Kebijakan Pendidikan Gratis di Kabupaten Dogiyai
Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah mengambil kebijakan untuk memperhatikan pendidikan tidak hanya pada tingkat SMA/SMK, tetapi juga mencakup jenjang SMP. Program ini diterapkan melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA), yang bertujuan untuk memastikan akses pendidikan yang lebih merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Perluasan Bantuan Pendidikan
Pada tahun 2025, bantuan diberikan hanya kepada SMA, SMK, SLB tingkat SMA, dan Asrama. Namun, pada tahun 2026, bantuan ini diperluas hingga jenjang SMP di delapan kabupaten di wilayah Papua Tengah. Salah satu daerah yang mendapat perhatian adalah Kabupaten Dogiyai. Wilayah ini memiliki luas wilayah sebesar 4.237,40 km² dengan 10 distrik dan 79 kampung. Untuk mencapai Kabupaten Dogiyai dari Nabire, ibu kota provinsi, diperlukan waktu sekitar 6 jam menggunakan kendaraan roda empat.
Di Kabupaten Dogiyai, sebanyak 13 sekolah tingkat SMP menerima dana BOSDA sebesar Rp 1.938.300.000. Selain itu, dua sekolah SMA menerima dana sebesar Rp 295.500.000, dua sekolah SMK sebesar Rp 477.450.000, satu SLB menerima dana sebesar Rp 53.000.000, dan satu asrama mendapatkan dana sebesar Rp 345.000.000. Total keseluruhan dana yang dialokasikan adalah Rp3.109.250.000 untuk 5.405 siswa di Dogiyai.
Implementasi Program di Sekolah-Sekolah
SMA Negeri 2 Dogiyai menerima alokasi dana BOSDA sebesar Rp 238.000.000. Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Dogiyai, Freddy Yobee, menyampaikan bahwa adanya dana tersebut sangat membantu dalam menjalankan operasional sekolah. Ia menuturkan bahwa sebelum program ini berjalan, pihak sekolah sering menerima pembayaran dari siswa dan orang tua untuk uang komite, uang pendaftaran, serta biaya lainnya.
Dengan adanya program pendidikan gratis, pihak sekolah dapat fokus pada pengelolaan dana BOSDA untuk belanja pakaian seragam dan kegiatan sekolah lainnya. Freddy juga menjelaskan bahwa jumlah siswa di SMA ini mencapai 400-an siswa, dengan kelas dibagi sesuai aturan kementerian, yaitu maksimal 36 anak per kelas.
Penggunaan Dana di SMP Negeri 1 Mapia
SMP Negeri 1 Mapia, yang berada di Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, menerima anggaran sebesar Rp 156.600.000. Kepala Sekolah Fransiska Tagi menyampaikan rasa syukur atas bantuan ini. Ia menjelaskan bahwa dana BOSDA digunakan untuk membantu siswa kurang mampu dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui les sains dan kegiatan ekstrakurikuler.
Fransiska juga menegaskan bahwa rencana penggunaan dana telah disusun secara matang dalam Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS). Prioritas utama adalah memberikan bantuan kepada siswa miskin, pengadaan seragam, alat tulis kantor, les tambahan, dan honorarium guru honorer.
Pengalaman Kepala Sekolah di SMP Negeri I Kamuu
Isaias Tigi, Kepala Sekolah SMP Negeri I Kamuu, akan pensiun pada tanggal 4 Oktober 2026. Ia menyampaikan bahwa pihak sekolah menerima dana BOSDA sebesar Rp 185.850.000. Ia mengungkapkan bahwa perubahan signifikan terjadi setelah otonomi daerah diberlakukan, termasuk peningkatan pembangunan dan distribusi dana yang lebih baik.
Meski begitu, ia mengkritik beberapa guru yang kurang fokus pada tugas utama karena lebih sibuk dengan urusan di luar mengajar. Ia berharap program pendidikan gratis dapat terus berlanjut dan ditingkatkan jumlah dana di masa depan.
Tanggapan dari Sekolah Yayasan
SMP YPPK St. Fransiskus Moanemani menerima alokasi dana BOSDA sebesar Rp 140.500.000. Kepala Sekolah Stevanus Iyai menyampaikan apresiasi atas kebijakan ini, meskipun ada kendala dalam pengelolaan dana. Ia berharap Pemerintah Provinsi dapat menambah alokasi dana untuk sekolah yayasan, mengingat beban operasional yang kompleks.
Penutup
Kebijakan program Pendidikan Gratis oleh Pemprov Papua Tengah melalui BOSDA diharapkan mampu menyentuh dan dipergunakan semaksimal mungkin untuk membantu para siswa. Dengan adanya bantuan ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan generasi emas Papua di masa depan.
