Ringkasan Berita:
- Ekonomi Iran semakin tertekan akibat perang, blokade AS, gangguan perdagangan, dan tekanan terhadap mata uang yang sudah bermasalah sejak sebelum konflik.
- Arus minyak masih tetap berjalan melalui Selat Hormuz, tetapi gangguan terhadap LNG dan pupuk mulai memberikan dampak ekonomi bagi negara-negara kawasan Teluk.
- Ketahanan ekonomi Teheran menjadi sorotan, sementara Iran menghadapi pilihan sulit antara mencari jalan perundingan atau meningkatkan eskalasi untuk menghadapi tekanan AS.
Infomalangraya.netTekanan terhadap perekonomian Iran semakin berat di tengah perang dan blokade ekonomi serta maritim yang dilakukan Amerika Serikat (AS).
Kondisi tersebut terjadi ketika ekonomi Iran sebenarnya telah menghadapi berbagai persoalan sebelum perang pecah.
Namun, setelah konflik militer berlangsung dan Washington memperketat tekanan terhadap perdagangan serta jalur pelayaran, beban ekonomi Teheran semakin bertambah.
Presiden Kamar Dagang Iran-China, Majidreza Hariri, mengatakan persoalan ekonomi merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi Iran.
Menurut Hariri, ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi telah muncul di kalangan pemerintah, masyarakat, hingga para pemimpin Iran sebelum perang dimulai.
“Bahkan sebelum perang dimulai, baik pemerintah, rakyat, maupun para pemimpin tidak puas dengan keadaan ekonomi,” kata Hariri dalam unggahannya di X, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Hariri menjelaskan, persoalan ekonomi yang sebelumnya telah membebani Iran kini diperparah oleh perang, serangan militer, serta tekanan ekonomi dan perdagangan.
Dalam unggahan lainnya, ia mengatakan sebagian besar tekanan terhadap mata uang Iran berkaitan dengan persoalan ekonomi yang telah berlangsung secara historis.
Konflik yang terjadi kemudian semakin memperburuk tekanan terhadap mata uang dan perekonomian negara tersebut.
Blokade AS Menambah Tekanan terhadap Teheran
Tekanan terhadap Iran semakin terasa ketika AS berupaya memperketat pembatasan terhadap jalur perdagangan dan pelayaran yang berkaitan dengan Teheran.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Washington untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Iran di tengah konflik militer yang semakin memanas.
Namun, dampak gangguan perdagangan tidak hanya dirasakan Iran. Ketegangan di kawasan Teluk juga berpotensi mengganggu pasokan energi dan berbagai komoditas ke pasar internasional.
Di tengah ancaman serangan drone dan rudal Iran, AS disebut masih mampu memfasilitasi lalu lintas sejumlah kapal tanker milik negara-negara Teluk.
Upaya tersebut memungkinkan sebagian besar minyak mentah dari negara-negara Teluk tetap mengalir ke pasar global melalui sejumlah jalur yang masih dapat digunakan.
Kondisi ini turut membantu mencegah harga minyak dunia mengalami lonjakan yang lebih tajam dan menembus angka 100 dollar AS per barrel secara berkelanjutan.
Blokade Iran Dinilai Lebih Mudah Ditembus
Efektivitas blokade AS dan kemampuan Iran mengganggu jalur pelayaran di kawasan Teluk juga menjadi perhatian para pengamat.
Samir Madani, salah satu pendiri TankerTrackers.com, mengatakan kemampuan Iran untuk menghentikan seluruh lalu lintas pelayaran dinilai lebih terbatas dibandingkan kemampuan AS dalam mengendalikan akses maritim.
“Blokade Iran lebih mudah ditembus daripada blokade AS. Pihak Iran tidak mampu menutup semuanya,” kata Madani bersama Vali Nasr, profesor studi Timur Tengah dari Universitas Johns Hopkins, dikutip dari The Wall Street Journal, Jumat (4/9/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan meskipun Iran berupaya menggunakan gangguan terhadap jalur pelayaran sebagai alat tekanan terhadap AS, Teheran belum sepenuhnya mampu menghentikan arus minyak dari negara-negara Teluk.
Data TankerTrackers.com mencatat rata-rata sekitar 5 juta barrel minyak mentah per hari dari negara-negara Teluk non-Iran masih dapat keluar melalui Selat Hormuz.
Selain itu, sekitar 2,5 juta barrel per hari disebut masih dapat dialirkan melalui pelabuhan di kawasan Teluk Oman, termasuk Fujairah.
Artinya, sebagian pasokan energi dari kawasan tersebut masih mampu mencapai pasar internasional meskipun ketegangan di Selat Hormuz meningkat.
Kondisi ini membuat pengaruh Teheran terhadap pasokan minyak global dinilai mulai berkurang.
Bagi Iran, tekanan ini menjadi semakin berat karena negara tersebut harus menghadapi persoalan ekonomi domestik bersamaan dengan tekanan eksternal akibat perang dan blokade.
Ketahanan Ekonomi Iran Mulai Dipertanyakan
Meski Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnasser Hemmati mengatakan Iran memiliki cadangan valuta asing yang cukup untuk menghadapi peningkatan sanksi dan tekanan ekonomi dari AS.
Namun, serangan militer dan gangguan perdagangan tetap menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa lama perekonomian Iran mampu bertahan jika konflik berlangsung dalam jangka panjang.
Menurut Vali Nasr, Teheran sebelumnya diperkirakan memiliki kemampuan bertahan selama sekitar lima bulan tanpa ekspor minyak.
Perkiraan tersebut menjadi semakin penting karena minyak merupakan salah satu sumber pendapatan utama Iran. Jika ekspor energi terganggu dalam waktu lama, ruang fiskal pemerintah untuk membiayai kebutuhan domestik dan operasional negara juga dapat semakin terbatas.
Tekanan tersebut juga berpotensi meningkatkan persoalan di dalam negeri, terutama apabila pendapatan ekspor, perdagangan, dan akses terhadap berbagai kebutuhan ekonomi terus mengalami gangguan.
Nasr mengatakan Iran kini menghadapi pilihan sulit dalam merespons tekanan yang semakin besar.
“Salah satu pilihan bagi mereka adalah menyerah. Pilihan lainnya adalah meningkatkan eskalasi dengan cara yang jauh lebih besar, untuk mencoba berjuang keluar dari situasi sulit ini,” jelas Nasr.
Dengan kondisi tersebut, blokade AS menjadi salah satu ujian terbesar bagi ketahanan ekonomi Teheran.
Jika perang dan gangguan perdagangan berlangsung lebih lama, tekanan terhadap pendapatan negara, nilai mata uang, perdagangan, serta kebutuhan masyarakat Iran berpotensi semakin besar.
Di sisi lain, eskalasi yang terlalu jauh juga dapat mengganggu pasar energi global dan meningkatkan risiko ekonomi bagi negara-negara di luar kawasan konflik.
(Infomalangraya.net/ Namira)





