Di tengah sorotan publik terhadap berbagai bencana lingkungan yang melanda Tanah Air, dinamika reaksi dari para pesohor dan figur publik tanah air selalu menarik untuk disimak. Baru-etelah gelombang aksi kepedulian digencarkan oleh banyak pesohor, sebuah polemik kecil sempat muncul di ruang digital yang melibatkan presenter ternama, Deddy Corbuzier. Publik sempat melayangkan kritik pedas lantaran menganggap sang mantan pesulap memilih untuk bungkam dan tidak ambil bagian dalam menyuarakan isu bencana kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang tengah masif terjadi di berbagai penjuru nusantara. 
Sebagaimana diketahui bersama, bencana karhutla belakangan ini memang menjadi momok menakutkan yang melanda berbagai wilayah strategis di Indonesia, mulai dari pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, hingga tanah Papua. Peristiwa ini tidak hanya dikategorikan sebagai bencana musiman biasa, melainkan telah menjadi persoalan krisis kemanusiaan dan ekologi yang sangat serius. Dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas, tidak hanya merusak ekosistem flora dan fauna serta lingkungan hidup secara masif, tetapi juga secara nyata mengancam kesehatan fisik serta taraf hidup masyarakat setempat yang harus menghirup udara tercemar.
Ketiadaan unggahan atau sikap vokal dari seorang Deddy Corbuzier di akun media sosial pribadinya sempat memicu beragam reaksi negatif, perdebatan sengit, hingga kritikan tajam dari para warganet di kolom komentar. Banyak pihak yang menyayangkan sikap apatis yang disangkakan kepada presenter berkepala plontos tersebut. Namun, segala prasangka buruk dan tudingan miring dari publik tersebut akhirnya terbantahkan secara telak.
Tabir misteri di balik kebungkaman tersebut akhirnya terbuka melalui sebuah unggahan kolaborasi resmi bersama lembaga kemanusiaan terkemuka, Rumah Zakat. Terungkap sebuah fakta mengejutkan bahwa Deddy Corbuzier sebenarnya telah bergerak lebih dulu secara diam-diam dengan menyalurkan bantuan finansial serta logistik yang sangat signifikan sejak seminggu sebelum isu tersebut ramai diperbincangkan di jagat maya.
Dalam sebuah tanggapan tertulis yang dibagikannya, Deddy Corbuzier memberikan penjelasan mendalam mengenai alasan kuat mengapa ia memilih untuk tidak langsung mengumbar aksi kepeduliannya di hadapan publik media sosial. Menurut pandangannya, bentuk kepedulian yang tulus terkadang justru tidak perlu selalu dijadikan komoditas konten demi mendapatkan validasi digital.
“Bantuan ini sudah saya berikan sekitar seminggu lalu. Hari ini saya atas permintaan Rumah Zakat kita akan diperluas hal ini. Saya menghargai mereka yang bersuara. Tapi tidak semua kepedulian terlihat di media sosial. Ada bantuan yang tidak diumumkan, ada percakapan yang tidak dijadikan konten. Itu cara yang saya pilih sejak dulu. Bukan berarti cara orang lain lebih rendah,” tulis Deddy Corbuzier dalam klarifikasinya untuk meredam polemik yang kadung membesar.
Lebih lanjut, ia juga menyempatkan diri untuk menitipkan pesan moral yang penting kepada masyarakat luas agar tidak terburu-buru dalam menghakimi atau menilai tingkat kepedulian seseorang hanya dari seberapa riuh mereka menyuarakannya di berbagai platform digital. Menurutnya, esensi dari sebuah pertolongan jauh melampaui riuhnya sorotan kamera.
“Sebelum menilai seseorang (siapapun) tidak peduli karena tidak banyak bicara, sisakan ruang untuk hal-hal yang belum kita lihat. Karena sifat Riya sering dibungkus dengan Syiar… Pada akhirnya, yang terpertimbang bukan siapa yang terlihat paling peduli, tetapi siapa yang membutuhkan benar-benar terbantu,” tambahnya menegaskan prinsip hidup yang ia pegang selama ini.
Pihak Rumah Zakat sendiri akhirnya memberikan konfirmasi resmi serta apresiasi atas dukungan moral dan finansial penuh yang diberikan oleh Deddy Corbuzier dalam rangka menyukseskan kampanye penyelamatan lingkungan bertajuk #ALLEYESONKARHUTLA.
