Defisit Perdagangan Indonesia dengan Tiongkok Meningkat Tajam

Defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca dagang dengan negara tersebut mencapai US$20,5 miliar, meningkat sebesar US$11,11 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini memicu kekhawatiran pasar terhadap jumlah barang impor asal Tiongkok yang masuk ke Indonesia dan peningkatan ketergantungan negara terhadap produk luar negeri.

Meskipun Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan besar, kinerja ekspor dan impor menunjukkan ketimpangan yang cukup signifikan. Surplus neraca perdagangan sepanjang tahun lalu mencapai US$41,05 miliar atau sekitar Rp 676,3 triliun. Surplus terbesar berasal dari perdagangan dengan Amerika Serikat yang mencapai US$18,11 miliar.

Pola Struktural yang Terus Berlangsung

Menurut Yusuf Rendy Manilet, peneliti Ekonomi Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, defisit dengan Tiongkok bukanlah fenomena baru. Ia menyebut bahwa pola struktural ini telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Dinamika perdagangan antara kedua negara lebih banyak menguntungkan sisi Tiongkok.

Pelebaran defisit pada tahun ini dipengaruhi oleh efek pengalihan perdagangan akibat perang dagang global. Ketika ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat terhambat karena tarif tinggi, sebagian produk dialihkan ke pasar lain, termasuk Indonesia.

Pengalihan Perdagangan dan Kenaikan Impor

“Tiongkok menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penampung produk mereka ketika tidak bisa masuk ke Amerika. Jadi ada semacam diversion. Itu yang membuat defisit tetap terjadi dan bahkan melebar,” ujarnya.

Selain itu, pelemahan harga komoditas turut memengaruhi kinerja ekspor Indonesia ke Tiongkok. Sementara impor dari Tiongkok justru meningkat. “Kita mengekspor komoditas, tapi harganya sedang turun. Di saat yang sama, impor dari Tiongkok naik. Kombinasi itu membuat defisit makin lebar,” tambah Yusuf.

Persoalan Daya Saing Industri Domestik

Meski demikian, Yusuf menilai kondisi ini tidak serta-merta bisa disebut sebagai “serbuan” barang Tiongkok. Namun, ada persoalan daya saing industri domestik yang perlu diwaspadai.

Ia mengakui bahwa banyak produk manufaktur Tiongkok dijual dengan harga sangat murah berkat skala produksi besar dan efisiensi industri. Hal ini membuat produk lokal sulit bersaing. “Kalau barangnya jauh lebih murah, konsumen pasti pilih itu. Sayangnya, banyak produk yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri jadi kalah saing,” ujarnya.

Ketergantungan pada Bahan Baku dan Komponen

Ketergantungan ini terutama terlihat pada bahan baku, komponen, dan barang pendukung produksi. Menurut Yusuf, jika tidak diimbangi dengan diversifikasi pasokan dan penguatan industri nasional, Indonesia berisiko makin bergantung pada satu negara.

“Kalau kita terlalu tergantung dan tidak punya alternatif sumber impor lain, itu berbahaya. Pemerintah perlu fokus agar defisit ini tidak berdampak pada industri domestik,” katanya.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version