Perbedaan Reaksi Terhadap Pertunjukan Komedi ‘Mens Rea’
Reaksi terhadap pertunjukan komedi ‘Mens Rea’ oleh Pandji Pragiwaksono menunjukkan bahwa lelucon tidak memiliki makna tunggal. Dalam logika anomali, penggunaan umpatan atau sindiran dianggap sebagai bagian dari proses pembentukan humor yang wajar. Kritik bisa berubah menjadi serangan pribadi ketika tidak ada kesamaan pemahaman, dan ini dapat memicu reaksi sosial.
Pertunjukan stand-up comedy Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono memicu beragam reaksi di media sosial. Potongan-potongan videonya tersebar luas. Apabila dilihat menggunakan sentimen analisis, tampak bahwa media sosial cenderung pro dengan jokes Pandji yang kental dengan kritikan terhadap pemerintah. Namun, media massa daring berpendapat sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa satu materi humor bisa dipahami dengan cara yang sangat berbeda oleh orang-orang yang menontonnya.
Komedi tunggal yang mengandalkan makna implisit dalam menyampaikan ide memerlukan kemampuan seseorang untuk memahami konteks sehingga bisa menangkap maksud yang coba disampaikan oleh komika. Dalam konteks Mens Rea, masyarakat yang mendukung Pandji melihat bahwa lawakan Pandji berfokus pada kritik terhadap keburukan penguasa, sehingga mewakili keresahan mereka yang tertawa lepas saat menonton. Sebaliknya, mereka yang kurang setuju dengan candaan Pandji melihatnya sebagai body shaming maupun ujaran yang memuat unsur SARA.
Humor Tidak Bermakna Tunggal
Tujuan dari humor dalam stand-up comedy adalah membuat orang tertawa. Namun, humor juga merupakan salah satu cara manusia berkomunikasi. Ketika seorang komika melontarkan lelucon, ia sebenarnya sedang menyampaikan kritik, sindiran, kegelisahan, atau sekadar ajakan untuk melihat suatu hal dari sudut pandang berbeda.
Sebagai contoh, perkataan Pandji yang menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming sebagai orang “ngantuk” akan dinilai sebagai sesuatu yang negatif jika kita memahaminya secara literal. Tompi, misalnya, menjelaskan dalam kapasitasnya sebagai dokter bahwa kelopak mata Gibran mengalami Ptosis, sehingga ia kurang setuju jika hal tersebut dijadikan bahan lelucon. Namun, jika kita melihatnya dalam konteks kritik kinerja wakil presiden, apa yang diucapkan komika masih relevan. Sebab, komentar atau pidato Gibran memang kerap bersifat blunder. Misalnya menyebut asam folat menjadi asam sulfat atau memberikan jawaban yang tidak relevan.
Hal tersebut menjadi landasan perkataan sarkastis Panji untuk mengkritik kinerja Gibran sebagai orang yang mengantuk sekaligus menjadikannya bahan lelucon—tujuan utama pertunjukan komedi tunggal.
Datang untuk Mencari Anomali
Ketika seseorang memutuskan untuk menonton stand up comedy, ada semacam kontrak tak tertulis yang terjalin antara penonton dan komika, bahwa penonton ingin dibuat tertawa dan komika berusaha sebaik mungkin membuat audiens tergelak. Jika dalam percakapan sehari-hari, seseorang terbiasa atau perlu berbicara santun, hal tersebut kurang berlaku dalam ruang komedi tunggal.
Pasalnya, komedi tunggal menekankan adanya anomali—suatu penyimpangan dari standar yang ada, dan menjadi hal dasar ketika kita berbicara tentang humor. Ciri-ciri anomali tersebut mencakup sesuatu yang tidak terduga, berbeda, ataupun menyimpangi norma. Anomali-anomali itulah yang membuat komedi tunggal menjadi hidup dan lucu. Survei tahun 2011 menunjukkan bahwa audiens komedi tunggal justru mengharapkan anomali ketika mendatangi suatu pertunjukkan komedi tunggal.
Karena itu, batas kesantunan dalam komedi tunggal biasanya menjadi longgar. Komika sengaja membicarakan hal-hal yang umum dihindari dalam percakapan sehari-hari seperti umpatan, makian, sumpah serapah, dan hinaan untuk membuat lelucon.
Makna Ada di Benak Penonton
Meskipun terdapat kontrak tidak tertulis bahkan izin dari penontonnya, para komika tidak bisa membatasi beragam tafsiran yang muncul atas lelucon mereka. Terlebih, terdapat kontrol sosial dan kesepakatan bersama tentang apa yang boleh dibuat lelucon dan apa yang tidak.
Menyampaikan humor dengan bahasa-bahasa di luar kewajaran bukan tanpa resiko. Pada rentang tahun 1946 – 1981, lima komika di Amerika Serikat (AS) ditangkap oleh pihak berwenang karena ujaran yang waktu itu dianggap cabul. Dari perspektif sosiolinguistik, ujaran-ujaran yang mencakup topik-topik sensitif—seperti seksualitas dan gender, kematian dan penyakit, fungsi tubuh, kekerasan dan agresi, kelompok etnis dan ras minoritas, pelanggaran moral atau sosial, dan gangguan mental—dikenal dengan istilah humor transgresif.
Humor jenis ini biasanya menggunakan satire atau sarkasme yang dianggap provokatif oleh sebagian orang. Ketika komika gagal menyampaikan humor transgresif, ia akan dianggap melampaui batas kepantasan, tidak sensitif terhadap isu sosial, serta berpotensi menyinggung nilai-nilai moral atau identitas kelompok tertentu.
Artinya, karena humor transgresif bekerja dengan cara melampaui norma, keberhasilannya sangat bergantung pada ketepatan penyampaian, sensitivitas konteks, serta kesamaan kerangka penafsiran antara komika dan audiens. Ketika keselarasan ini gagal terbangun, humor tidak lagi dipahami sebagai kritik sosial, melainkan sebagai serangan personal, penghinaan, atau pelanggaran etika. Pada titik inilah humor kehilangan fungsi reflektifnya dan justru memicu resistensi sosial.
Fenomena Polemik Pertunjukan Mens Rea
Fenomena polemik pertunjukan Mens Rea menunjukkan bahwa humor, khususnya humor transgresif, tidak pernah berdiri sebagai hiburan semata. Ia selalu berkelindan dengan konteks sosial, politik, dan kultural yang melingkupinya. Perbedaan respons publik terhadap materi yang sama menegaskan bahwa humor bukan hanya soal kelucuan, melainkan juga soal bagaimana kata-kata ditafsirkan, nilai dibaca, dan batas sosial diperbincangkan.
Dalam ruang digital yang terbuka dan cepat menyebar, satu potongan lelucon dapat dengan mudah terlepas dari konteks awalnya sehingga audiens bisa memaknainya secara berbeda. Kasus Mens Rea memperlihatkan bahwa kegagalan humor transgresif bukan semata akibat niat pembuat lelucon, melainkan juga hasil dari tawar-menawar makna yang tidak selalu sejalan antara pembicara dan pendengar.
Dalam masyarakat yang semakin majemuk dan sensitif terhadap isu identitas, batas antara kritik, satire, dan ofensivitas menjadi semakin tipis. Karena itu, memahami humor sebagai praktik kebahasaan—yang sarat dengan konteks, dan relasi kuasa—menjadi penting. Tujuannya agar perdebatan tidak berhenti pada soal “lucu atau tidak”, melainkan bergerak pada pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana humor bekerja di ruang publik.





