Kreativitas dan Kepemimpinan di Tengah Perubahan
Dunia kreatif saat ini terus berkembang dengan dinamika yang pesat. Perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat menjadi pendorong utama bagi munculnya inovasi dan ide-ide baru. Kreativitas tidak lagi hanya dianggap sebagai bagian dari hiburan atau seni, tetapi juga menjadi alat penting dalam membangun koneksi, menyampaikan pesan, dan menciptakan dampak sosial yang lebih luas.
Di tengah perubahan tersebut, banyak muncul sosok-sosok muda dengan visi dan pendekatan baru yang mampu mengubah berbagai bidang. Industri kreatif di Indonesia sedang mengalami transformasi. Dulu, dunia ini identik dengan gaya formal dan korporatif, kini hadir generasi baru yang membawa pendekatan lebih kolaboratif, humanis, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat.
Salah satu tokoh yang menarik perhatian adalah Cahaya Manthovani. Sebagai Managing Director PT Navaswara Bhuwana Kencana, ia telah berhasil memimpin berbagai acara skala nasional yang tidak hanya besar dari sisi pelaksanaan, tetapi juga memiliki narasi kuat dan memberi dampak positif bagi publik.
“Semua berawal dari mengikuti alur hidup. Sebagai lulusan architectural design di Korea, negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah langkah awal saya meniti karier,” ujar Cahaya.
Ia menambahkan, “Sejak awal industri kreatif memang sudah ada dalam jiwa saya. Sementara dunia event hadir mengikuti perjalanan hidup. Dengan mengerjakan setiap pekerjaan penuh komitmen, Alhamdulillah banyak orang akhirnya percaya kepada saya.”
Event Besar yang Pernah Dipimpin Cahaya
Cahaya telah memimpin beberapa acara besar, seperti Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025 yang kembali mengangkat budaya tutur Nusantara, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026 sebagai bentuk apresiasi terhadap pembangunan desa, serta Inklusiland 2025 yang membawa isu inklusivitas ke ruang publik melalui pendekatan kreatif.
Menurut Cahaya, pendekatan yang digunakan dalam memimpin event ini adalah menggabungkan experience, storytelling, dan social impact dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Pendekatan tersebut membuat berbagai event garapan Navaswara terasa semakin dekat dengan audiens muda dan lebih mudah membangun engagement publik.
“Kalau ingin membuat sebuah event, kita harus benar-benar paham tujuan utamanya apa. Dampaknya seperti apa? Apakah hanya bermanfaat untuk diri sendiri atau bisa menginspirasi banyak orang?” tanyanya.
Kiprah di Bidang Sosial
Tidak hanya aktif di industri kreatif, kiprah Cahaya juga meluas ke bidang sosial. Melalui Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia aktif menjalankan berbagai program sosial bagi anak-anak disabilitas dan komunitas inklusi. Salah satu program yang mendapat perhatian luas adalah Program Makanan Bergizi Gratis-Swasta di Provinsi Banten. Program ini melibatkan 12 UMKM lokal dan telah menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat dari sekolah-sekolah khusus atau disabilitas.
Perempuan lulusan Kyungsung University, Korea Selatan tersebut juga pernah dipercaya menjadi CDM Asean Youth Paragames 2025 Dubai. Dalam ajang olahraga multi-event itu, kontingen Indonesia berhasil membawa pulang 59 medali, terdiri dari 23 emas, 23 perak, dan 13 perunggu.
Kolaborasi dan Kepemimpinan
Bagi Cahaya, pemberdayaan sosial harus dibangun lewat kolaborasi. “Untuk hal ini saya juga masih belajar, tetapi saya menyadari satu hal: kita hidup berdampingan dengan banyak individu lain. Peradaban tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” katanya.
Ia menambahkan, “Setiap event yang saya buat tidak cukup hanya dipromosikan lewat media sosial. Harus ada kolaborasi dengan berbagai sektor agar bisa menjangkau audiens baru.”
Tantangan dan Penghargaan
Di balik keberhasilannya memimpin berbagai event nasional, Cahaya mengaku ada tantangan besar yang sering dihadapi, terutama terkait pandangan orang terhadap usianya yang dinilai terlalu muda.
“Tantangan terbesar saya adalah first impression dari orang-orang. Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya, banyak yang mengira saya masih anak SMP, SMA, atau mahasiswa. Hampir tidak ada yang menyangka saya sudah berusia 26 tahun,” jelasnya.
Berkat kepemimpinan dan konsistensinya, Cahaya menerima sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Puspa Nawasena dalam Anugerah Puspa Bangsa 2025 dari Kompas TV serta The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.
Simbol Generasi Baru
Di tengah munculnya banyak figur muda di industri kreatif, Cahaya Manthovani hadir bukan hanya sebagai pemimpin perusahaan, tetapi juga sebagai simbol generasi baru yang percaya bahwa kreativitas harus berjalan beriringan dengan empati dan dampak sosial.
“Harus sering belajar, rajin melatih skill apa pun yang diminati, banyak membaca buku maupun berita, lalu benar-benar memahaminya,” katanya lagi.
Ia menutup, “Menjadi entrepreneur bukan sesuatu yang bisa dibangun secara instan. Semua butuh waktu dan ketekunan. Kuncinya adalah percaya diri dan konsisten terhadap perkembangan diri.”





