Koperasi Desa Merah Putih Tetap Berjalan Meski Ada Insiden Meninggal Dunia

Pemerintah tetap memastikan bahwa program Koperasi Desa Merah Putih akan terus berjalan meskipun ada insiden yang menimpa dua peserta pelatihan. Program ini bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang mampu mengelola koperasi desa di berbagai wilayah Indonesia.

Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro menyampaikan bahwa insiden yang terjadi tidak akan mengganggu rencana pemerintah dalam menjalankan program tersebut. Ia menegaskan bahwa mitigasi terhadap kejadian seperti ini akan dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dipisahkan dari kelanjutan program.

“Ya, mitigasinya tentu berbeda antara program Koperasi Merah Putih-nya, kemudian penyediaan sumber daya untuk mengelola itu, dan tentu hal terkait dengan peristiwa atau kejadian-kejadian seperti itu ya akan ditangani sebaik-baiknya dan tentu dipisahkan dari kegiatan atau kelanjutan dari program ini,” ujar Juri saat memberikan keterangan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Program Koperasi Desa Merah Putih melibatkan sekitar 30.000 peserta yang mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai bagian dari persiapan menjadi manajer koperasi desa di berbagai daerah. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah membangun karakter serta memperkuat rasa kebangsaan para peserta sebelum mereka terjun ke lapangan.

“Yang pertama, ingin menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri yang sangat kita cintai ini. Karena kan berbagai latar belakang, masih muda-muda, perlu penebalan rasa cinta terhadap bangsa dan negara,” jelas Yandri Susanto, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), dikutip Tribunsumsel.com dari Grid.id Rabu (24/6/2026).

Namun, konsep pelatihan yang melibatkan unsur semi-militer sempat menuai perdebatan. Sebagian pihak mempertanyakan relevansinya dengan tugas manajerial yang nantinya dijalankan para pengelola koperasi.

Rangkaian Peristiwa yang Berujung Duka

Di tengah perdebatan mengenai metode pelatihan tersebut, dua peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti kegiatan. Korban pertama adalah Anisa Muyassaroh, peserta asal Jawa Timur yang mengikuti pelatihan di wilayah Kodam VI/Mulawarman. Sementara korban kedua, Yonanda Muhammad Taufik, mengikuti diklat di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja.

Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan, kondisi kesehatan Anisa mulai menurun pada Kamis (18/6/2026). Tim medis disebut telah melakukan beberapa tahapan penanganan sebelum akhirnya merujuk korban ke Rumah Sakit Dr. R. Hardjanto Balikpapan.

“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal akibat heat stroke,” jelas Rico Ricardo Sirait. “Karena melihat perkembangan kondisi korban yang terus menurun dan tidak membaik, tim medis langsung merujuk korban ke Rumah Sakit Dr. R. Hardjanto (RS Tentara) Balikpapan. Prosedur penanganan pada saat kejadian sudah dilaksanakan dengan tepat. Saat ini kami masih menunggu hasil dari pendalaman tindak lanjut terhadap kejadian yang menyebabkan satu siswi ini meninggal dunia,” sambungnya.

Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufik dilaporkan mengalami henti jantung saat menjalani pelatihan di Baturaja pada Rabu (17/6/2026). “Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung),” ungkap Rico.

Kodam Tegaskan Pola Pelatihan Tidak Dominan Fisik

Menanggapi insiden tersebut, Kodam VI/Mulawarman menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus memberikan penjelasan mengenai pola pelatihan yang diterapkan. Kapendam VI/Mulawarman Kolonel Inf. Gatot Teguh Waluyo menyebut pihaknya turut berduka atas kejadian yang menimpa salah satu peserta.

“Kami dari Kodam VI/Mulawarman mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga diberi ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Kita tentu tidak berharap hal ini terjadi,” jelasnya.

Ia juga membantah anggapan kegiatan tersebut didominasi latihan fisik berat. “Kami garisbawahi, kegiatan yang dilaksanakan tidak melibatkan kegiatan fisik yang dalam artian dominan. Pola latihannya dominan pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas,” jelasnya.

Pihak TNI menyatakan proses pemulangan jenazah kedua peserta menjadi tanggung jawab kedinasan. Sementara itu, pendalaman terhadap penyebab insiden masih terus berlangsung untuk memastikan seluruh rangkaian kejadian dapat diketahui secara menyeluruh.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version