Peran Dadang dalam Penangkapan Pelaku Kekerasan terhadap YTR
Kasus kekerasan terhadap perempuan masih menjadi isu yang sangat serius di Indonesia. Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa jumlah kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) sepanjang 2025 mencapai 376.529 kasus, meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadikan 2025 sebagai periode dengan jumlah pelaporan kasus tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Salah satu kasus yang menyita perhatian adalah dugaan penyiksaan dan penyekapan terhadap seorang perempuan berinisial YTR (29). Kasus ini memicu gelombang kecaman karena dianggap sebagai bentuk kekerasan yang berlangsung dalam waktu lama tanpa terungkap ke publik. Pelaku diduga merupakan orang terdekat korban, yaitu Taufik Hidayat (30), yang diketahui sebagai pasangan kekasih korban.
Setelah sempat menjadi buronan selama beberapa hari, keberadaan Taufik Hidayat akhirnya berhasil dilacak oleh aparat kepolisian. Jajaran Polda Jawa Barat kemudian menangkap Taufik Hidayat pada Selasa (23/6/2026) malam. Di balik keberhasilan penangkapan tersebut, sosok Dadang memiliki peran krusial dalam membantu proses pencarian pelaku.
Sosok Dadang dan Hubungannya dengan Taufik Hidayat
Dadang, yang diketahui sebagai mantan bos dari Taufik Hidayat, memberikan kontribusi besar dalam mengungkap keberadaan pelaku. Dalam wawancaranya, Dadang mengungkap bahwa ia dan Taufik Hidayat pernah bekerja bersama antara 2023 hingga 2024. Meskipun demikian, ia tidak tahu alur kehidupan Taufik setelah 2025.
Menurut Dadang, selama bekerja, Taufik Hidayat tidak menunjukkan sikap aneh atau mencolok. Ia disebut sebagai pekerja biasa yang menjalankan tugasnya sesuai instruksi. Namun, hubungan antara Taufik Hidayat dan YTR ternyata lebih dalam. Dadang membenarkan bahwa keduanya merupakan pasangan kekasih, bahkan korban sampai memilih untuk memasang tato di tangan dan dada sebagai tanda cinta.
Bujukan Dadang untuk Menyerahkan Diri
Penangkapan Taufik Hidayat tidak terjadi secara langsung melalui upaya pihak kepolisian saja. Dadang turut memainkan peran penting dalam membujuk pelaku agar mau menyerahkan diri. Dalam wawancaranya, Dadang menceritakan bahwa Taufik Hidayat menghubungi mantan bosnya melalui ponsel dan memohon perlindungan agar tidak ditangkap oleh polisi.
Dadang kemudian memberikan nasehat agar Taufik Hidayat rela menyerahkan diri ke pihak berwajib. Ia menegaskan bahwa tidak ada gunanya terus kabur karena identitas pelaku sudah viral dan diketahui banyak orang. Singkat cerita, Taufik Hidayat datang ke rumah Dadang pada pagi hari dan kembali dibujuk untuk menyerahkan diri. Akhirnya, pelaku menyetujui permintaan tersebut dan pada sore harinya, polisi datang menjemputnya.
Ikhlas Menerima Uang Imbalan untuk Korban
Sebelum penangkapan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah membuka sayembara dengan hadiah uang Rp250 juta kepada siapa pun yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan Taufik Hidayat. Dadang, yang mengetahui adanya sayembara tersebut, menyatakan ikhlas merelakan uang imbalan itu untuk diberikan kepada korban.
Ia menyampaikan bahwa korban lebih membutuhkan bantuan daripada dirinya sendiri. “Jika diberikan (uang sayembara) nanti akan saya terima dan saya kasihkan ke korban,” kata Dadang. Ia juga berharap agar korban segera pulih dan mendapatkan keadilan.
Namun, terdapat perbedaan kronologi antara versi Dadang dan pihak kepolisian. Polda Jabar menyatakan bahwa Dadang ditangkap oleh petugas, bukan menyerahkan diri setelah dibujuk mantan bosnya. Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, memastikan bahwa Taufik Hidayat tidak menyerahkan diri, tetapi ditangkap di sekitar Bandung Raya.
Selain itu, Taufik Hidayat mengaku menyesal atas tindakannya dan menyatakan bahwa motif penganiayaan dilakukan karena pengaruh alkohol. Ia juga mengakui bahwa setiap hari dia minum miras dan sering berdebat dengan kekasihnya, yang akhirnya memicu tindakan kekerasan.





