Dokter Kecantikan di Makassar Diperiksa Terkait Laporan Pencemaran Nama Baik
Dokter kecantikan di Makassar, dr Resti Muzakkir, baru saja menjalani pemeriksaan di Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan. Pemeriksaan berlangsung selama sekitar 5 jam, mulai pukul 10.00 hingga 15.00 WITA, dengan total pertanyaan sebanyak 36 soal. Pemeriksaan ini dilakukan setelah adanya penetapan tersangka terhadap dr Resti berdasarkan nomor B/136/I/RES.2.5//2026/Ditreskrimsus Polda Sulsel tertanggal 15 Januari 2026.
Dr Resti ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh mantan calon Wali Kota Palopo, Putriana Hamda Dakka alias Putri Dakka. Dalam surat tersebut, penyidik menyebutkan bahwa pasal yang disangkakan terkait pencemaran nama baik adalah Pasal 433 Ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Jo Undang-Undang Nomor 1 tahun 2026. Ancaman pidana dalam pasal tersebut mencakup penjara paling lama 9 bulan atau denda kategori II.
Kasus ini bermula dari laporan Putri Dakka yang merasa nama baiknya dicemarkan melalui unggahan di media sosial. Menurut penasihat hukum dr Resti, Ida Hamidah, laporan tersebut terkait unggahan kliennya di Instagram yang bersumber dari grup WhatsApp jemaah subsidi umrah. Postingan itu sebenarnya dibuat oleh jemaah, dengan isi yang menyebut “Putri Dakka DPO” dan beberapa kalimat lainnya. Postingan tersebut kemudian diunggah ulang oleh dr Resti dan mendapatkan sekitar 800 like.
Menurut Ida, unggahan tersebut muncul sebagai luapan kekecewaan jemaah terhadap program subsidi umrah yang dijanjikan Putri Dakka. Awalnya, Putri Dakka menjanjikan 10 kuota subsidi umrah, kemudian meningkat menjadi 100 kuota, hingga akhirnya mencapai 400 kuota. Namun, keberangkatan yang dijanjikan tidak kunjung terealisasi.
Pada 1 Desember 2024, dr Resti dimintai bantuan oleh Putri Dakka untuk membantu meyakinkan jemaah agar tetap percaya. Padahal sebelumnya, sudah ada tiga travel umrah yang batal memberangkatkan jemaah tersebut. Setelah kembali dari umrah, dr Resti bertemu langsung dengan Putri Dakka untuk membahas biaya perjalanan. Dari harga awal Rp32 juta per jemaah, kemudian disepakati menjadi Rp27 juta, dengan skema pembayaran bertahap.
Total dana yang diterima dr Resti dari Putri Dakka mencapai Rp240 juta, yang digunakan untuk pengurusan visa dan perlengkapan umrah bagi 68 jemaah. Seluruh visa tersebut berhasil terbit. Namun, keberangkatan tetap tidak terlaksana hingga akhir November 2024 dan berlanjut sampai Desember 2024.
Kondisi tersebut memicu kemarahan jemaah yang kemudian mendatangi klinik dan ruko milik dr Resti. Jemaah dari luar kota bahkan sempat menginap di hotel, kehabisan biaya, lalu ditampung oleh dr Resti di rukonya. Disediakan tempat tidur, AC, dan kebutuhan lainnya.
Sementara itu, Putri Dakka disebut sulit dihubungi, sehingga para jemaah memilih tetap berada bersama dr Resti untuk meminta kejelasan. Dalam perjalanan kasus tersebut, hanya tujuh jemaah yang akhirnya diberangkatkan. Sisanya meminta pengembalian dana. Pengembalian dilakukan, namun terdapat pemotongan biaya. Situasi inilah yang kemudian memicu munculnya unggahan bernada keras di grup jemaah, yang selanjutnya dibagikan ulang oleh dr Resti dan berujung pada laporan pidana.
“Kalau tidak ada postingan itu, kemungkinan tidak akan ada pengembalian dana. Tapi justru itulah yang sekarang menyeret klien kami menjadi tersangka,” kata Ida.
Terkait proses hukum, pihaknya menyatakan akan kooperatif dan menghormati seluruh tahapan yang berjalan. “Kami datang ke Polda untuk mempercepat proses. Kami siap menghadapi persidangan dan membuka semua fakta di pengadilan,” tegasnya.
Sebelumnya, Kuasa Hukum Putri Dakka, Artahsasta Prasetyo Santoso, mengatakan bahwa penetapan tersangka itu buntut dari laporan kliennya yang juga mantan calon anggota DPR RI dari Partai Nasdem dari Dapil Sulsel. Laporan itu terkait dugaan tindak pidana pencemaran nama baik melalui platform media sosial akun Instagram milik dr Resti pada tanggal 17 Desember 2024.
Dalam unggahan di media sosial, dr Resti menulis dengan narasi: “PUTRI DAKKA (DPO) Daftar Percarian Orang: Janji Umroh Subsidi: Putri Dakka dkk Diduga Bohongi Ratus Calon Jamaah, Kini Meminta Uangnya Dikembalikan”. Dan “Gara-gara ini Mobil dipamer Ratus org tertipu. Biasameko saja gayamu deh. Sesuaikan sm saldomu saja”.
“Perbuatan penghinaan itu terus berlanjut di berbagai media sosial dan media arus utama (mainstream),” kata Arthasasta Prasetyo Santoso. Kata Arthasasta, fakta ini mengkonfirmasi ada pengorganisasian black campaign yang bertujuan sengaja mencemarkan nama baik terhadap Putri Dakka, dengan mens rea hendak menjatuhkan pamornya di mata calon pemilih.
