Sejarah dan Prinsip Zoho Corporation
Zoho Corporation, sebuah perusahaan teknologi asal India yang telah beroperasi selama 30 tahun, tetap mempertahankan statusnya sebagai perusahaan swasta. Perusahaan ini tidak tertarik untuk menjadi perusahaan publik atau menggaet investor untuk mendanai pengembangan bisnisnya.
Dikenal sebagai perusahaan teknologi global swasta, Zoho Corporation menawarkan berbagai perangkat lunak bisnis berbasis cloud yang mencakup CRM, email, keuangan, dan alat kolaborasi. Produk-produk Zoho digunakan oleh lebih dari 100 juta pengguna di seluruh dunia.
Shailesh Kumar Davey, Co-founder dan CEO Zoho Corporation, menjelaskan bahwa Zoho merupakan sebuah perusahaan yang dibiayai sendiri (bootstrap company). Perusahaan ini menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk investasi kembali dalam riset dan pengembangan produk.
“Banyak perusahaan mencari jalan pintas karena tekanan dari investor. Perusahaan privat lebih bebas,” ujarnya dalam ManageEngine Media Day 2026, di Chennai, India.
Ia memberikan contoh beberapa pesaing Zoho yang menerima pendanaan dari investor modal ventura. Setelah tiga tahun, investor tersebut ingin keluar dengan mengambil keuntungan. Perusahaan yang menerima pendanaan pun harus mencari cara untuk memenuhi keinginan investor, seperti menaikkan harga produk agar bisa mendapatkan penerimaan yang lebih besar.
“Kami selalu menjadi perusahaan swasta yang didanai sendiri dengan menggunakan sumber daya yang kami miliki. Jadi, ini adalah prinsip yang tidak dapat ditawar,” kata Shailesh kepada Infomalangraya.net.co.id, dalam sesi one on one interview, di Chennai.
Menurutnya, prinsip ini telah membantu Zoho berkembang selama 30 tahun terakhir, bahkan dalam masa-masa puncak maupun penurunan dalam siklus keuangan.
“Kami percaya ada kebijaksanaan dalam apa yang telah kami lakukan, dan semoga hal itu akan membantu kami melewati beberapa periode sulit yang mungkin akan datang di masa depan,” ujarnya.
Sejarah Perusahaan
Sejarah Zoho dimulai pada 1996 ketika Sridhar Vembu dan Tony Thomas mendirikan AdventNet Inc, sebuah perusahaan yang membuat perangkat lunak pengelola jaringan bernama WebNMS, di New Jersey, Amerika Serikat.
Perusahaan berganti nama menjadi Zoho Corporation pada 2009, sesuai dengan produknya yang dikenal luas waktu itu, yakni Zoho Office Suit. Saat ini, produk-produk Zoho telah dipasarkan di lebih dari 80 negara.
Pada tahun-tahun awal beroperasi, perusahaan menginvestasikan kembali 80% dari pendapatannya untuk riset dan pengembangan produk. Shailesh mengatakan, saat ini Zoho memiliki anggaran pemasaran 30% dari yang dialokasikan para pesaingnya. Namun, dana yang disisihkan untuk riset dan pengembangan produk dua kali lipat lebih besar daripada perusahaan-perusahaan pesaing yang rata-rata adalah perusahaan publik.
Zoho juga dikenal sebagai perusahaan yang mengusung slogan “Make in India”. Perusahaan ini ingin menjadikan India sebagai pusat produksi perangkat lunak bagi dunia.
Investasi pada Sumber Daya Manusia dan Produk
Dalam pernyataan yang dimuat di situs perusahaan, Sridhar Vembu, Co-founder dan Chief Scientist Zoho Corporation, menjelaskan bahwa mantra atau moto yang selalu diusungnya adalah Zoho selalu berinvestasi pada sumber daya manusia dan produk. Itu sebabnya sebagian besar investasi perusahaan dialokasikan untuk riset dan pengembangan.
“Keputusan kami untuk tidak menerima modal ventura, tidak melakukan IPO, dan tidak diakuisisi telah memberi kami kebebasan yang luar biasa—kebebasan untuk berinovasi, belajar dari kesalahan kami, dan menantang kebijaksanaan konvensional. Kami telah mencurahkan waktu dan kerja keras untuk membangun portofolio perangkat lunak kami dari nol, daripada mengakuisisi karya orang lain,” kata Sridhar.
