Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon

Tiga anggota TNI yang tergabung dalam United Nations Interinterim Force in Lebanon (UNIFIL) meninggal dunia saat menjalankan tugas perdamaian di Lebanon. Kecelakaan ini menunjukkan betapa berisikonya penugasan tersebut, terutama di wilayah yang rawan konflik antara Israel dan Lebanon.

Banyak eks anggota UNIFIL menyebut bahwa wilayah tugas sangat rentan karena berada di tengah-tengah konflik antara dua pihak. Selain itu, ada pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701, termasuk aktivitas drone yang memantau wilayah dan pasukan PBB.

Pengalaman Eks Anggota UNIFIL

Seorang eks anggota UNIFIL yang bertugas pada tahun 2010-2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi, menceritakan pengalamannya selama bertugas di Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian. Ia mengatakan bahwa Israel sering tidak mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006, yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan antara Hizbullah dan Israel.

Menurut informasi dari laman PBB, resolusi tersebut menyerukan gencatan senjata permanen dengan pembentukan zona penyangga. Namun, Muhtar menjelaskan bahwa drone-drone Israel sering kali masuk ke wilayah Lebanon untuk memantau warga dan pasukan PBB.

“Drone ini diterbangkan oleh Israel. Selain untuk memantau kegiatan masyarakat Lebanon, juga digunakan untuk memplotting dan memapping posisi atau titik koordinat pasukan PBB,” ujar Muhtar dikutip dari Kompas.TV, Senin (6/4/2026).

Risiko Tinggi dalam Penugasan

Muhtar menyatakan bahwa tugas pasukan penjaga perdamaian di Lebanon memiliki risiko tinggi. Meskipun mereka dibekali dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan aturan keterlibatan (rules of engagement), risiko tersebut tidak bisa dihindari karena pasukan UNIFIL berada di tengah konflik antara Israel dan Lebanon.

Ia juga menjelaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian harus tetap netral, tidak memihak kepada salah satu pihak. Tujuannya adalah menjaga perdamaian yang telah ditetapkan dalam Resolusi PBB Nomor 1701.

Pernyataan KSAD TNI

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI Jenderal Maruli Simanjuntak meminta keluarga prajurit TNI kontingen Garuda UNIFIL untuk tidak khawatir. Ia menyatakan bahwa para prajurit terpilih sudah terlatih dan memahami apa yang harus dilakukan dalam situasi konflik.

Maruli menyampaikan pernyataannya setelah menjadi Inspektur Upacara penyerahan tiga jenazah TNI kontingen Garuda UNIFIL yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon, di apron Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026) malam.

“Nggak usah risau. Sebetulnya mereka juga sebetulnya tahu apa yang harus dilakukan,” kata Maruli.

Ia menjelaskan bahwa setiap penugasan negara, terutama dalam misi perdamaian bawah PBB, memiliki prosedur operasional standar. Namun, ia tidak menyangkal bahwa risiko tetap ada.

Doa untuk Keselamatan Prajurit

Meski demikian, Maruli meminta keluarga dari anggota prajurit terpilih untuk mendoakan agar semua berjalan baik. “Yang penting doakan saja, mudah-mudahan semua berjalan dengan baik,” katanya.

Penugasan dalam misi perdamaian memang penuh tantangan, namun para prajurit TNI tetap berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah konflik. Dengan dukungan penuh dari keluarga dan institusi, mereka terus melaksanakan tugasnya dengan tanggung jawab.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version