
Dunia otomotif global sempat digemparkan oleh sebuah insiden serius yang melibatkan salah satu produk SUV andalan asal pabrikan China, yaitu lepasnya as roda belakang Chery Omoda 5 saat kendaraan sedang melaju di jalan raya Malaysia. Menanggapi situasi yang menjadi sorotan tajam di dunia maya dan media internasional tersebut, Chairman sekaligus Presiden Chery, Yin Tongyue, akhirnya secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan pihak berwenang Malaysia.
Kejadian yang memicu kekhawatiran luas ini terjadi di wilayah Johor Bahru pada awal Oktober 2026. Dalam insiden tersebut, sebuah unit Chery Omoda 5 mengalami kegagalan struktural pada bagian suspensi belakang, yang mengakibatkan rangkaian as roda beserta kedua roda belakangnya terlepas secara utuh dari bodi kendaraan saat sedang dikemudikan. Dokumentasi berupa foto dan video yang memperlihatkan kondisi mobil nahas tersebut sempat viral dan beredar luas di berbagai platform media sosial, memancing tanda tanya besar mengenai standar keselamatan dan kontrol kualitas dari pabrikan asal Negeri Tirai Bambu itu.
Sebagairespons cepat atas peristiwa membahayakan nyawa tersebut, otoritas transportasi Malaysia tidak tinggal diam. Departemen Transportasi Jalan Malaysia atau yang dikenal sebagai Road Transport Department (JPJ) langsung turun tangan untuk melakukan investigasi teknis secara mendalam. Langkah tegas diambil oleh JPJ dengan menangguhkan sementara persetujuan tipe kendaraan atau Vehicle Type Approval (VTA) untuk model Omoda 5 di negara tersebut. Akibat sanksi administratif ini, proses registrasi baru untuk varian kendaraan yang terdampak harus dihentikan sementara waktu hingga seluruh proses investigasi teknis dan evaluasi keselamatan dinyatakan selesai secara tuntas.
Tidak hanya menghentikan registrasi sementara, pihak JPJ juga memberikan instruksi khusus kepada manajemen Chery Malaysia. Produsen diwajibkan untuk mengidentifikasi secara akurat seluruh unit kendaraan yang berpotensi terdampak. Identifikasi ini dilakukan berdasarkan nomor komponen, kelompok produksi, nomor identifikasi kendaraan atau VIN (Vehicle Identification Number), serta spesifikasi teknis terkait lainnya. Pemeriksaan menyeluruh mencakup berbagai lini krusial, mulai dari proses produksi dan perakitan di pabrik, sistem pengendalian mutu, prosedur pengelasan, hingga detail ketahanan komponen as roda. Otoritas menegaskan bahwa penangguhan izin baru akan dicabut apabila pihak pabrikan mampu membuktikan bahwa langkah perbaikan dan pencegahan yang komprehensif telah diterapkan dengan baik.
Menindaklanjuti instruksi dan tekanan dari otoritas setempat, pihak Chery Malaysia langsung mengumumkan program penarikan kembali kendaraan atau recall secara massal. Program ini mencakup total 8.878 unit Omoda 5 untuk varian C dan H. Penting untuk dicatat bahwa angka tersebut merupakan cakupan keseluruhan unit yang masuk dalam daftar pemeriksaan wajib, dan bukan berarti seluruh ribuan unit tersebut pasti mengalami kerusakan pada bagian as roda. Seluruh pemilik kendaraan yang masuk dalam daftar program diimbau untuk segera mendatangi jaringan layanan resmi Chery guna melakukan pemeriksaan komponen secara cuma-cuma dan mendapatkan penggantian suku cadang jika ditemukan adanya potensi ketidaknormalan.
Kasus ini tentu menjadi ujian tersendiri bagi komitmen pabrikan. Saat menghadiri ajang World Intelligent Connected Vehicles Conference (WICV) di Beijing, China, Yin Tongyue menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia. Dalam kesempatan tersebut, Yin dengan tegas menyatakan bahwa ekspansi agresif yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan otomotif asal China ke kancah internasional harus berorientasi pada visi jangka panjang, alih-alih hanya berfokus pada pencarian keuntungan finansial sesaat. Ia juga menekankan betapa krusialnya arti kepatuhan terhadap regulasi lokal serta penerapan praktik bisnis yang sehat di setiap negara tempat mereka beroperasi.
Menariknya, permasalahan terkait komponen as roda belakang pada Omoda 5 bukanlah yang pertama kali terjadi di Malaysia. Dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 2024, Chery juga sempat menjalankan kampanye pemeriksaan serupa yang melibatkan sekitar 600 unit kendaraan akibat ditemukan adanya potensi masalah pada bagian yang sama. Pada saat itu, pihak pabrikan mengaitkan akar permasalahan dengan kendala teknis pada proses pengelasan di pihak pemasok komponen, termasuk adanya ketidaktepatan kalibrasi peralatan setelah penggantian ujung alat las. Kendati demikian, pihak manajemen menyatakan bahwa investigasi mendalam masih diperlukan untuk memastikan apakah insiden yang terjadi pada Oktober 2026 memiliki akar penyebab yang identik dengan kasus di masa lalu.
Perlu dicatat pula bahwa dinamika pasar di Malaysia terus berjalan. Sejak bulan September 2025, pihak Chery telah melakukan transisi dengan mengganti model Omoda 5 bermesin bensin dengan kehadiran model baru bernama Chery O5. Perbedaan mendasar terletak pada sektor kaki-kaki, di mana Chery O5 kini telah mengadopsi sistem suspensi belakang multi-link, sebuah peningkatan konstruksi yang berbeda jika dibandingkan dengan Omoda 5 generasi awal yang masih mengandalkan suspensi jenis torsion beam. Walaupun demikian, investigasi menyeluruh tetap difokuskan pada model-model yang terdampak langsung.
Peristiwa ini tentu memberikan pelajaran berharga sekaligus tantangan besar bagi Chery dalam upaya mempertahankan kepercayaan konsumen di pasar global, termasuk di Indonesia di mana model serupa juga dipasarkan secara luas dengan standar perakitan yang disesuaikan dengan regulasi regional masing-masing. Komitmen pimpinan tertinggi untuk meminta maaf secara terbuka menjadi sinyal positif bahwa aspek pengawasan kualitas, kecepatan penanganan keluhan konsumen, serta jaminan keselamatan berkendara akan selalu menjadi prioritas utama yang tidak boleh ditawar dalam industri otomotif modern.





