Wilayah sekitar Cisolok, Sukabumi, adalah gudang dari benda-benda purbakala di Jawa Timur. Terutama warisan dari masa Megalitikum.


Tidak banyak yang tahu bahwa daerah ini memiliki peninggalan purbakala yang sangat penting. Dalam artikel ini, kita akan mengunjungi beberapa situs penting yang berada di wilayah tersebut.

Situs Ciarca

Di kawasan Desa Cikakak, Kecamatan Cisolok, terdapat sebuah arca yang menarik perhatian. Arca ini duduk dengan tangan bersedekap di depan dada dan wajah yang muram. Lingkungannya juga gelap karena dibayangi oleh pepohonan yang lebat. Meskipun arca ini tidak memiliki hubungan dengan Polinesia, bentuknya cukup unik dan khas untuk Jawa Barat.

Di sebelah kanan area tersebut, masih ada satu arca lain yang lebih kecil. Kepala arca ini sudah hilang, dan kakinya bersila. Arca ini mudah dipindahkan karena landasannya sudah rusak. Di belakang arca-arca tersebut, terdapat dua batu tegak yang disebut sebagai menhir. Beberapa menhir masih berdiri tegak, bahkan satu di antaranya tingginya hampir dua meter.

Selain itu, ada juga sebuah batu berbentuk jambangan yang menarik perhatian. Batu ini terbuat dari jenis batu padas yang halus dan memiliki tekstur seperti kerikil.

Tradisi Pemujaan Arwah Nenek Moyang

Peninggalan-peninggalan ini termasuk dalam tradisi Megalitikum, yaitu sistem kepercayaan yang berkaitan dengan pemujaan kepada arwah nenek moyang. Mereka percaya bahwa orang yang meninggal tetap mempengaruhi kehidupan orang-orang yang masih hidup, terutama dalam hal kesuburan tanaman dan kesejahteraan masyarakat.

Status seorang pemimpin tidak berubah setelah dia meninggal. Dia tetap menjadi pemimpin, hanya saja kini berada di dunia lain. Dari sikap menghormati ini lahir konsepsi keagamaan, yaitu pemujaan terhadap arwah nenek moyang.

Monumen-monumen dari batu besar didirikan untuk memohon rahmat dari roh nenek moyang. Sistem kepercayaan ini kemudian dikenal sebagai tradisi Megalit atau Megalitikum.

Banungan Berundak

Di kampung Pangguyangan, terdapat sebuah bangunan berundak yang berdenah segi empat. Penduduk setempat menyebutnya “Keramat Gentar Bumi”. Konon, bangunan ini dahulu digunakan para wali penyebar agama Islam untuk berkumpul. Tempat ini dikeramatkan dan sering dikunjungi orang untuk meminta berbagai keperluan, baik itu jodoh, sembuh dari penyakit, maupun nomor kode buntut.

Bangunan induk dapat dicapai melalui jalan setapak yang terbagi dalam beberapa teras. Di sepanjang jalan, terdapat menhir-menhir yang berdiri di sisi kiri dan kanan. Bangunan induk sendiri terdiri atas tujuh teras, dengan jalan sempit selebar satu meter di sebelah barat yang merupakan jalur menuju ke atas bangunan.

Di atas undakan bangunan tersusun batu-batu kecil membentuk empat persegi panjang. Bagian ini menjadi pusat pemujaan. Jenis batuan yang digunakan adalah andesit, yang banyak ditemukan di daerah ini.

Tugugede

Sejauh enam kilometer di sebelah barat Pangguyangan, terdapat kompleks Megalit di kampung Tugugede. Kompleks ini terletak di lereng bukit yang disebut Gunung Batu Lawang. Nama Tugugede berasal dari sebuah menhir besar yang berdiri di sekitarnya.

Di sebelah selatan menhir raksasa ini, ditemukan unsur-unsur Megalit lainnya, seperti sebuah batu besar dengan sepuluh lubang pada permukaannya. Bentuknya mirip dengan alat mainan congklak atau dakon, namun dalam ukuran yang lebih besar. Diduga batu ini digunakan sebagai tempat meletakkan sesaji dalam upacara pemujaan nenek moyang.

Di Salakdatar, ditemui batu dakon serupa dengan tujuh lubang. Pahatannya sangat halus, yang menunjukkan penggunaan alat-alat maju, mungkin dari logam. Tradisi Megalit di Cisolok rupanya berasal dari masa yang lebih muda, ketika logam mulai digunakan.

Kompleks Menhir di Salakdatar

Di Salakdatar, terdapat kumpulan menhir yang tersusun seperti kuburan. Menhir adalah batu tegak yang kasar dan kadang-kadang tidak diolah sama sekali. Di tengah sawah, banyak ditemukan menhir yang tersebar. Selain itu, ada juga sebuah batu besar yang tampaknya tidak diolah manusia, namun berhubungan dengan tradisi pemujaan nenek moyang. Mungkin batu ini digunakan sebagai tempat pertemuan atau upacara-upacara.

Tantangan dalam Penelitian Arkeologi

Hampir semua permasalahan dalam arkeologi berkaitan dengan fungsi peninggalan purbakala. Fungsi ini tidak hanya bisa dilihat dari bentuk benda, tetapi juga harus dilihat dari konteks ruang dan waktu. Ini memerlukan ekskavasi (penggalian) untuk mengetahui lebih lanjut.

Penelitian arkeologis di Cisolok telah dimulai sedikit demi sedikit. Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (P4N) – yang sekarang menjadi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) – pada 1976 telah mengirim tim peneliti, meskipun masih terbatas pada deskripsi saja.

Peninggalan tradisi Megalit di sana tentu berhubungan dengan pemujaan arwah nenek moyang. Namun, bagaimanakah bentuk pemujaan itu sendiri, dan apa fungsi benda-benda itu sebenarnya? Ini menjadi tantangan bagi para ahli untuk terus meneliti daerah ini.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version