Warga Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, kini menikmati kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus bepergian jauh ke perkotaan. Pasalnya, desa mereka telah memiliki pusat perbelanjaan sendiri berkonsep toko ritel modern yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat. Keberadaan unit usaha ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia barang kebutuhan pokok, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi yang mendatangkan pendapatan signifikan bagi kas desa serta membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar.

Perjalanan dan Perkembangan BUMDes Ujub

Inisiatif ekonomi kerakyatan ini dimotori oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ujub, sebuah akronim dari Usaha Jadi Untung Bersama. Lembaga ini menaungi sebuah toko ritel bernama Sarana Usaha yang mulai dirintis sejak tahun 2015 dan resmi beroperasi secara aktif pada tahun 2017. Berkat pengelolaan yang profesional dan konsistensi dalam melayani masyarakat, toko ritel tersebut kini bertransformasi menjadi salah satu pilar ekonomi unggulan di wilayah Kabupaten Banyumas.

Prestasi gemilang pun diraih oleh BUMDes Ujub, di mana mereka berhasil masuk dalam jajaran enam besar ajang Anugerah BUMDesa yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermades) Kabupaten Banyumas. Pencapaian ini membuktikan bahwa potensi ekonomi pedesaan mampu digali dan dikembangkan secara optimal melalui unit usaha yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan riil masyarakat sehari-hari.

Denyut Nadi Perekonomian Lokal

Setiap harinya, aktivitas jual beli di toko ritel Sarana Usaha selalu dipadati oleh warga yang berbelanja. Dengan konsep swalayan berskala besar yang jarang ditemui di perkampungan sejenis, toko ini mampu mencatatkan omset harian yang mengesankan, berkisar antara Rp4 juta hingga Rp6 juta setiap harinya.

Tingginya antusiasme warga tergambar dari volume transaksi yang terjadi di toko tersebut. Salah seorang staf pengelola mengungkapkan bahwa jumlah transaksi pembelian bisa menyentuh angka sekitar 300 kali dalam kurun waktu satu hari saja. Angka ini mencerminkan tingginya tingkat perputaran roda ekonomi di tingkat desa yang dimanfaatkan secara maksimal oleh warga setempat.

Selain memberikan kemudahan berbelanja, BUMDes Ujub juga berkomitmen untuk memberdayakan sumber daya manusia lokal. Hal tersebut dibuktikan dengan mempekerjakan enam orang warga asli Desa Srowot secara penuh di toko ritel Sarana Usaha. Dengan demikian, kehadiran badan usaha milik desa ini memberikan dampak ganda: memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus menekan angka pengangguran di lingkungan desa.

Wadah Pemasaran Produk UMKM Desa

Tidak sekadar menjual kebutuhan pokok umum, Toko Sarana Usaha juga mendedikasikan sebagian ruangannya untuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Berbagai produk hasil karya warga Desa Srowot dipajang secara strategis di dalam area toko agar mudah dilihat, dikenal, dan dibeli oleh para konsumen yang datang.

Langkah ini diambil untuk memperluas jangkauan pasar produk lokal sehingga para pelaku usaha kecil tidak hanya mengandalkan penjualan mandiri yang terbatas. Melalui fasilitas etalase yang disediakan oleh pihak desa, produk-produk unggulan masyarakat setempat memiliki kesempatan lebih besar untuk bersaing dan dikenal oleh masyarakat luas. Melihat tingginya animo serta bertambahnya variasi barang dagangan, pihak pengelola kini tengah merancang rencana strategis untuk memperluas bangunan toko demi meningkatkan kualitas pelayanan dan menampung lebih banyak produk lokal di masa mendatang.

Transformasi Kandang Sapi Menjadi Sentra Peternakan Ayam Petelur

Selain sukses mengelola sektor perdagangan ritel, BUMDes Ujub terus melakukan ekspansi bisnis guna memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa. Pada awal bulan Januari 2026, mereka meluncurkan unit usaha baru di bidang peternakan ayam petelur dengan populasi awal mencapai 1.000 ekor ayam.

Yang menarik dari proyek ini adalah pemanfaatan aset desa yang sebelumnya terbengkalai, yakni sebuah bangunan bekas kandang sapi. Melalui sentuhan kreativitas dan manajemen yang tepat, bangunan lama tersebut berhasil disulap menjadi area peternakan modern yang produktif. Inisiatif ini sekaligus mencatatkan sejarah sebagai peternakan ayam petelur komersial pertama yang berdiri di Desa Srowot.

Program ketahanan pangan ini terbukti memberikan hasil yang sangat memuaskan bagi perekonomian desa. Setiap harinya, unit peternakan tersebut mampu menghasilkan sekitar 55 kilogram telur segar. Hasil panen ini tidak hanya diserap oleh warga setempat, tetapi juga dipasarkan ke berbagai warung kelontong di Desa Srowot serta memenuhi permintaan dari desa-desa tetangga.

Kehadiran peternakan BUMDes ini memberikan alternatif yang sangat membantu bagi masyarakat sekitar untuk memperoleh pasokan telur berkualitas dengan harga terjangkau, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada distributor dari luar daerah. Sebelum dipasarkan kepada konsumen, setiapbutir telur melalui proses penayangan dan pembersihan yang teliti oleh para pekerja agar tampil bersih dan higienis.

