Pengalaman Pahit Seorang PMI di Libya
Meylani Madalombang, seorang pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Manado, kini terjebak di negara Libya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jarak antara Indonesia dan Libya mencapai 10.722 kilometer, namun bagi Meylani, jarak ini tidak cukup untuk menjauhkannya dari penderitaan. Ia kini terluka dan mengalami kesakitan akibat perlakuan yang tidak manusiawi dari majikan di sana.
Tribun Manado mengunjungi keluarga Meylani di Kelurahan Paal Empat Lingkungan 4, Kecamatan Tikala, kota Manado, provinsi Sulut, pada Jumat (23/1/2026) sore hari. Di sana, Tribun ditemui oleh Olivia, adik dari Meylani. Dalam perbincangan tersebut, Olivia menunjukkan pesan chat yang diterima dari Meylani melalui ponselnya.
Chat dalam bahasa Melayu Manado tersebut menyampaikan cerita penderitaan Meylani dengan jelas. Isinya antara lain:
- Qt dbking rupa robot ksyg Krja nd brnti
(saya dibikin seperti robot kasihan, kerja tidak berhenti). - Kong krja bkg cma 1 rumh
(kerja bukan hanya di satu rumah). - Dy pigi pdpe mm mntu dy bwa pqt suru krja leh
(dia pergi ke rumah mama mantunya, saya dibawa dan disuruh kerja di sana). - Pigi pdpe mm perumh krja leh ksyg
(pergi ke rumah ibunya, kerja lagi kasihan). - Qt nd kuat Tpe bdn” smua ini so saki Saki”
(saya tidak kuat, badanku sudah sakit-sakit). - Smpe dirumh jmm 12 mlm msih mo kse bersih dpe dapur
(sampai di rumah jam 12 malam, masih harus bersihkan dapur). - Bru mo nae k kmr msih di pangge” leh ksyg,
(baru mau naik di kamar, masih dipanggil lagi kasihan).
Menurut Olivia, sang kakak memang sering berkomunikasi dengannya melalui ponsel. Namun, proses komunikasi ini sangat sulit karena jaringan wifi sering dikunci. “Kakak selalu bercerita tentang penderitaan yang dialami dan berharap agar bisa segera keluar dari sana,” kata Olivia.
Olivia juga menyatakan bahwa keluarga sudah habis akal dalam upaya membawa Meylani pulang. Berbagai langkah telah dilakukan, tetapi selalu ada hambatan. “Harapan kami kini pada Pak Presiden Prabowo Subianto, Menteri serta pak Gub YSK,” ujarnya.
Kronologi Keberangkatan Meylani
Meylani awalnya ingin bekerja di luar negeri untuk menambah penghasilan. Awalnya, ia mengikuti jalur melalui sebuah perusahaan, tetapi kemudian datang seorang penyalur yang menawarkan cara lebih cepat. Saat pengurusan, Meylani ditawarkan paspor wisata. Ia heran, tetapi orang tersebut berkata bahwa itu hanya sementara.
Setiba di bandara, orang tersebut berkata bahwa Meylani akan diberangkatkan ke Dubai. Ia protes karena awalnya ditawarkan kerja di Turki, tetapi orang tersebut memaksa. “Kakak hanya berkata ya saja,” kata Olivia.
Dari Manado, Meylani menuju Makassar, lalu Jakarta. Di Jakarta, ada agen yang menjemputnya. “Kemudian kakak saya naik Oman Air,” ujar Olivia. Dua minggu lamanya, Meylani berada di Dubai. Namun, pekerjaan yang diberikan adalah masak-masak. Ia lalu dibawa ke Libya.
“Sedang kakak saya melamar di pembantu rumah tangga,” kata Olivia. Meylani mengeluh, tetapi malah ditampar agen. Ponselnya pun sempat diambil.
Di Libya, Meylani bekerja di Benghazi. Majikan pertama ternyata tidak baik. Hanya dua minggu bekerja, Meylani meninggalkan tempat itu. Ia lari ke cafe untuk mencari sinyal. Tiba-tiba, ia ingat ada pramugara yang memberinya nomor kontak saat di pesawat. Ia menghubungi si pramugara, dan Mohammad segera datang.
Meylani lalu dibawa ke saudara temannya. Di sana, ia diperlakukan baik, tetapi tidak bisa tinggal terus. Ia harus segera ke Tripoli, tempat KBRI Indonesia berada. Masalahnya, perjalanan dari Benghazi ke Tripoli membutuhkan surat. “Keluarga yang baik itu membawa kakak saya lewat bus dengan menyamar,” kata Olivia.
Tiba di KBRI, masalah belum selesai. Seorang staf di sana menyatakan Meylani harus membayar sejumlah uang ke agen. “Persoalannya kakak saya tak punya uang, semua sudah ia tinggalkan,” ujar Olivia. Meylani kemudian dicarikan majikan baru di Tripoli, tetapi situasi tidak jauh berbeda.
“Waktu kerja kakak sudah melebihi, jam tidurnya hanya sedikit, ia kerja dari pagi hingga malam sampai majikan pulang, ia dipaksa bekerja,” kata Olivia. Meylani benar-benar tersiksa. Punggung dan kakinya sakit akibat kerja berlebihan. Untuk bangun saja, dia kesulitan.
“Saya minta pulang saja ke majikan tapi tak diizinkan,” kata Meylani.





