan MoU antara Komisi Komsos KWI dan Dikasteri Komunikasi Vatikan di Vatikan pada 25 Maret 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Hafidz Muksin didampingi oleh jajarannya seperti Ganjar Harimansyah dan Iwa Lukmana. Sementara itu, Komisi Komsos KWI diwakili oleh Rm Petrus Noegroho Agoeng beserta Abdi Susanto dan Stefani Irawati. Dari PWKI hadir AM Putut Prabantoro, Asni Ovier Dengen Paluin, Yophiandi Kurniawan, Algooth Putranto, dan Stanislaus Jumar Sudiyana.
Menurut Rm Noegroho Agoeng, pihaknya menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Namun, ia menekankan bahwa kerja sama tidak bisa dilakukan langsung dengan para misionaris, melainkan harus melibatkan keuskupan, tarekat, kongregasi, atau ordo yang ada di Indonesia.
“Ini akan menjadi potensi dan gerakan yang luar biasa. Pertemuan budaya termasuk bahasa antar dua negara terjadi di akar rumput,” ujarnya.
Harapan dari Badan Bahasa tersebut merupakan tanggapan atas penjelasan Putut Prabantoro terkait perjalanan MOU penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatican News. Menurut Putut, Indonesia adalah negara terbesar dalam mengirimkan para misionaris ke seluruh dunia. Penggunaan bahasa Indonesia secara resmi di Vatican News dapat membantu para misionaris menerima informasi penting dari Vatikan.
Melalui para misionaris, budaya dan bahasa Indonesia secara tidak langsung diperkenalkan kepada masyarakat di negara tujuan misi. “Saya juga berharap suatu saat, bahasa Indonesia akan digunakan secara resmi di banyak negara, termasuk di Timur Tengah,” ujarnya.
Hafidz Muksin menilai kerja sama antara Badan Bahasa, KWI, dan PWKI sangat penting. Konten Vatican News tidak hanya berupa berita tetapi juga dokumen-dokumen penting. “Bukan sekedar menerjemahkan menggunakan AI. Dan ini tidak sama dengan menerjemahkan isi Vatican News ke dalam bahasa Indonesia semata,” ujarnya.
Terkait dengan misionaris, Hafidz melihat bahwa mereka dapat menjadi sarana bagi pengembangan bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia dibawa para misionaris sebagai duta atau pengajar bahasa Indonesia di tempat misi mereka,” ujarnya.
Kerja sama antara Badan Bahasa, KWI, dan PWKI dapat dilaksanakan dalam beberapa bentuk, seperti penerjemahan dokumen-dokumen resmi Takhta Suci, informasi atau berita yang akan diterbitkan, ditayangkan, atau disiarkan, serta pembentukan giat diplomasi dalam bentuk penulisan di media, siaran radio, ataupun podcast.
“Bahkan kerja sama dapat melalui fasilitasi tes UKBI atau Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi para misionaris. Kerja sama dengan forum wartawan dapat berbentuk media diplomasi, advokasi, dan publikasi,” tambah Hafidz.
Inisiatif Samindo untuk Memperkuat Komunikasi Misionaris
Di tempat terpisah, Ketua PWKI Ovier Paluin menjelaskan bahwa gagasan Kepala Badan Bahasa untuk bekerja sama tersebut membutuhkan beberapa langkah persiapan. Termasuk institusi lintas ordo, kongregasi, atau keuskupan untuk merangkul seluruh misionaris yang berkarya di berbagai belahan dunia.
Sebagian besar para misionaris berasal dari provinsi Nusa Tenggara Timur. Paus Fransiskus pada Februari 2022 mengakui peran Indonesia terkait misionaris tersebut. Gagasan membentuk komunikasi bagi para misionaris seluruh dunia sudah berjalan. Komunitas misionaris yang dibentuk melalui grup WA yang dinamai Sahabat Misionaris Indonesia atau Samindo.
Samindo digagas oleh Rm Leo Mali dan Rm Paul Hale SSCC serta mas Putut Prabantoro. Menurut Yophiandi Kurniawan, pembentukan Samindo muncul saat pandemi covid. Untuk membantu para misionaris yang pulang ke Indonesia saat covid, dibentuklah WA Group SAMINDO pada 3 Juni 2021 untuk berkomunikasi. WA Group Samindo ini kemudian menjadi media komunikasi misionaris seluruh dunia hingga sekarang.
Pada Mei 2022, untuk pertama kali diadakan kegiatan misa bersama yang dipersembahkan bagi misionaris yang berkarya di seluruh dunia. Kegiatan Mei 2022 merupakan kerja sama antara PWKI, IRRIKA (Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati di Kota Abadi atau Roma), dan KKI (Keluarga Katolik Indonesia). Dubes RI Untuk Takhta Suci Amrih Jinangkung ikut membantu dan mendukung kegiatan tersebut.
Pada Juni 2022, Yophi melanjutkan, sebagai panitia penyelenggara kegiatan tersebut, PWKI ke Vatikan untuk memintakan berkat kepausan bagi para misionaris di seluruh dunia. Berkat itu diberikan melalui pembubuhan tandatangan Paus Fransiskus secara langsung pada piagam yang sudah dibawa dari Indonesia.
Rencana pembentukan Samindo secara resmi mendapat dukungan dari beberapa uskup NTT secara lisan termasuk Uskup Agung Ende, Mgr Budi Kleden SVD. Selain bertujuan membangun komunikasi antar misionaris seluruh dunia, gerakan ini juga untuk membantu para misionaris yang kembali ke Indonesia. Samindo melibatkan kaum awam untuk mendukung para misionaris yang berkarya di berbagai negara.




