Diplomasi Cangkir Kopi Balikpapan dan Lahirnya ILO Next Trip

Oleh: Ananta Fauzan, Founder ILO Next Trip 

Sebuah obrolan sederhana di warung kopi Mpok Puput kawasan Jalan MT Haryono, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur bertransformasi menjadi gelombang petualangan nyata. 

Mengusung nilai persaudaraan dan positive vibes, komunitas ILO Next Trip resmi berkibar di Gunung Parung IKN Nusantara, Provinsi Kalimantan Timur, membawa cita-cita besar untuk membuktikan bahwa Kalimantan menyimpan surga tersembunyi yang patut dijaga.

Berawal dari riuh perbincangan, dari cangkir-cangkir kopi di sebuah warung lesehan Mpok Puput kawasan MT Haryono, Balikpapan, menjadi saksi bisu lahirnya sebuah gagasan membentuk wadah cinta alam. 

Semuanya bermula dari kisah sederhana, menjalani pengalaman melintasi keheningan malam Batu Dinding di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. 

Cerita perjalanan ini kemudian memantik semangat berpetualang hingga melahirkan ajakan untuk melangkah bersama, melanjutkan next trip. 

Usai momentum di Batu Dinding tersebut, sebuah ruang komunikasi dibentuk, sebuah embrio yang kelak bertransformasi menjadi komunitas penjelajah alam.

Peresmian di Gunung Parung IKN

Daya magis persaudaraan itu akhirnya menemukan bentuk resminya pada Sabtu, 1 Agustus 2026 malam. 

Berada di ketinggian Gunung Parung, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, puluhan pengembara mengibarkan bendera ILO Next Trip untuk pertama kalinya.

Momen bersejarah tersebut menegaskan berdirinya komunitas ini sebagai wadah kolektif bagi para pecinta aktivitas luar ruangan (outdoor).

Meski tidak memancangkan visi formal yang kaku, ILO Next Trip bergerak di atas pijakan nilai yang kuat, membagikan energi positif atau positive vibes, merawat kekompakan, dan saling menjaga keselamatan satu sama lain di alam bebas.

Kehadiran komunitas ini membawa misi penting untuk menyingkap pesona Kalimantan.

Memperkenalkan keagungan destinasi wisata alam Borneo kepada khalayak luas, membuktikan bahwa tanah Kalimantan menyimpan surga tersembunyi di luar bentangan perkebunan sawit.

Dan tentunya mengajak anak muda melangkah keluar dari kejenuhan rutinitas interior untuk mengisi hari-hari dengan kegiatan yang lebih sehat, aktif, dan produktif.

Lalu mempererat hubungan, merajut keakraban. Menganyam rasa kekeluargaan tak hanya di jalur pendakian, tetapi juga lewat berbagai aktivitas fisik sehari-hari seperti bersepeda, jalan santai masuk hutan perbukitan di Balikpapan, hingga olahraga bersama.

ILO Next Trip terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki jiwa petualang dan keterbukaan untuk merangkul sahabat baru.

ILO Next Trip lahir dari kecintaan mendalam pada alam, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, dan semangat kebersamaan.

Secara harfiah, ILO merupakan akronim dari In Love With The Outdoors (gandrung pada alam belantara).

Saat dipadukan dengan kata “Next Trip,” nama ini menjadi lambang dari jejak langkah bermakna yang terus berlanjut sebuah komitmen konsisten untuk menjaga bumi tetap lestari.

Makna In Love menegaskan bahwa kecintaan pada alam bukanlah hobi musiman, melainkan panggilan jiwa.

Ada kerinduan untuk terus kembali, merawat, dan menyatu dengan esensi bumi.

Sementara itu, frasa The Outdoors hadir sebagai pengingat bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam.

Melalui petualangan luar ruang, kita diajak sejenak melangkah keluar dari kejenuhan rutinitas perkotaan, menghirup udara segar, dan meresapi kedamaian alam yang murni.

Kehangatan persaudaraan komunitas ini dapat diselami lebih jauh melalui kanal media sosial resmi ILO Next Trip.

Mengikuti pembaruan agenda perjalanan (next trip) di akun Instagram, TikTok, dan YouTube resmi ILO Next Trip.

Membangun koneksi lewat kegiatan sosial maupun ruang interaksi antar-komunitas hobi sejenis di Kalimantan Timur.

