Pernyataan Iran Terkait Selat Hormuz
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup selama masa perang. Ia menegaskan bahwa selat tersebut tetap terbuka dan hanya menerapkan protokol lalu lintas.
“Selat Hormuz tidak ditutup, Selat Hormuz tetap terbuka,” kata Boroujerdi saat ditemui di rumah dinasnya, Jalan Madiun, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026). “Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz.”
Boroujerdi menekankan bahwa keamanan di Selat Hormuz berlaku untuk semua negara, termasuk Iran. Ia juga menyatakan bahwa pihak yang khawatir tentang penutupan Selat Hormuz seharusnya menanyakan kepada Amerika Serikat, yang datang dari jauh ke kawasan Timur Tengah dan mengganggu keamanan di sana.
Nasib 2 Kapal Pertamina
Kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping masih terjebak di Selat Hormuz akibat adanya perang di kawasan tersebut. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengatakan KBRI di Teheran tengah melobi pemerintah Iran agar kapal Pertamina dapat melintasi Selat Hormuz.
“Terkait dengan yang terjadi saat ini dengan dua tanker dari pihak Pertamina, dapat disampaikan bahwa hal tersebut sedang di-follow up oleh teman-teman kita di KBRI Teheran, karena memang conversation-nya harus dilakukan dengan pihak Iran,” ujar Santo Darmosumarto, Direktur Jenderal ASPASAF Kemlu.
Lobi dilakukan untuk memastikan kapal Pertamina dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman dan diberikan perlindungan. Meski kondisi di Iran belum kondusif, KBRI Tehran terus berupaya komunikasi dengan pihak Iran.
Upaya Diplomasi dan Alternatif Pasokan Minyak
Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) tengah menempuh jalur diplomasi untuk mengeluarkan kapal yang mengangkut minyak mentah (crude) tersebut. Jika kedua kapal tidak bisa keluar, pemerintah akan mencari alternatif pembelian minyak mentah dari wilayah yang pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz.
“Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Pemerintah juga berencana mengalihkan seluruh impor minyak mentah dari Timur Tengah ke AS sebagai upaya mitigasi atas memanasnya konflik antara Israel, AS, dan Iran. Sekitar 25 persen total impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah, sementara sisanya dipasok dari negara lain seperti Angola, AS, dan Brasil.
Kekacauan Logistik di Selat Hormuz
Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Penutupan ini menyebabkan kekacauan logistik yang membuat hampir 150 kapal menumpuk dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Selat Hormuz, perairan sempit yang berkelak-kelok selebar 33 kilometer, adalah jalur air vital yang menghubungkan produsen minyak terbesar di Timur Tengah dengan seluruh dunia. Biasanya, lebih dari seratus kapal melintasi selat ini setiap harinya. Bahkan, sekitar 30 persen perdagangan minyak laut dunia melewati selat ini.
Setelah konflik pecah akhir pekan lalu, pengiriman barang hampir terhenti. Data MarineTraffic menunjukkan bahwa lalu lintas kapal melalui selat tersebut turun lebih dari 80 persen. Ratusan kapal memilih sandar di pelabuhan terdekat karena takut terkena serangan.
Chief Analyst Xeneta Peter Sand mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak domino dari krisis ini. Menurutnya, angka kemacetan, kepadatan lapangan penumpukan, dan waktu transit akan melonjak, sementara keandalan jadwal pelayaran akan menurun.





