Perkembangan teknologi di era modern saat ini telah melampaui fungsi utamanya sebagai sekadar perangkat komunikasi. Di tangan generasi muda yang kreatif, gelombang digitalisasi dimanfaatkan secara masif untuk menyebarkan berbagai hal positif ke seluruh penjuru negeri. Salah satu bidang yang paling diuntungkan oleh transformasi digital ini adalah upaya pelestarian budaya lokal.
Jika pada masa lampau cerita dan tradisi leluhur hanya diwariskan secara lisan melalui kisah orang tua, kini warisan berharga tersebut dapat dinikmati dengan cara yang jauh lebih segar. Konten-konten berbasis audio visual dikemas sedemikian rupa agar relevan dengan selera zaman, sehingga mampu menarik minat masyarakat luas, terutama kalangan remaja dan anak muda.
Peran Generasi Muda dalam Menjaga Warisan Leluhur
Kesadaran akan pentingnya memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan kebudayaan lokal tercermin dari langkah nyata yang diambil oleh Ahmad Basuki. Pemuda berusia 22 tahun yang mengemban aman sebagai Nanang Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) ini memahami bahwa informasi mengenai cagar budaya harus disajikan dengan kemasan yang menarik agar tidak tergerus oleh zaman.
Salah satu ikon sejarah yang mendapat sentuhan kreativitas dari pemuda yang akrab disapa Ibas ini adalah Candi Agung. Situs cagar budaya yang terletak di Kelurahan Sungai Malang, Kabupaten HSU, tersebut diperkenalkan kembali ke ruang publik dengan visual yang memukau. Candi Agung sendiri merupakan situs bersejarah peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang telah ditemukan sejak tahun 1962 dan menyimpan memori kolektif masyarakat setempat.
Eksplorasi Visual dan Sinematografi Candi Agung
Dalam proses pengenalan kembali situs bersejarah ini, Ahmad Basuki tidak setengah-setengah. Ia memanfaatkan teknologi modern seperti pesawat tanpa awak atau drone untuk mengabadikan keindahan Candi Agung dari berbagai sudut pandang, termasuk panorama dari udara.
- Perekaman udara memperlihatkan bagaimana pepohonan yang rindang mengelilingi kompleks candi secara asri.
- Dokumentasi visual ini berfungsi sebagai arsip digital berharga yang akan merekam perkembangan wajah Candi Agung dari masa ke masa.
- Pengambilan gambar dirangkai melalui proses penyuntingan video bergaya sinematik yang dirancang khusus untuk memikat penonton agar lebih dekat mengenal aktivitas di situs bersejarah tersebut.
Tidak hanya berhenti pada keindahan visual, proses penyuntingan juga memperhatikan detail naratif. Mulai dari jejak langkah saat pertama kali memasuki gerbang situs, hingga rekaman prosesi ritual adat terekam secara berurutan. Ia juga melibatkan dialog langsung dengan juru kunci Candi Agung bernama Purnamawati, yang selama ini menjadi saksi hidup perjalanan dan kelangsungan aktivitas di kawasan bersejarah tersebut.
Mempublikasikan Tradisi Melalui Media Sosial
Hasil karya video yang sarat akan nilai estetika dan edukasi ini kemudian diunggah ke berbagai platform media sosial. Konten tersebut terhubung langsung dengan akun resmi pawadahan Nanang Galuh HSU, sebuah wadah bagi para pemuda-pemudi daerah yang memiliki visi dan misi seirama dalam melestarikan kebudayaan lokal.
Respon dari warganet pun sangat luar biasa. Ratusan tanda suka dan belasan ribu penayangan membanjiri unggahan tersebut, disertai dengan beragam komentar positif. Salah satu komentar yang mencuri perhatian adalah ungkapan “muda dan berbudaya” yang disematkan pada kolom komentar akun Instagram pawadahan Nanang Galuh HSU.
Langkah inovatif ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Purnamawati, selaku penjaga sekaligus pembaca doa selamat di Candi Agung. Apresiasi ini terasa semakin penting mengingat kawasan wisata religi dan budaya tersebut sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung akibat beberapa faktor eksternal, seperti kabut asap serta kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berdampak pada kunjungan wisatawan luar daerah yang biasa datang secara berkelompok menggunakan bus.
Mengenalkan Tradisi Mandi-Mandi atau Badudus
Melalui karya dokumentasinya, Ahmad Basuki berupaya mengingatkan kembali masyarakat Indonesia akan eksistensi situs Candi Agung yang kaya akan nilai historis. Salah satu tradisi unik yang diangkatnya adalah ritual badudus atau mandi-mandi yang menjadi bagian dari kebudayaan setempat.
Bagi Ibas, mengenali budaya daerah merupakan langkah krusial agar generasi muda memiliki identitas yang kuat. Sayangnya, masih banyak anak muda zaman sekarang yang belum mengenal akar budaya dari daerahnya sendiri. Oleh karena itu, ia menggali informasi mendalam mengenai tradisi badudus langsung dari penjaga situs untuk kemudian didokumentasikan dan disebarluaskan ke ruang publik.
Program kerja yang diusung oleh sang Nanang ini dikenal dengan tagline “Harum Kenanga”. Melalui program inilah ia memperkenalkan tradisi badudus candi secara lebih terperinci kepada masyarakat luas.
- Kain Putih: Ritual mandi menggunakan kain putih ini memiliki tujuan utama untuk mensucikan diri secara lahir dan batin.
- Kain Hitam: Prosesi mandi dengan kain berwarna hitam dipercaya memiliki tujuan khusus untuk menolak bala atau marabahaya.
- Kain Kuning: Sementara itu, penggunaan kain berwarna kuning dalam tradisi ini ditujukan sebagai pembuka aura bagi yang menjalaninya.
Seluruh prosesi ritual mandi dengan ketiga jenis kain tersebut melalui tahapan yang sama dan didampingi langsung oleh penjaga situs di area sembilan tiang. Bagi pengunjung perempuan, proses pemandian akan dibantu oleh penjaga situs perempuan, atau dapat pula dilakukan secara mandiri sesuai dengan niat masing-masing individu.
Ajakan untuk Generasi Muda
Eksplorasi mendalam terhadap situs Candi Agung dan tradisi di dalamnya disebarluaskan dengan harapan besar agar dapat menjadi sumber literasi dan informasi yang mudah diakses oleh generasi muda maupun masyarakat umum. Sebagai representatif pemuda daerah, Ahmad Basuki terus menyerukan ajakan kepada seluruh generasi penerus bangsa untuk tidak menutup mata terhadap kekayaan budaya di daerah masing-masing.
Semangat pelestarian budaya ini juga beriringan dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda. Di tengah keragaman suku, adat, dan budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke, para pemuda Indonesia diajak untuk terus bersatu dalam ikatan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, demi menjaga kehormatan serta identitas bangsa di kancah global.