Pekerjaan di sektor peternakan ayam petelur ini menuntut tingkat ketelitian dan kedisiplinan yang tinggi agar operasional harian berjalan dengan lancar. Dalam praktiknya, pengelolaan peternakan ini dijalankan secara efektif oleh dua orang pekerja dengan pembagian tugas yang jelas. Satu orang tenaga kerja difokuskan untuk mengurus seluruh kebutuhan operasional peternakan, mulai dari pemberian pakan, pemeliharaan kesehatan ayam, hingga pengawasan lingkungan kandang. Sementara itu, pekerja lainnya bertanggung jawab penuh pada proses pembersihan, penyortiran, dan penyiapan telur sebelum dipasarkan.

Hasil produksi telur dari peternakan ini dipasarkan dengan harga yang cukup kompetitif, yakni berkisar antara Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram. Sasaran pasar untuk komoditas ini tergolong sangat dekat dan strategis, meliputi warung-warung kelontong di sekitar desa, serta masyarakat luas yang dapat membelinya secara langsung melalui toko ritel milik BUMDes.

Kontribusi Ekonomi dan Pengelolaan Aset Desa

Keberadaan unit usaha peternakan ini tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pasokan protein bagi masyarakat sekitar, tetapi juga sukses membuka peluang aktivitas ekonomi baru melalui optimalisasi pemanfaatan aset desa yang sebelumnya terbengkalai.

  • Inisiatif Pengembangan Usaha:
    • Modal awal pembangunan peternakan dialokasikan sebesar Rp208 juta yang bersumber penuh dari dana desa.
    • Pemanfaatan bangunan mangkrak milik desa berupa eks-kandang sapi direnovasi dan disulap menjadi sentra peternakan ayam produktif.
    • Langkah ini membuktikan bahwa optimalisasi aset yang tersedia mampu mendongkrak nilai ekonomi kawasan secara signifikan.

Dari segi pencapaian finansial, sektor peternakan ayam petelur ini memberikan kontribusi yang positif terhadap kas BUMDes Ujub. Berdasarkan catatan dan data pengelola, peternakan ini mampu mencatatkan laba kotor sekitar Rp280 juta, dengan perolehan keuntungan bersih yang menyentuh angka Rp36 juta.

Selain mendatangkan profit, manajemen BUMDes Ujub sangat berkomitmen terhadap aspek kesejahteraan sumber daya manusia. Seluruh karyawan yang mengabdikan diri di berbagai unit usaha BUMDes dilaporkan telah menerima hak finansial yang layak berupa gaji dengan nominal yang setara dengan Upah Minimum Regional (UMR).

Peran Toko Ritel Sarana Usaha

Di samping sektor peternakan, toko ritel Sarana Usaha menjadi pilar utama sekaligus mesin pencetak pendapatan terbesar bagi BUMDes Ujub. Apri Rudianto mengungkapkan bahwa omzet tahunan yang berhasil diraup dari operasional toko ritel ini mampu mencapai angka fantastis sekitar Rp2 miliar dalam periode satu tahun.

Melalui kombinasi kekuatan bisnis dari unit ritel dan peternakan ayam, BUMDes Ujub secara konsisten berupaya membangun ekosistem kegiatan ekonomi yang tidak sekadar berorientasi pada perolehan keuntungan material semata, melainkan benar-benar menghadirkan dampak positif yang dirasakan secara langsung oleh warga desa.

Dukungan Penuh Pemerintah Desa

Kepala Desa Srowot, Kasum (56), menegaskan bahwa pemerintah desa akan terus memberikan dukungan penuh terhadap seluruh proses pengembangan unit usaha yang berada di bawah naungan BUMDes Ujub. Bentuk dukungan konkret ini diwujudkan melalui alokasi anggaran khusus guna melengkapi berbagai fasilitas serta ketersediaan barang kebutuhan pokok sehari-hari. Tujuannya agar warga setempat tidak perlu menempuh perjalanan jauh ke luar wilayah demi mendapatkan barang-barang keperluan mereka.

Lebih lanjut, Kasum menambahkan bahwa kehadiran toko ritel milik desa ini dirancang untuk memberikan kemudahan akses belanja, sekaligus menjadi sumber pemasokan laba yang pada gilirannya akan memperkuat Pendapatan Asli Desa (PAD).

  • Rencana Ekspansi dan Strategi ke Depan:
    • Pemerintah desa memprogramkan dukungan untuk perluasan fisik bangunan toko ritel Sarana Usaha.
    • Ekspansi ini mendesak dilakukan mengingat variasi jenis dan jumlah kuantitas barang dagangan terus bertambah seiring tingginya minat belanja warga.
    • Perluasan area toko diproyeksikan mampu menyediakan ruang display yang jauh lebih representatif dan memadai, termasuk untuk menampung dan memasarkan produk-produk unggulan hasil karya UMKM lokal Desa Srowot.

Bagi jajaran pemerintah desa setempat, orientasi pengembangan BUMDes sama sekali bukan sekadar ajang mengejar angka omzet tinggi dan perolehan laba usaha semata. Lebih dari itu, roda bisnis ini diarahkan secara strategis untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan baru yang produktif, serta mengoptimalkan potensi kekayaan dan aset desa secara berkelanjutan.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version