Universitas Budi Luhur (UBL) yang kini memasuki usia ke-47 tahun, terus menegaskan perannya dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berintegritas. Dalam rangka strategi pengembangan ke depan, UBL telah merancang langkah penting untuk mengarahkan seluruh program pendidikannya menuju internasionalisasi pada tahun 2026.
Salah satu bentuk strategi ini adalah peningkatan kerja sama di tingkat global, terutama di kawasan Asia. Dalam konteks internasional, universitas ini kini menggunakan nama Budi Luhur University atau disingkat BLU. Nama tersebut menjadi label resmi dalam berbagai aktivitas dan kerja sama dengan mitra luar negeri. Namun, dalam dokumen resmi dan formal, institusi tetap menggunakan nama lengkapnya, Universitas Budi Luhur.
Pada acara peresmian logo 47 tahun Universitas Budi Luhur, Rektor UBL, Prof. Agus Setyo Budi, menyampaikan bahwa semua program kampus akan diarahkan menuju internasionalisasi.
”Ke depan, semua program muaranya adalah internasionalisasi. Kegiatan seperti seminar dan konferensi akan mengarah ke sana,” ujar Prof. Agus.
Dia menambahkan bahwa mitra-mitra UBL dari luar negeri akan terlibat aktif dalam berbagai kolaborasi pendidikan. Beberapa negara yang telah menjalin kerja sama antara lain Jepang, Korea, Taiwan, dan Malaysia.
”Mitra luar negeri akan memanfaatkan kerja sama ini untuk berkolaborasi, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun kegiatan akademik lainnya,” jelas Agus Setyo Budi.
Dalam hal branding, Prof. Agus menjelaskan bahwa penggunaan nama BLU bertujuan untuk memudahkan mitra internasional memahami identitas UBL.
”Saat campaign di luar negeri, kami menggunakan nama BLU karena penamaan UBL sering membingungkan secara tata bahasa internasional. Namun untuk MoU dan dokumen resmi tetap menggunakan Universitas Budi Luhur,” terang Agus Setyo Budi.
Dalam kolaborasi penelitian internasional, UBL mendorong kerja sama sejak tahap awal, mulai dari penyusunan proposal hingga presentasi bersama. Kolaborasi ini juga melibatkan pertukaran mahasiswa dan dosen.
”Mahasiswa dan dosen kami akan masuk dalam tim mitra luar negeri, begitu pula sebaliknya. Nantinya diramu menjadi konferensi internasional dengan pendanaan bersama,” ungkap Prof. Agus.
Prof. Agus menegaskan bahwa kualitas UBL tidak diukur dari besarnya gedung atau luas kampus, melainkan dari kualitas program yang dijalankan.
”Orientasi kami adalah kegiatan. Saat mahasiswa lulus, yang ditanya bukan kampusnya sebesar apa, tapi kamu bisa apa. Dari situlah magang dan dunia kerja didekatkan,” papar Agus Setyo Budi.
Dia menekankan bahwa setiap program harus berdampak langsung, baik melalui publikasi, penelitian, keterlibatan mahasiswa, hingga kontribusi bagi masyarakat.
”Setiap event harus multievent dan memberi dampak. Inilah fokus kami membangun pendidikan berbasis pengetahuan dan kualitas,” tandas Agus Setyo Budi.
