● Bunga telang sering digunakan sebagai pewarna alami dalam makanan dan minuman herbal di Indonesia.
● Senyawa yang terkandung dalam bunga ini memiliki potensi untuk mengatasi infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik.
● Bakteri tersebut sulit dihancurkan karena memiliki dinding sel berlapis ganda dan kemampuan memompa antibiotik keluar dari tubuhnya.
Bunga telang (Clitoria ternatea) adalah tanaman yang umum ditemukan di pekarangan rumah, bahkan dibudidayakan sebagai bahan pewarna alami dalam makanan dan minuman herbal di Indonesia. Bunga dengan mahkota biru ini juga digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi mata merah, melancarkan pencernaan, hingga menetralkan racun.
Dalam lima tahun terakhir, tanaman ini menarik perhatian para ilmuwan karena senyawa aktifnya berpotensi sebagai antibakteri. Saya dan tim peneliti tertarik untuk mengeksplorasi lebih lanjut potensi antibakteri bunga telang, khususnya dalam melawan infeksi Pseudomonas aeruginosa, yaitu bakteri penyebab infeksi saluran napas maupun saluran kemih yang parah. Bakteri ini dikenal sangat sulit dikendalikan karena tahan terhadap berbagai jenis antibiotik.
Menelusuri Khasiat Bunga Telang
Bunga telang mengandung beberapa senyawa antibakteri seperti flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan steroid. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kombinasi senyawa-senyawa ini paling efektif saat dicampur dengan pelarut etanol. Zona hambat (daya perlawanan terhadap bakteri) yang dihasilkan sebesar 18,05 mm. Efektivitasnya mencapai 70% dalam menghambat P. aeruginosa.
Sebagai perbandingan, antibiotik ciprofloxacin menghasilkan zona hambat sebesar 25,6 mm. Ciprofloxacin biasanya digunakan untuk mengobati infeksi saluran napas dan saluran kemih akibat infeksi Pseudomonas.
Berpotensi Menghambat Bakteri P. aeruginosa
Meskipun belum bisa menyaingi antibiotik medis, analisis fitokimia menunjukkan bahwa kombinasi senyawa antibakteri bunga telang dengan etanol menjanjikan dalam melawan P. aeruginosa. Flavonoid dapat mengganggu proses pembentukan materi genetik, protein, dan membran sel bakteri. Akibatnya, bakteri menjadi lemah dan tidak dapat berkembang.
Senyawa ini juga merusak dinding dan membran sel bakteri sehingga kehilangan perlindungan dan sulit bertahan hidup. Tanin menghambat enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri. Alkaloid mengganggu proses reproduksi bakteri, sedangkan saponin dan steroid membuat membran sel bakteri bocor dan tidak stabil.
Kami menduga bahwa kombinasi cara kerja senyawa bunga telang ini membuat P. aeruginosa lebih sulit bertahan dibanding jika hanya menghadapi satu jenis senyawa saja.
Selama ini, P. aeruginosa sulit dibasmi karena memiliki dinding sel berlapis ganda, kemampuan membentuk biofilm, serta memompa antibiotik keluar dari tubuhnya. Akibatnya, meski kita mengonsumsi antibiotik, bakteri tetap bisa bertahan dan kembali menyerang. Hal ini menyebabkan waktu penyembuhan menjadi lebih lama, serta meningkatkan kebutuhan obat dan biaya perawatan pasien.
Penelitian Ini Sangat Penting
Penelitian ini sangat penting di tengah maraknya kasus infeksi saluran pernapasan yang sulit diobati di Indonesia, termasuk akibat P. aeruginosa. Namun, penelitian lanjutan pada manusia dengan skala yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan efektivitas kombinasi senyawa antibakteri bunga telang dengan etanol dalam menghambat P. aeruginosa.
Pengembangan Obat Berbasis Tanaman Lokal
Meskipun belum bisa menggantikan antibiotik modern, ekstrak bunga telang dapat menjadi dasar pengembangan antiseptik herbal, bahan pendamping terapi, serta fitofarmaka berbasis tanaman lokal. Temuan ini juga mendukung upaya pemanfaatan tanaman lokal untuk mengurangi ketergantungan industri farmasi nasional terhadap antibiotik impor.
Dengan ancaman resistansi antibiotik global yang semakin meningkat, riset sejenis ini memberikan harapan bahwa solusi bisa ditemukan dari kekayaan alam Indonesia sendiri.





