Kekalahan Persebaya Surabaya dan Tekanan yang Menghimpit

Persebaya Surabaya kembali menghadapi tantangan berat setelah dipermalukan oleh Persijap Jepara dengan skor 3-1 di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (21/2). Kekalahan ini tidak hanya menimbulkan rasa kecewa, tetapi juga memicu pertanyaan besar terhadap strategi yang diterapkan oleh pelatih Bernardo Tavares. Dalam laga tersebut, tiga gol Persijap dicetak oleh Iker Guarrotxena pada menit ke-32 dan 90+12’, serta Alexis Gomez di menit ke-71. Sementara satu-satunya gol hiburan Persebaya Surabaya berasal dari titik putih yang dieksekusi oleh Bruno Moreira pada menit 90+2’.

Kondisi semakin memburuk ketika Rachmat Irianto harus keluar lapangan pada menit ke-86 akibat cedera. Kehilangan gelandang andalan ini jelas mengganggu keseimbangan lini tengah yang selama ini menjadi kekuatan utama tim.

Hasil buruk ini membuat Persebaya Surabaya gagal memangkas jarak dari Malut United di papan atas klasemen. Sebaliknya, Malut United justru menjauh setelah mencuri hasil imbang dramatis 2-2 di markas Semen Padang. Saat ini, Persebaya Surabaya tertahan di posisi kelima dengan 35 poin dari 22 pertandingan. Selisih enam angka dari Malut United di peringkat keempat membuat persaingan menuju zona atas makin ketat.

Ancaman lain datang dari Persita Tangerang yang memiliki poin identik, yaitu 35 angka. Jika Persita mampu mencuri minimal satu poin saat bertandang ke markas Persib Bandung, posisi Persebaya Surabaya bisa tergeser. Tekanan klasemen itu diperparah dengan derasnya kritik dari suporter setia, Bonek. Seusai laga di Jepara, kolom komentar media sosial Persebaya Surabaya langsung dibanjiri evaluasi tajam.

Sorotan paling keras mengarah kepada pelatih kepala, Bernardo Tavares. Meski sempat dipuji karena membawa tren unbeaten dalam empat laga awal, kini dia dituntut menunjukkan variasi taktik. Bonek mulai jengah dengan pola long ball yang dianggap terlalu dominan. Padahal, strategi itu sempat efektif dengan memaksimalkan dua winger cepat Persebaya Surabaya.

Beberapa komentar dari Bonek menyampaikan keraguan terhadap fleksibilitas taktik yang diterapkan. Salah satu komentar menyatakan: “Bener jare suporter PSM lak BT strategine cuma ngandalno longball digendong Pluim ambek Sayuri bersaudara.. Gk ngoros aku maido!!! Ayo!!” Komentar tersebut menyiratkan kekecewaan terhadap pola permainan yang dianggap monoton.

Selain itu, banyak suporter lain yang menyampaikan kritik teknis. Misalnya, “long ball enjoyaza,” atau “Umpan panjang seng gak jelas-jelas bisa dikurangi gak see???” Bahkan ada yang membandingkan dengan era sebelumnya, “Enak maenie zaman Aji Santoso biyen rek sentuhane AKEH.”

Sindiran cukup panjang dan menyentil karakter permainan juga muncul. “Kakean umpan lambung, akhir e jagak no pinalty, joll, karaktere pemain Surabaya kuwi ngeyel, tiki taka,,, ora teko teko bukooo,, goh pemasukan gwe cah cah mbek.” Kalimat-kalimat seperti ini menjadi alarm keras bagi tim pelatih.

Di tengah badai kritik, Bernardo Tavares memilih fokus menatap laga berikutnya. “Sekarang waktunya melihat ke depan, bersiap untuk laga berikutnya, dan kembali mencoba meraih kemenangan,” ujar Bernardo Tavares. Ucapan tersebut menjadi sinyal jika dia sadar tekanan sedang memuncak. Namun, kata-kata saja tak cukup tanpa pembuktian konkret di lapangan.

Laga melawan PSM Makassar di Stadion Gelora Bung Tomo akan jadi panggung ujian sesungguhnya. Publik Surabaya menanti sentuhan taktik berbeda, bukan sekadar umpan panjang yang mudah terbaca lawan. Persebaya Surabaya wajib menang bukan hanya demi tiga poin, tetapi juga demi memulihkan kepercayaan diri tim.

Secara mental, para pemain harus menunjukkan respons cepat setelah kekalahan telak di Jepara. Bermain di kandang sendiri memberi keuntungan moral yang tak boleh disia-siakan. Tanpa Rachmat Irianto, Bernardo Tavares dituntut menemukan solusi alternatif di lini tengah. Kreativitas dan keberanian bereksperimen akan jadi kunci untuk membungkam keraguan.

Bagi Bonek, pertandingan ini lebih dari sekadar laga pekan ke-23. Ini tentang harga diri, identitas permainan, dan pembuktian jika Persebaya Surabaya tak kehabisan ide. Jika mampu meraih kemenangan dengan variasi taktik yang lebih cair, Bernardo Tavares akan menjawab kritik dengan elegan. Sebaliknya, hasil negatif berpotensi memperbesar gelombang tekanan yang sudah terlanjur menguat.

Semua mata kini tertuju ke Gelora Bung Tomo. Pembuktian Bernardo Tavares tak miskin taktik dimulai dari sana, saat Persebaya Surabaya wajib menaklukkan PSM Makassar demi menjaga mimpi tetap hidup.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version