Kondisi Berbeda dalam Pelaksanaan SPMB 2026 di Kalimantan Barat
Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kalimantan Barat menunjukkan dua kondisi yang berbeda akibat ketimpangan infrastruktur digital. Di sejumlah wilayah pedalaman, sekolah masih mengandalkan sistem pendaftaran manual karena keterbatasan akses internet. Sementara itu, sekolah-sekolah di kawasan perkotaan telah menerapkan sistem pendaftaran daring (online) secara penuh dengan dukungan layanan pendampingan bagi calon siswa dan orang tua.
Sekolah Pedalaman Masih Gunakan Sistem Manual
Kondisi tersebut terlihat di SMAN 2 Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Sekolah yang berada di Desa Empangau, Kecamatan Bunut Hilir itu belum dapat menerapkan sistem pendaftaran online karena masih terkendala jaringan internet. Kepala SMAN 2 Bunut Hilir, Joni, mengatakan proses pendaftaran tetap dilakukan secara tatap muka dengan mengacu pada kebijakan domisili. Orang tua dan calon siswa diwajibkan datang langsung ke sekolah untuk menyerahkan berkas.
“Kami tidak bisa menerapkan daftar online karena fasilitas pendukung seperti jaringan internet belum ada. Namun sejauh ini proses pendaftaran manual berjalan lancar dan sukses tanpa ada keluhan dari orang tua murid,” ujarnya.
Kondisi blank spot diakui langsung oleh Kepala SMAN 2 Bunut Hilir, Joni. Sekolah yang berlokasi di Desa Empangau, Kecamatan Bunut Hilir ini tetap setia menggunakan metode tatap muka sejak dulu. Berdasarkan kebijakan domisili, orang tua dan calon siswa diwajibkan datang langsung ke sekolah untuk menyerahkan berkas.
Sekolah Perkotaan Terapkan Pendaftaran Online
Sebaliknya, sejumlah sekolah di wilayah perkotaan seperti MAN 1 Kapuas Hulu dan SMKN 1 Sekadau telah sepenuhnya menerapkan sistem daring (online), bahkan menyediakan loket pelayanan khusus guna mendampingi para orang tua dan calon siswa dalam pembuatan akun serta penginputan data nilai rapor.
Pemandangan berbeda terlihat di MAN 1 Kapuas Hulu yang sukses mengintegrasikan sistem PPDB secara penuh lewat situs sekolah. Kepala MAN 1 Kapuas Hulu, Kusnadi, menjelaskan bahwa sistem komputerisasi ini justru mempermudah calon siswa karena mereka hanya perlu datang saat verifikasi fisik dan tes akademik pada 26 Juni mendatang.
“Alhamdulillah aman. Bagi warga yang kesulitan, kami tetap membuka pintu untuk pelayanan offline langsung di sekolah,” kata Kusnadi.
Seorang calon siswa, M Syukron menyampaikan, sudah daftar ke MAN 1 Kapuas Hulu via online dan prosesnya lancar tidak ada kendala. “Saat ini masih menunggu jadwal tes, yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 Juni 2026,” ujarnya. “Semoga lolos,” lanjutnya.
Server Sempat Bermasalah di SMKN 1 Sekadau
Sementara itu, antusiasme tinggi berujung kendala teknis terjadi di SMKN 1 Sekadau. Menggunakan sistem online terpusat milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, server sekolah sempat mengalami gangguan parah pada hari pertama akibat membeludaknya pengakses secara bersamaan. Untuk mengantisipasi kepanikan masyarakat yang belum melek digital, pihak sekolah berinisiatif membuka delapan loket bantuan pembuatan akun dan input nilai rapor SMP/MTs.
“Banyak masyarakat belum paham tahapan pembuatan akun. Lewat loket ini, semua petugas bekerja sama membantu tanpa membedakan jurusan pilihan siswa agar antrean cepat terurai,” jelas Kepala SMKN 1 Sekadau, Basep.
Hingga hari kedua, sistem mencatat 246 data pendaftar dari total kuota 396 siswa untuk 11 rombongan belajar. Pendaftaran daring SMK yang bebas zonasi ini masih dibuka hingga 11 Juli 2026.
Kendala Lupa Password di Ketapang
Persoalan teknis di tingkat daerah juga mewarnai pelaksanaan SPMB di SMAN 3 Ketapang. Memasuki masa sanggah untuk jalur afirmasi dan mutasi pada Rabu 24 Juni 2026, posko pelayanan sekolah justru dipadati oleh calon siswa yang mengalami kendala sepele, yakni lupa password akun pendaftaran.
Ketua Panitia SPMB SMAN 3 Ketapang, Edy Purwanto, menjelaskan bahwa masa sanggah ini sebenarnya bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi pendaftar memperbaiki kesalahan input data atau salah unggah dokumen berkas fisik.
“Sejauh ini kendala yang paling banyak dilaporkan calon siswa yang datang langsung ke sekolah hanya masalah lupa password saja. Jika ada kesalahan data, langsung kami bantu perbaiki di tempat,” kata Edy.
Ia menambahkan, sisa kuota jalur afirmasi (daya tampung 107 kursi) dan mutasi (daya tampung 18 kursi) yang tidak terpenuhi nantinya akan otomatis dialihkan untuk menambah kuota di jalur prestasi.
DPRD Minta Sistem Fleksibel
Ketimpangan akses digital ini turut memicu reaksi dari parlemen. Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Kayong Utara, Syaiful Hartadin menekankan pentingnya fleksibilitas sistem agar penerapan teknologi tidak boleh berbalik membatasi hak anak untuk mendapatkan pendidikan.
