Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Mengkhawatirkan
Pemerintah dan para anggota legislatif kini mulai memperhatikan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi terhadap masyarakat, terutama kelas menengah. Kenaikan tersebut bisa berdampak pada daya beli masyarakat serta mengancam stabilitas harga kebutuhan pokok.
Stabilitas Harga BBM Subsidi
Salah satu poin penting yang disampaikan oleh anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Ganinduto, adalah bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tetap stabil. Hal ini dilakukan agar masyarakat tetap dapat mengakses bahan bakar yang terjangkau. Bahkan, harga Pertamax masih berada di level Rp12.300 per liter.
BBM subsidi merupakan jenis bahan bakar yang sebagian biayanya ditanggung pemerintah, sehingga harganya lebih murah dibandingkan BBM non-subsidi. Dengan tidak adanya kenaikan harga pada BBM subsidi, Firnando menegaskan bahwa pelaku pasar tidak memiliki alasan untuk meningkatkan harga kebutuhan pokok.
Kenaikan Signifikan pada BBM Non-Subsidi
Namun, kenaikan harga BBM non-subsidi yang signifikan menjadi perhatian serius. Contohnya, Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Dexlite juga mengalami kenaikan dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Firnando menilai bahwa kenaikan harga ini harus diwaspadai karena potensi dampaknya terhadap inflasi dan kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan bahwa pemerintah harus memastikan kenaikan BBM non-subsidi tidak merembet ke harga kebutuhan pokok.
Dampak pada Kelas Menengah
Kenaikan harga BBM non-subsidi dikhawatirkan akan memberatkan pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelas menengah. Ini bisa menyebabkan penurunan daya beli dan memicu fenomena turun kelas energi, yaitu peralihan konsumsi dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi.
Untuk mengantisipasi hal ini, Firnando menyarankan pemerintah memperkuat pengawasan distribusi BBM subsidi agar tidak dinikmati oleh kelompok mampu. Pengawasan yang ketat diperlukan agar subsidi benar-benar tepat sasaran.
Peran Logistik dalam Stabilitas Harga
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga tarif logistik agar tidak memicu kenaikan harga barang di pasaran. Pemerintah diminta untuk mengendalikan dampak tidak langsung melalui sektor logistik dengan melakukan operasi pasar dan intervensi distribusi secara intensif.
Firnando menegaskan bahwa stabilitas harga pangan harus menjadi prioritas di tengah dinamika kenaikan harga energi. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus waspada terhadap dampak BBM non-subsidi, terutama bagi kelas menengah.
Penyesuaian Harga di SPBU
PT Pertamina telah meminta seluruh petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk menyesuaikan informasi harga di area penugasan. Perubahan harga di Totem, dispenser, POS System, dan media lainnya di SPBU harus dilakukan pada pukul 00.00 waktu setempat. Hal ini dilakukan agar penjualan produk dapat berjalan normal sampai dengan waktu perubahan harga yang telah ditentukan.
