California semakin aktif dalam mempercepat agenda kendaraan listrik, meskipun menghadapi tekanan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pemerintah negara bagian ini telah mempercepat penyusunan aturan emisi baru serta memberikan insentif untuk mobil listrik. Langkah ini diambil meskipun kebijakan tersebut mendapat penolakan dari Gedung Putih.
Lauren Sanchez, Ketua Dewan Sumber Daya Udara California (CARB), menyampaikan bahwa pejabat negara bagian telah bertemu dengan produsen mobil besar asal Detroit. Pertemuan ini membahas pengembangan aturan gas rumah kaca untuk mobil penumpang dan truk.
Pengambilan kebijakan ini terjadi di tengah upaya Trump yang ingin menghapus standar emisi kendaraan melalui jalur pengadilan maupun Kongres AS. Selain itu, Trump juga pernah menghapus insentif pajak federal untuk pembelian kendaraan listrik baru.
Gubernur California, Gavin Newsom, akan mengumumkan program insentif kendaraan listrik senilai 200 juta dolar AS (Rp3,3 triliun) pekan depan. Program ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan kebijakan setelah insentif pajak federal dihapus dalam rancangan undang-undang anggaran pemerintahan Trump tahun lalu.
“Kami mempercepat seluruh pekerjaan terkait kendaraan tanpa emisi,” kata Sanchez kepada Reuters. Ia menegaskan bahwa transisi ini harus dikelola dengan hati-hati—melindungi lingkungan, masyarakat, dan pekerja—serta dilakukan melalui kolaborasi dengan industri.
General Motors (GM) mengonfirmasi pertemuannya dengan CARB di Detroit. GM menyatakan memiliki sejarah panjang dialog dengan regulator California. Perusahaan itu juga menegaskan pentingnya pasar California, yang disebut memiliki ekonomi terbesar keempat di dunia.
Ford Motor dan Stellantis belum memberikan tanggapan resmi atas pertemuan tersebut.
Selama puluhan tahun, California dikenal sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk di Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong negara bagian ini menjadi pelopor aturan emisi ketat, yang kemudian diikuti oleh sejumlah negara bagian lain.
Berdasarkan Undang-Undang Udara Bersih federal 1970, California memiliki kewenangan khusus untuk meminta pengecualian dari Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) guna menetapkan standar emisi yang lebih ketat dibanding aturan federal.
Namun, Kongres AS—dengan dukungan Gedung Putih—mencabut sejumlah pengecualian tersebut setelah produsen mobil besar melobi pemerintah. Aturan emisi knalpot federal pun dilemahkan, dan denda atas pelanggaran standar emisi dihentikan. GM menyebut kebijakan ini berpotensi menghemat biaya hingga 750 juta dolar AS.
Newsom, yang dikenal sebagai rival politik Trump dan disebut-sebut sebagai kandidat kuat Presiden AS dari Partai Demokrat pada 2028, pernah mengecam keras GM. Ia menuding CEO GM Mary Barra “menjual” kepentingan California demi pelonggaran regulasi.
Sanchez menilai serangan Trump terhadap kendaraan listrik dan kebijakan energi bersih justru menguntungkan China. Menurutnya, langkah tersebut melemahkan daya saing industri otomotif Amerika Serikat di panggung global.
“Kami melakukan segala cara untuk mendukung inovasi agar produsen mobil Amerika kembali kompetitif secara global,” ujar Sanchez. Ia berharap program insentif California dapat mendorong investasi, inovasi teknologi, dan persaingan industri.
Di sisi lain, pemerintahan Trump juga mencabut sejumlah aturan penting California, termasuk program Advanced Clean Cars II yang menargetkan penghapusan mobil bensin pada 2035. Aturan truk tanpa emisi dan standar emisi mesin diesel berat pun ikut dibatalkan.
Trump bahkan berupaya mencabut “temuan membahayakan” EPA, yang menjadi dasar hukum pengaturan emisi gas rumah kaca sebagai ancaman kesehatan manusia. Sanchez memastikan California siap menggugat kebijakan tersebut di pengadilan.
“Kami siap bertarung,” tegas Sanchez. “Dan pada saat yang sama, kami juga siap mencari jalan alternatif.”





