Puluhan ribu warga negara asing telah kehilangan nyawa mereka dalam konflik yang terjadi di Ukraina sejak Rusia meluncurkan invasi besar-besaran pada tahun 2022. Menurut investigasi BBC, setidaknya 3.586 orang dari lebih dari 40 negara tewas saat bertempur untuk pihak Rusia. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, termasuk narapidana yang direkrut dari penjara-penjara di Rusia, para migran yang mengaku dipaksa atau ditipu untuk bergabung, sukarelawan yang tertarik dengan gaji tinggi, serta pasukan reguler Korea Utara yang dikirim berdasarkan kesepakatan antara Moskow dan Pyongyang.
BBC Rusia dan media independen Mediazona melakukan pelacakan terhadap korban tewas yang telah terverifikasi di pihak Rusia menggunakan informasi sumber terbuka seperti pengumuman resmi, unggahan di media sosial yang memuat pesan dan foto makam, serta dokumentasi acara peringatan terkait perang. Salah satu nama dalam daftar tersebut adalah Edson Kamwesigye, warga Uganda.

Menurut keluarganya, Edson percaya bahwa dia berangkat ke Rusia untuk bekerja sebagai petugas keamanan. Istrinya, Carolina Mukuza, mengatakan bahwa pria Uganda berusia 45 tahun itu pernah bekerja sebagai petugas keamanan di Irak dan Afghanistan pada dekade 2000-an. Namun, menurut sang istri, Edson tidak pernah terlibat dalam pertempuran secara langsung. Setelah pekerjaan sebagai petugas keamanan di luar negeri tidak lagi tersedia, dia kembali ke Uganda. Di sana, dia bekerja sebagai sopir taksi dan mencoba bertani. Namun, penghasilannya nyaris tidak cukup untuk menghidupi istri dan kedua anaknya.
Pada Desember 2025, Edson memberi tahu keluarganya bahwa dia telah mendapatkan pekerjaan baru sebagai petugas keamanan, kali ini di Rusia. Namun, pada 16 Januari tahun ini, dia menghubungi istrinya dengan kabar yang berbeda. “Dia meminta saya mendoakannya karena sedang menjalani pelatihan militer dan tidak lama lagi akan dikirim ke garis depan,” ujar Carolina Mukuza kepada surat kabar Jerman, Taz. Sepekan kemudian, Kamwesigye tewas di Kupiansk, wilayah timur laut Ukraina, sebagaimana berhasil diverifikasi BBC Rusia. Hingga kini, istrinya masih berupaya membawa jenazah Kamwesigye pulang ke Uganda. Media-media lokal melaporkan, otoritas Uganda menolak mengoordinasikan proses pemulangan jenazah tersebut. Menurut laporan media Uganda, sedikitnya dua warga Uganda lainnya juga tewas saat bertempur untuk Rusia hingga Juni 2026.

Kamwesigye merupakan satu dari 1.285 pejuang asing di militer Rusia yang kematiannya telah diverifikasi BBC. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk Kuba, Amerika Serikat, China, Vietnam, Polandia, India, Nepal, Serbia, dan sejumlah negara lainnya. Selain itu, BBC Korea mengidentifikasi 2.304 prajurit Korea Utara yang tewas melalui analisis citra satelit serta foto-foto resmi dari upacara peringatan militer di Pyongyang. Mereka gugur saat bertempur melawan pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia, setelah Kyiv melancarkan serangan lintas perbatasan ke kawasan tersebut pada Agustus 2024.
Daftar yang disusun BBC tidak mencakup penduduk dari wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, yaitu Krimea, Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia, yang bertempur di pihak Rusia dan dicatat secara terpisah. Karena itu, korban dari wilayah-wilayah tersebut tidak tercermin dalam rangkuman ini. Namun, daftar tersebut mencakup 25 warga Ukraina dari daerah lain di Ukraina yang tewas di garis depan saat bertempur dalam barisan pasukan Rusia. Sebagian besar di antara mereka direkrut untuk perang dari koloni pemasyarakatan atau lembaga pemasyarakatan.

Ketika invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 tidak berakhir secepat yang diperkirakan, Kremlin segera menghadapi kekurangan personel tempur. Pada pertengahan 2022, para narapidana, termasuk warga negara asing, mulai ditawari kesempatan memperoleh pembebasan dengan imbalan ikut bertempur. Pada awalnya, proses perekrutan ini dilakukan oleh kelompok paramiliter Wagner, sebelum kemudian diambil alih Kementerian Pertahanan Rusia. Strategi tersebut terutama berdampak pada warga dari bekas republik Soviet, khususnya negara-negara di Asia Tengah. Sebagai contoh, lebih dari separuh warga Uzbekistan dan Tajikistan yang tewas dalam perang merupakan orang-orang yang berangkat ke garis depan setelah direkrut dari penjara-penjara di Rusia.

Pada 2024, otoritas Rusia secara signifikan menaikkan insentif keuangan bagi mereka yang mendaftar ke militer. Besaran pembayaran berbeda-beda di setiap wilayah. Namun, calon prajurit yang menandatangani kontrak dengan pemerintah kota Moskow saat ini dijanjikan bonus penandatanganan kontrak sebesar US$30.000 (sekitar Rp490 juta), serta gaji sekitar US$3.500 (sekitar Rp57 juta) per bulan. Bonus untuk tugas tempur dapat membuat total pembayaran yang diterima melampaui US$72.300 (sekitar Rp1,18 miliar). Sebagai perbandingan, rata-rata gaji bulanan di Rusia berada di kisaran US$760 (sekitar Rp12,4 juta).
Sekitar periode itu, perekrutan secara aktif juga mulai menyasar warga dari negara-negara yang lebih jauh, seperti Kuba, Nepal, India, Sri Lanka, dan Yaman. Sebagian dari mereka mengetahui akan bergabung dengan militer. Namun, yang lain mengaku datang ke Rusia dengan harapan bisa belajar atau bekerja di sektor konstruksi maupun keamanan, tetapi kemudian dikirim untuk menjalani pelatihan militer sebelum diterjunkan ke garis depan. Sejak pertengahan 2025, organisasi hak asasi manusia dan para pengacara melaporkan adanya tekanan kembali terhadap pekerja migran dari bekas republik Soviet yang tinggal di Rusia. Sebagian di antaranya disebut menerima tawaran bantuan untuk mengatasi perintah deportasi, larangan masuk, atau pengajuan kewarganegaraan sebagai imbalan atas penandatanganan kontrak militer. Yang lain mengaku mendapat ancaman.
Ukraina juga merekrut personel asing melalui sistem nasional yang dibentuk setelah Rusia melancarkan invasi besar-besaran pada Februari 2022. Beberapa hari kemudian, Presiden Volodymyr Zelensky mendirikan Legiun Internasional Ukraina dan menyerukan kepada para sukarelawan dari luar negeri untuk bergabung. Saat ini, warga negara asing bertugas baik di legiun tersebut maupun di unit-unit militer Ukraina lainnya. Berdasarkan aturan darurat militer, mereka umumnya hanya dapat mengakhiri masa tugas secara sukarela setelah menjalani enam bulan dinas secara terus-menerus. Pada Juni tahun ini, Zelensky mengumumkan, Ukraina akan menaikkan gaji prajurit dan berupaya merekrut lebih banyak petempur dari luar negeri. Langkah itu ditempuh ketika militer Ukraina menghadapi kekurangan personel setelah lebih dari empat tahun berperang melawan Rusia.





