Persija Jakarta kembali menunjukkan keunggulannya dalam memproduksi pemain muda berkualitas di Liga Indonesia. Klub yang bermarkas di ibu kota ini telah menjadi salah satu contoh terbaik dalam pembinaan talenta sepak bola muda. Seperti halnya Akademi La Masia milik Barcelona, yang dikenal sebagai salah satu sekolah sepak bola terbaik di dunia, Persija juga memiliki program pengembangan pemain yang sangat matang.
La Masia terbukti menjadi sumber utama bagi Timnas Spanyol yang dominan pada periode 2008 hingga 2012 serta timnas yang sukses meraih gelar juara Euro 2024. Di samping itu, akademi ini rutin melahirkan pemain-pemain hebat seperti Lionel Messi dan Lamine Yamal. Namun, di Indonesia, masih jauh dari kesuksesan yang sama. Meskipun begitu, Persija Jakarta bisa disebut sebagai klub terbaik dalam hal pembinaan pemain muda.
Pada masa pelatih Shin Tae-yong, Persija pernah mengirim 11 pemain sekaligus dalam pemusatan latihan Timnas U-20 Indonesia. Hal ini membuat pelatih Persija, Thomas Doll, sempat bersitegang dengan Shin Tae-yong dan PSSI. Beberapa nama besar seperti Muhammad Ferarri, Alfriyanto Nico, Rayhan Hannan, dan Dony Tri Pamungkas lahir dari akademi Persija.
Bukti terbaru datang dari pertandingan antara Persija Jakarta melawan Persijap Jepara di pekan ke-16 Super League 2025-2026, yang berlangsung pada Sabtu (3/1/2026). Dalam laga yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno tersebut, Macan Kemayoran berhasil menang 2-0 dan menjaga asa mereka untuk meraih gelar juara.
Yang menarik adalah kedua gol Persija dicetak oleh dua pemain muda berusia 20 tahun. Gol pertama dibukukan oleh winger Arlyansyah Abdulmanan melalui penyelesaian di depan gawang setelah menerima umpan Hanif Sjahbandi. Sedangkan gol kedua dicetak oleh gelandang Aditya Warman dengan tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang sangat indah.
Tidak perlu mendatangkan pemain lokal mahal, Persija mampu memproduksi pemain muda yang cukup mumpuni untuk memenuhi kuota U-23. Pelatih Persija, Mauricio Souza, mengatakan bahwa pada babak kedua mereka membenahi beberapa hal. Ia memberikan apresiasi kepada dua pemain muda tersebut dengan membawa mereka ke konferensi pers setelah pertandingan.
Souza menjelaskan bahwa dalam babak pertama, tim coba mengalirkan bola dan memaksakan permainan, tetapi tidak banyak melakukan penyelesaian akhir. Dari situ, tim bisa lebih sering melakukan tembakan dan masuk ke area pertahanan lawan.
Persija Jakarta tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kuota pemain U-23 selama Super League musim ini berkat produktivitas akademinya. Ini menunjukkan bahwa Persija tidak hanya menjadi klub yang kuat secara kompetitif, tetapi juga menjadi tempat yang ideal bagi pengembangan bakat muda sepak bola Indonesia.





