Tanggapan TNI Terkait Pembubaran Nobar Film Pesta Babi
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono, memberikan respons terhadap polemik film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang menjadi perbincangan publik. Donny menegaskan bahwa TNI tidak anti-kritik meskipun ada pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) film tersebut.
Sebelumnya, nobar film Pesta Babi di Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), NTB, dibubarkan oleh sejumlah aparat pada Selasa (12/5/2026) malam. Ketua Cabang HMI KSB, Indra Dwi Herfiansyah, mengungkapkan bahwa pembubaran dilakukan oleh aparat gabungan dari Intel Kodim 1628/KSB, Satpol PP, dan perangkat lingkungan Kelurahan Telaga Bertong, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Donny Pramono membantah anggapan bahwa TNI anti-kritik setelah adanya pembubaran kegiatan tersebut. Menurutnya, film merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin dalam kehidupan demokrasi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap produk informasi harus memperhatikan tanggung jawab moral agar tidak membangun kebencian atau persepsi yang menyimpang terhadap lembaga negara.
Profil Brigjen TNI Donny Pramono
Brigjen TNI Donny Pramono adalah perwira tinggi TNI AD lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1999. Dirinya mendapat amanah sebagai Kadispenad pada 2025, yang mengubah pangkatnya dari Kolonel (Inf) menjadi Brigjen TNI. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perwira Pembantu VI/Intelijen Teknologi Staf Intelijen Angkatan Darat (Paban VI/Inteltek Sintelad).
Dalam posisi barunya, Donny menggantikan Brigjen TNI Wahyu Yudhayana yang mendapat promosi menjadi Sesmilpres Kemensetneg. Sebelum menyandang pangkat brigadir jenderal, Donny dikenal memiliki pengalaman panjang di satuan teritorial hingga pasukan elite Kopassus. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Kodim (Dandim) Cilegon, Banten pada 2017-2018. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Kepala Seksi Operasi Korem 045/Garuda Jaya di Bangka Belitung pada 2021. Pada tahun yang sama, Donny juga sempat menjabat Dandim Mamuju.
Karier Donny kemudian berlanjut sebagai Komandan Grup 3 Kopassus pada 2022. Tahun 2024, ia dipercaya menduduki posisi Paban VI/Inteltek Sintelad sebelum akhirnya diangkat menjadi Kadispenad pada 2025.
Penjelasan KSAD Mengenai Pembubaran Film Pesta Babi
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak memberikan klarifikasi mengenai aparat TNI yang membubarkan acara nobar film Pesta Babi karya Dandhy Laksono. Maruli menekankan bahwa tidak ada instruksi langsung dari TNI untuk melakukan pembubaran. Dia menyebut, pemerintah daerah (pemda) yang membubarkan demi keamanan wilayah.
“Ya itu kan memang coba saja ditanya yang jelas ya, karena ada pembubaran kan dari pemerintah daerah untuk keamanan wilayah,” ujar Maruli, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026). “Itu kan tanggung jawabnya koordinator wilayah antara pejabat pemerintahan di sana menganggap ada risiko keributan. Ya kan, itu mereka, tidak ada instruksi langsung.”
Maruli menyebut, tingkat kebenaran daripada isi film Pesta Babi juga belum tentu benar. Dia pun menepis TNI dianggap antikritik karena ikut membubarkan nobar Pesta Babi. Maruli juga menyoroti sosok yang memproduksi film Pesta Babi pastilah orang berduit. “Bukan TNI-nya. Pemerintah daerahnya, pemerintah daerahnya memutuskan untuk itu, kan instruksinya tidak ada.”
Meski begitu, Maruli menekankan setiap orang berhak memiliki pendapat masing-masing, termasuk yang dituangkan dalam Pesta Babi. Ia juga menyebut TNI kerap hadir untuk membantu masyarakat Papua. “Kami meyakinkan program itu berjalan, tidak ada yang tersakiti. Kalau dilihat, mungkin teman-teman belum pernah lihat ke sana ya. Itu masyarakat di sana ada yang tidak punya air bersih, sekolahnya juga tidak. Ya, kami justru banyak hadir ke sana banyak membantu mereka.”
Konteks Pembubaran Nobar Film
Sebelumnya, nobar film Pesta Babi di Sekretariat HMI Cabang KSB, NTB, dibubarkan oleh sejumlah aparat pada Selasa (12/5/2026) malam. Indra Dwi Herfiansyah menjelaskan bahwa awalnya kegiatan akan digelar di salah satu sekolah swasta, namun terjadi penolakan karena diduga ada intervensi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kegiatan digelar di Sekretariat HMI Cabang Sumbawa Barat, tetapi dibubarkan aparat dan sejumlah unsur.
Ia menjelaskan, ketegangan bermula ketika aparat mempertanyakan dasar administratif kegiatan tersebut di tingkat lingkungan. Adu mulut pun tak terhindarkan antara alumni HMI, Mutaqim Fatawari dengan pihak intel keamanan yang hadir di lokasi. Pihak aparat bersikukuh kehadiran mereka adalah bentuk antisipasi terhadap potensi gesekan di masyarakat. Aparat mengeklaim, warga di Kelurahan Telaga Bertong dan sekitarnya resah dengan rencana pemutaran film tersebut.
Namun, Indra meragukan klaim itu karena tidak melihat adanya massa warga yang hadir memprotes. Hanya aparat yang hadir dalam kegiatan tersebut. “Jika di lapangan terbuka, boleh jadi akan timbul konflik karena terbuka untuk umum. Tetapi ini di dalam sekretariat, yang diundang hanya aktivis HMI. Kami organisasi resmi,” tegas dia.