“Kami telah meminta ijin pada pihak Deddy Corbuzier untuk mempost dan bekerjasama untuk memperluas bantuan ini bersama-sama mengajak masyarakat bergerak menolong saudara kita yang terdampak,” tulis perwakilan dari akun resmi Rumah Zakat untuk meluruskan keadaan.
Bantuan substansial yang disalurkan melalui kolaborasi ini difokuskan secara khusus untuk menopang berbagai aksi cepat tanggap para relawan di garis depan. Dana dan logistik tersebut digunakan mulai dari operasional pemadaman titik-titik api yang sulit dijangkau, hingga kegiatan pembagian masker medis khusus serta paket bantuan logistik esensial bagi warga masyarakat yang terpaksa harus bertahan hidup di tengah kepungan kabut asap akibat karhutla.
Langkah senyap yang berbuah manis dan berujung pada aksi nyata di lapangan ini pada akhirnya berhasil membalikkan keadaan, menuai apresiasi yang sangat luas dari para warganet, serta mendapatkan dukungan moril dari sejumlah figur publik terkemuka lainnya, termasuk salah satunya adalah pendakwah kondang Ustaz Felix Siauw yang turut meninggalkan jejak dukungan positif di kolom komentar.
Sementara itu, fenomena kontras justru terlihat di dunia maya. Di saat akun-akun yang menyuarakan isu kemanusiaan dan lingkungan menghadapi pembatasan, konten-konten negatif seperti promosi judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal terpantau masih bebas berkeliaran dan merajarela di berbagai platform digital. Hal inilah yang memicu kritik tajam dan mendalam dari berbagai kalangan.

Meskipun menyadari bahwa akun pribadinya disinyalir terkena pembatasan akses atau shadow ban, sang komedian menegaskan komitmennya untuk tidak akan pernah berhenti membagikan informasi penting terkait isu-isu sosial serta bencana alam. Ia justru memanfaatkan momentum ini untuk mengajak masyarakat luas serta rekan-rekan sesama figur publik agar tetap vokal menyuarakan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga benar-benar tuntas diatasi.
- Ajak masyarakat untuk terus mengawal isu lingkungan secara aktif.
- Meminta rekan sesama artis tidak gentar menghadapi pembatasan algoritma.
- Menekankan pentingnya bersuara minimal hingga bencana asap dan karhutla benar-benar mereda.
“Buat teman-teman yang lain jangan berhenti bersuara yah. Minimal sampai bencana ini beneran selesai ditangani. Fighting!!!,” pungkasnya memberikan semangat kepada para pegiat media sosial lainnya.
Fenomena Pembatasan Akun (Shadow Ban) di Kalangan Pesohor
Langkah vokal yang berujung pada pembatasan jangkauan akun ternyata tidak hanya dialami oleh satu atau dua orang saja. Sebelum kasus yang menimpa Wendi Cagur mencuat, sejumlah pesohor, artis ternama, hingga influencer papan atas Indonesia juga sempat mengaku mengalami hal serupa. Akun media sosial mereka mendadak terkena shadow ban usai secara aktif dan konsisten menyuarakan berbagai isu lingkungan hidup serta bencana yang sedang melanda negeri.
Deretan nama figur publik yang turut merasakan dampak pembatasan algoritma ini di antaranya meliputi:
- Tasya Farasya, beauty influencer terkenal yang kerap menyoroti isu publik.
- Andien, penyanyi sekaligus pemerhati lingkungan hidup.
- Jerome Polin, kreator konten edukasi yang turut membagikan kepedulian.
- Ustaz Adi Hidayat, pemuka agama yang juga aktif memberikan pandangan moral.
- Hesti Purwadinata, presenter kondang yang ikut menyuarakan keresahan.
- Jefri Nichol, aktor muda yang dikenal vokal terhadap isu sosial.
Kebanyakan dari para pesohor tersebut mengeluhkan adanya penurunan drastis pada jumlah penonton (viewers) maupun tingkat interaksi (engagement) jika dibandingkan dengan kondisi sebelum mereka mulai lantang menyuarakan isu karhutla. Penurunan performa akun ini dapat diamati secara jelas melalui laporan analitik ‘Overview’ yang merupakan salah satu fitur resmi di platform Instagram. Fenomena ini pun memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat mengenai transparansi algoritma media sosial dalam menyaring informasi yang beredar di ruang publik.




