Pemkab Mojokerto Jamin Biaya Pengobatan Korban Keracunan Massal MBG
Pemerintah Kabupaten Mojokerto telah menjamin seluruh biaya pengobatan dan perawatan bagi korban keracunan massal yang terjadi akibat mengonsumsi menu soto ayam dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 261 siswa, santri, dan wali murid mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan tersebut. Para korban kini sedang menjalani perawatan di beberapa puskesmas dan rumah sakit.
Sekretaris Daerah (Sekdakab) Mojokerto, Teguh Gunarko, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) serta pengelola SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk menanggung seluruh biaya pengobatan dan perawatan korban. Menurutnya, semua biaya akan ditanggung oleh BGN tanpa membebankan biaya apapun kepada masyarakat.
“Terkait biaya (RS/ Puskesmas) kemarin kami sudah sepakat dengan BGN yang semuanya akan ditanggung BGN dan masyarakat (terdampak) gratis tidak mengeluarkan serupiah pun. Termasuk rumah sakit, semuanya ditanggung negara,” ujar Teguh saat diwawancarai di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Minggu (11/1/2026).
Pengalaman Wali Murid yang Trauma
Kiti Fatmalasari (29), salah satu wali murid, menceritakan pengalaman putrinya yang mengalami keracunan. Anaknya bernama Putri Candra Kirana (13), kelas 7 SMP IT Al Hidayah, kini masih terbaring lemah di ruangan perawatan Puskesmas Kutorejo, Minggu (1/11/2026).
Putri merupakan siswi sekolah reguler yang tidak mondok di tempat tersebut, dan mengalami gejala keracunan seperti diare selama dua hari. “Anak saya sudah mengalami gejala, Jumat (9/1) malam, seperti diare dan besoknya badannya panas dan sore sudah gemetar dari rumah langsung saya bawa ke sini (Puskesmas),” ujar Kiti saat dijumpai di Puskesmas Kutorejo.
Wanita asal Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo ini mengungkapkan, kondisi putrinya kini telah berangsur membaik dalam penanganan intensif oleh dokter puskesmas. “Diare sudah tidak, cuma perutnya masih sakit dan kalau minum obat masih terasa mual mau muntah. Badannya sudah tidak panas dan mau makan,” jelasnya.
Wali Murid Merasa Trauma dengan Program MBG
Kiti mengatakan, sebagai orangtua ia trauma dengan kejadian yang menimpa anak kesayangannya. Ia berharap pemerintah bisa melakukan percepatan untuk menyempurnakan program MBG agar tidak lagi terjadi kasus yang merugikan siswa maupun wali murid.
Program MBG bagus jika dijalankan sesuai aturan ketat, dengan memprioritaskan bahan baku dan makanan serta higienis dalam pengolahannya. “Kalau saya kan jujur saja trauma sedikit, kalau bisa ya (MBG) untuk anak-anak lebih diperhatikan lagi yang higienis,” terangnya.
Ia mengaku, setelah peristiwa ini akan lebih ketat lagi dalam mengawasi makanan yang dikonsumsi anaknya terutama di sekolahan. Ia berencana akan membawakan bekal makanan untuk anaknya. “Tetap saya bekali makanan kalau dapat MBG dibawa pulang saja,” tandasnya.
Menurut Kiti, anaknya sudah sering menikmati makanan dari menu program MBG yang sudah berjalan sekitar 3-4 bulan. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi BGN khususnya pengelola SPPG, agar lebih berhati-hati dalam mengolah dan menyajikan makanan untuk anak-anak sekolah. “Putri saya bilang itu makan Soto ayam (MBG) terus pulang bawa kacang sama roti pia,” bebernya.
Ia menambahkan, seluruh biaya perawatan putrinya di Puskesmas Kutorejo gratis sudah ditangani oleh pihak sekolah yang bersangkutan. “Untuk biaya (Puskesmas) sudah ditangani oleh pihak sekolah, Alhamdulillah gratis,” tukasnya.





