Pascasarjana UIN Saizu Meluluskan Doktor Ke-90 dalam Program Studi S3 Studi Islam
Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali meluluskan doktor baru dalam Program Studi S3 Studi Islam. Munjiati resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Promosi Doktor di Ruang Ujian Doktor Gedung Pascasarjana UIN Saizu, Kamis (25/6/2026). Keberhasilan ini menjadikan Munjiati sebagai doktor ke-90 yang diluluskan oleh Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Saizu.
Ujian promosi tersebut dihadiri oleh tim penguji yang terdiri dari para profesor dan akademisi ternama, antara lain Prof. Ridwan, Prof. Rohmat, Prof. Moh. Roqib, Prof. Rohmad, Prof. Siwi Pratama, Dr. Atabik, Prof. Hizbul Muflihin, serta Prof. Fauzi. Proses ujian berjalan dengan lancar, menunjukkan tingkat kualitas penelitian yang tinggi dan kompetensi akademik yang matang.
Munjiati bukan sosok asing dalam dunia akademik kesehatan. Saat ini ia berkiprah sebagai dosen di Poltekkes Kemenkes Semarang Kampus Purwokerto. Sebelum menempuh pendidikan doktoral, ia telah menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners di Universitas Padjadjaran Bandung. Ia kemudian melanjutkan studi Magister Kesehatan Masyarakat di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Pengalaman akademik dan profesional tersebut menjadi fondasi kuat dalam penelitian doktoralnya yang berfokus pada kualitas hidup pasien penyakit tidak menular (PTM). Dalam ujian promosi, Munjiati mempertahankan disertasi berjudul “Pengembangan Instrumen Pengkajian Kualitas Hidup Pasien Penyakit Tidak Menular (PTM) Perspektif WHO (World Health Organization) dan al-Ghazali”.
Melalui pendekatan penelitian Research and Development (RnD), ia berhasil mengembangkan instrumen baru bernama MUNJI-Q yang dirancang untuk mengukur kualitas hidup pasien PTM secara lebih menyeluruh. Instrumen ini menggabungkan pendekatan kesehatan modern yang digunakan WHO dengan nilai-nilai spiritualitas Islam yang bersumber dari pemikiran Imam al-Ghazali.
Menurut Munjiati, instrumen WHOQOL-BREF yang selama ini menjadi standar internasional telah mencakup empat domain utama kualitas hidup, yakni aspek fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Namun, instrumen tersebut dinilai belum menempatkan spiritualitas sebagai bagian inti dalam pengukuran kualitas hidup. “Pengukuran kualitas hidup selama ini masih lebih banyak menyoroti kondisi fisik dan psikososial pasien. Padahal, dimensi spiritual memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, khususnya saat menghadapi penyakit kronis,” ungkap Munjiati dalam pemaparannya.
Dalam proses pengembangannya, MUNJI-Q melewati empat tahapan pengujian hingga menghasilkan instrumen yang dinilai valid, praktis, dan layak diterapkan dalam layanan kesehatan. Instrumen ini mengintegrasikan empat domain kualitas hidup WHOQOL-BREF dengan konsep ma’rifah atau pengetahuan dalam pemikiran Imam al-Ghazali yang meliputi pengetahuan tentang diri sendiri, pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan tentang dunia, dan pengetahuan tentang akhirat.
Integrasi tersebut menghasilkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam menilai kualitas hidup pasien, tidak hanya dari sisi fisik dan mental, tetapi juga dari aspek spiritual dan makna hidup. Hasil penelitian Munjiati melahirkan instrumen MUNJI-Q yang terdiri dari 41 butir pertanyaan. Sebanyak 26 butir diadaptasi dari instrumen WHOQOL-BREF, sedangkan 15 butir lainnya dikembangkan berdasarkan konsep spiritualitas Imam al-Ghazali.
Inovasi tersebut mendapat pengakuan resmi melalui pendaftaran dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang diperoleh pada tahun 2026. Keberadaan MUNJI-Q diharapkan mampu memberikan kontribusi baru dalam pengembangan ilmu kesehatan, khususnya dalam pengkajian kualitas hidup pasien penyakit tidak menular yang selama ini masih didominasi pendekatan fisik dan psikososial.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Munjiati memberikan sejumlah rekomendasi strategis untuk pengembangan instrumen tersebut. Pertama, MUNJI-Q dapat dimanfaatkan oleh perawat, dokter, maupun tenaga kesehatan lainnya sebagai alat asesmen kualitas hidup pasien penyakit tidak menular. Kedua, instrumen ini berpotensi diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan kesehatan sehingga proses pengkajian pasien menjadi lebih holistik dan menyentuh aspek spiritual. Ketiga, pengembangan lebih lanjut dalam bentuk aplikasi digital dinilai penting agar penggunaannya lebih praktis dan mudah diterapkan di berbagai fasilitas kesehatan.
Selain itu, model integratif yang menggabungkan perspektif WHO dan pemikiran al-Ghazali juga dapat menjadi dasar lahirnya teori-teori baru di bidang kesehatan, pendidikan, hingga ilmu sosial keagamaan. Keberhasilan Munjiati meraih gelar doktor semakin memperkuat komitmen Pascasarjana UIN Saizu dalam mengembangkan tradisi akademik berbasis integrasi ilmu pengetahuan modern dan khazanah keilmuan Islam.
Disertasi yang dihasilkan tidak hanya menawarkan kontribusi teoritis bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Melalui dukungan dosen berkualifikasi profesor, jejaring akademik yang luas, serta budaya penelitian yang produktif, Pascasarjana UIN Saizu terus mendorong lahirnya riset multidisipliner yang inovatif, relevan, dan berdampak nyata bagi pembangunan masyarakat dan kemajuan peradaban.