“Baik online ataupun tidak online itu tetap harus dilakukan. Terutama bagi daerah-daerah yang tidak dapat sinyal atau sinyalnya kurang, wajib dibuka opsi offline. Sedangkan untuk yang sinyalnya bagus silakan laksanakan online,” tegas Syaiful.
Ia mendesak dinas pendidikan di tiap daerah bergerak cepat mensosialisasikan pemetaan sekolah yang menerapkan sistem online dan offline agar semua anak usia sekolah dapat tertampung.
Ombudsman Belum Terima Aduan
Meskipun dinamika jaringan dan kendala akun mewarnai pekan pertama pendaftaran, pengawasan eksternal dipastikan terus berjalan ketat. Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Barat menyatakan hingga Rabu 24 Juni 2026 belum menerima satupun laporan atau aduan resmi dari masyarakat terkait kejanggalan pelaksanaan SPMB maupun Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) di wilayah Kalbar.
Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kalimantan Barat, Tariyah, membenarkan bahwa Posko Aduan SPMB khusus yang dibentuk instansinya masih nihil laporan. Kendati aman, pengawasan di posko diperketat guna mengawal sisa tahapan kritis, termasuk jalur zonasi dan prestasi ke depan.
Gubernur Minta Sekolah Tidak Rugikan Siswa
Dinamika di lapangan ini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Gubernur Kalbar, H Ria Norsan, menegaskan agar seluruh SMA/SMK Negeri di Kalbar benar-benar memperhatikan aturan yang berlaku, khususnya terkait pelaksanaan jalur domisili atau zonasi.
Ia mengimbau agar setiap kebijakan mandiri yang diambil pihak sekolah tidak merugikan calon peserta didik yang mengikuti SPMB 2026.
Toko Buku Mulai Ramai Jelang Tahun Ajaran Baru
Seiring bergulirnya tahapan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2026, geliat menyambut tahun ajaran baru mulai terasa di sektor hulu ekonomi. Sejumlah toko buku dan alat tulis di Kota Pontianak mulai ramai dikunjungi masyarakat yang berburu perlengkapan sekolah untuk buah hati mereka, Rabu (24/6).
Salah satu titik keramaian terpantau di Toko Buku dan Alat Tulis Juanda, Jalan Ir. H. Juanda, Pontianak Kota. Para orang tua tampak mengantar anak-anak mereka memilih buku tulis, alat tulis, sampul, hingga tas sekolah baru.
Manager Toko Buku Juanda, Junita, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi lonjakan musiman ini dengan menambah pasokan barang sejak Mei lalu.
“Bulan Mei dan Juni mulai ramai karena siswa sudah selesai ujian. Kebutuhan yang paling banyak dicari saat ini adalah alat tulis, buku tulis isi paket, dan sampul,” ujar Junita.
Menariknya, pasar perlengkapan sekolah di ibu kota provinsi ini tidak hanya melayani warga lokal. Toko-toko besar di Pontianak juga menjadi magnet bagi konsumen dan pengecer dari berbagai daerah di Kalimantan Barat.
“Banyak pembeli datang jauh-jauh dari Kapuas Hulu, Sintang, Singkawang, hingga Bengkayang. Karena selain eceran, kami juga memasok barang ke daerah-daerah tersebut,” tambah Junita.
Di tengah situasi ekonomi saat ini, tantangan terbesar bagi pelaku usaha adalah menyiasati kenaikan harga dari tingkat pemasok. Kendati modal belanja meninggi, pihak toko berkomitmen menjaga daya beli masyarakat menjelang tahun ajaran baru agar tidak terlalu membebani kantong orang tua murid.
“Sejujurnya harga dari pemasok naik dan kami terpengaruh. Namun, kami sebisa mungkin menekan margin keuntungan supaya harga di toko tetap ekonomis dan terjangkau bagi masyarakat,” jelasnya.
Untuk satu paket buku tulis kualitas standar sekolah, toko ini mematok harga ramah kantong di kisaran Rp30 ribuan.
Puncak lonjakan omzet dan kunjungan pembeli diprediksi baru akan meledak pada awal Juli mendatang. Hal ini terjadi setelah seluruh rangkaian pengumuman hasil kelulusan PPDB di tingkat SMA, SMK, maupun Madrasah selesai diumumkan secara serentak.
Sementara Pemilik Toko Buku Lestari, Aweng mengatakan, pihaknya juga telah melengkapi stok kebutuhan sekolah untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan menjelang dimulainya kegiatan belajar mengajar.
“Untuk persiapan tahun ajaran baru, kami sudah menyediakan berbagai perlengkapan sekolah, mulai dari buku tulis, tas sekolah, buku pelajaran, hingga LKS dan buku-buku terbitan Airlangga,” ujarnya, kemarin.
Meski demikian, Aweng mengungkapkan hingga saat ini peningkatan jumlah pembeli belum terlihat signifikan. Hal tersebut karena para siswa masih menjalani masa libur sekolah.
“Saat ini pembeli masih belum terlalu ramai karena masih masa liburan. Biasanya pergerakan pembeli mulai terlihat sekitar dua minggu sebelum masuk sekolah,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, perlengkapan sekolah yang dijual didatangkan dari berbagai daerah. Sebagian produk dipasok dari Jakarta, sementara sebagian lainnya berasal dari pemasok lokal.
Selain menjaga ketersediaan stok, Toko Buku Lestari juga terus mengikuti perkembangan tren perlengkapan sekolah yang sedang diminati para pelajar.
“Kami juga mengikuti tren yang sedang disukai pembeli terkait perlengkapan sekolah, sehingga produk yang tersedia tetap sesuai dengan kebutuhan dan minat anak-anak sekolah saat ini,” jelas Aweng.
