Penyangkalan Terhadap Tuduhan Pembiayaan Asing

Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Muzammil Ihsan, menolak tegas tuduhan bahwa pihaknya menerima dana dari negara asing, khususnya Amerika Serikat (AS). Dalam laporan yang beredar, disebutkan bahwa dana tersebut diberikan untuk mendukung aksi demonstrasi besar pada akhir Agustus 2025. Ia menegaskan bahwa semua aktivitas BEM SI berasal dari komunitas mahasiswa dan masyarakat yang melihat ketidakadilan di dalam negeri.

“Kita menolak tegas pengklaiman sepihak oleh oknum-oknum yang menyatakan bahwasannya agenda-agenda BEM SI termasuk gerakan aksi yang dilakukan kami, terindikasi adanya pembiayaan dari George Soros atau negara asing,” ujar dia.

Operasional Berasal dari Bantuan Kolektif Mahasiswa

Muzammil memastikan bahwa aksi yang sering dilakukan BEM SI adalah murni gerakan mahasiswa dan masyarakat, atas ketidakadilan di Indonesia. Ia menyebut operasional gerakan yang dibuat berasal dari bantuan kolektif mahasiswa.

“Agenda dan aksi yang sering kami lakukan murni dari mahasiswa dan masyarakat melihat ketidakadilan di negeri kita. Giat yang selalu kami agendakan berasal dari bantuan kolektif kawan-kawan mahasiswa, sehingga operasional dari aliansi dapat terpenuhi,” tutur dia.

Tudingan Amerika Serikat, George Soros, NED, dan CIA Beri Dana untuk Memicu Kekacauan

Majalah Tempo Interaktif baru-baru ini memuat artikel mengenai sebuah operasi disinformasi terkoordinasi yang menargetkan demonstrasi di Indonesia pada akhir Agustus 2025, yang dikenal sebagai Foreign Information Manipulation Interference (FIMI). Dari operasi ini, terdapat dugaan campur tangan asing dalam demonstrasi tersebut.

Sejumlah aktor menuduh demonstrasi Agustus 2025 di Indonesia didanai Amerika Serikat, George Soros, National Endowment for Democracy (NED), dan CIA untuk memicu kekacauan atau “revolusi warna” (colour revolution) di Indonesia. Narasi ini muncul meskipun faktanya lembaga seperti USAID dan NED sudah menghentikan operasional atau pendanaannya sejak awal 2025.

Dalam operasi FIMI, tim kolaborasi lembaga di Indonesia mengidentifikasi 251 unggahan di berbagai media sosial dan situs. Sebagian besar menyebar di media sosial X. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya yaitu 122 unggahan, dilontarkan dalam bahasa asing. Mereka teridentifikasi sebagai aktor dari Rusia maupun pendukung Rusia dan China. Sisanya diunggah dalam Bahasa Indonesia.

Operasi ini diduga melibatkan jaringan media Rusia, seperti Sputnik, serta influencer asing pro-Rusia dan pro-China seperti Brian Barletic, S.L. Kanthan, Angelo Giuliano, dan Nury Vittachi. Narasi dari luar negeri ini kemudian diamplifikasi secara masif oleh aktor domestik pro-pemerintah, termasuk akun buzzer dan tokoh lokal, yakni mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) dan Rudi Valinka (@Kurawa).

Pengguna Narasi Revolusi Warna

Penggunaan narasi ‘revolusi warna’ bertujuan untuk mendelegitimasi protes masyarakat yang sebenarnya dipicu ketimpangan ekonomi dan frustrasi politik pasca-Pemilu 2024. Operasi ini juga disebut berfungsi untuk memvalidasi propaganda pemerintah dan menekan partisipasi publik dalam demokrasi melalui stigmatisasi.

Dalam laporan Tempo Interaktif tersebut juga disebutkan, operasi serupa oleh jaringan yang sama juga ditemukan di negara lain seperti Thailand, Sri Lanka, Nepal, dan Hong Kong, di mana protes pro-demokrasi selalu diberi label sebagai agenda terselubung Amerika Serikat.

Dalam tulisan tersebut juga disebutkan meskipun stigmatisasi ‘agen asing’ tidak selalu berujung pada kekerasan fisik, hal ini menciptakan ketakutan di masyarakat untuk ikut serta dalam aksi demonstrasi dan merusak kepercayaan terhadap media independen serta aktivis.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

© 2026 Info Malang Raya. All rights reserved.

Exit mobile version