Tak Diadu pada Panggung Gengsi

Belasan hari sudah roda komunitas ILO Next Trip ini bergulir, dari Sabtu 1 Agustus hingga Selasa 18 Agustus 2026. 

Lantas, apa yang sebenarnya telah kita rengkuh? 

Apakah sekadar melebarkan lingkaran relasi, menghimpun jiwa-jiwa dengan frekuensi serupa, atau sekadar menyediakan panggung untuk melepaskan tawa?

Atau mungkin, ini tentang petuah-petuah Mas Muchlis Mumu cah Bintaro Jakarta soal visi besar komunitas ini?

Visi yang setiap kali digaungkan terasa kian megah nan mewah hingga tak jarang membuat diri yang mendengar ini meringkuk kesilauan, terintimidasi oleh rasa pesimis sendiri.

Satu per satu destinasi telah kita jejaki, sederet agenda telah kita tuntaskan. Jika dikalkulasi, jumlahnya jelas belum seberapa.

Namun, apakah setiap perjumpaan dan perjalanan di komunitas ini harus selalu diukur dari pencapaian yang diadu di atas panggung gengsi?

Jika diminta memutar kembali memori dan menceritakan momen terbaik, saya justru memilih petikan kenangan selang beberapa hari seusai penjelajahan di Gunung Parung, Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, IKN Nusantara, Kalimantan Timur.

Malam itu, grup kami berencana menggelar perjumpaan rutin, “Kopdar Selasa Ceria.” 

Lewat koordinasi singkat di WhatsApp yang diwarnai “jam karet” khas kita, Warkop Mpok Puput di Jalan MT Haryono, dekat Rumah Sakit Siloam, Kota Balikpapan menjadi saksi perjumpaan. 

Saya tiba paling awal, disusul Kongbuds, lalu Rania Fatimah eks Kapten ILO Next Trip Gunung Parung yang tak lama kemudian muncul.

Di antara riuh malam, dialog favorit saya terpatri saat Rania Fatimah melempar tanya kepada Kongbuds tentang pahit-manis profesinya sebagai seorang jurnalis di Kalimantan Timur.

“Ada nggak, Kong, pengalaman nggak mengenakkan selama jadi jurnalis?” tanya Rania Fatimah penasaran.

“Yee, pas gue ngulik informasi soal lokalisasi Manggarsari Balikpapan, sekitar tujuh tahun lalu di 2019. Nyamar tuh gue jadi pelanggan,” sahut Kong dengan gaya nyablaknya yang khas.

“Gimana tuh, Kong?,” Rania makin bersemangat menanti kelanjutan cerita.

“Gue berdua malam-malam goncengan bareng teman, nekat mau wawancara langsung perempuan PSK di sana.”

“Masuklah gue ke kamar kecil yang mereka sediakan. Tanpa babibu, tuh perempuan langsung main aja, kaya buru-buru amat. Paniklah gue! Sempat gue suruh stop, tapi bingung.” 

Akhirnya gue tunjukin kartu identitas pers gue daripada berabe. Eh.., etdah, tuh perempuan malah panik terus lari!

Gue kejar maksudnya mau kasih duit buat tutup mulut.

Begitu duit dikasih, gue lari ke motor teman, suruh langsung tancap gas tinggalkan lokasi Manggarsaru. 

“Kalau sampai digebukin preman sana kan bisa bonyok, malah makin panjang masalah!”

Gelak tawa pecah, menunda riwayat cerita Kongbuds saat rekan-rekan yang lain mulai berdatangan meramaikan suasana.

Diskusi hangat malam itu kemudian ditutup dengan momen yang menggetarkan hati, Pak Sikin datang membawa sebuah bingkisan terbungkus rapi.

Saat dibuka, tampak sebentuk bingkai foto kenangan bersama kawan-kawan ILO Next Trip di Gunung Parung IKN Nusantara, usai menapak turun di pos pertama. 

Sebuah persembahan tulus dari Masmumu Muchlis, sebuah tanda bahwa jarak hanyalah angka, dan waktu selalu punya cara indah untuk mempertemukan.

Kini, potret besar penuh kenangan itu tergantung manis di dinding Rumah Makan Metro Minang daerah BJBJ Balikpapan, mengabadikan jejak kebersamaan yang tak lekang oleh waktu. (*)

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version