Industri mebel dan kerajinan nasional masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar, baik dalam hal ekspor maupun penguatan pasar domestik. Namun, pelaku industri menghadapi tantangan yang signifikan, termasuk tingginya tarif dagang di pasar utama serta masuknya produk impor murah yang membanjiri pasar dalam negeri.
Abdul Sobur, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), menyatakan bahwa pameran industri seperti Indonesia International Furniture Expo (IFEX) berperan penting sebagai motor penggerak ekosistem industri, bukan hanya sekadar ajang pamer produk. Menurutnya, industri ini tidak hanya berbicara tentang pameran, tetapi juga melibatkan jutaan tenaga kerja yang bergantung pada sektor ini.
“Setiap peningkatan ekspor langsung berdampak pada penciptaan lapangan kerja,” ujar Sobur saat berbicara di Bentara Budaya Art Gallery di Jakarta, Selasa (3/2).
Saat ini, nilai ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia mencapai kisaran US$ 3,4 miliar per tahun. Angka tersebut dinilai masih memiliki potensi untuk ditingkatkan dua kali lipat jika hambatan perdagangan dapat diminimalkan dan promosi internasional terus diperkuat.
Menurut Sobur, pameran internasional memberikan kontribusi signifikan terhadap penjualan industri. Meskipun transaksi langsung di lokasi pameran cukup besar, potensi riil biasanya terjadi setelah pameran, dalam waktu satu hingga empat bulan.
“Transaksi on the spot memang besar, tapi setelah pameran biasanya nilai transaksi bisa jauh lebih tinggi karena ada penyesuaian desain dan spesifikasi produk,” katanya.
Meski peluang ekspor terbuka, HIMKI menyoroti tantangan tarif di pasar Amerika Serikat, yang menjadi tujuan utama ekspor furnitur Indonesia. Porsi ekspor ke Negeri Paman Sam saat ini mencapai lebih dari separuh total pengiriman nasional.
“Kita diberi tarif cukup tinggi, sehingga harga produk kita menjadi lebih mahal di pasar Amerika. Padahal Amerika Serikat adalah pasar terbesar kita,” ujarnya.
Selain tarif, tekanan juga datang dari banjirnya produk impor, terutama dari Tiongkok, yang masuk ke pasar domestik. Sobur menilai kondisi ini berpotensi menggerus pangsa pasar pelaku industri lokal jika tidak diimbangi dengan kebijakan proteksi dan peningkatan daya saing produk dalam negeri.
Strategi industri tidak bisa hanya bertumpu pada ekspor. Penguatan pasar domestik perlu berjalan bersamaan agar ekosistem industri tetap stabil.
“Jika ekspor tumbuh, tapi pasar dalam negeri diambil oleh produk impor, ekosistem kita tetap tertekan. Jadi dua-duanya harus dijaga,” jelasnya.
HIMKI juga menilai pentingnya membangun kebanggaan terhadap produk lokal, khususnya furnitur berbasis rotan dan bambu yang menjadi keunggulan Indonesia. Potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai identitas desain nasional di pasar domestik.
Dengan kombinasi strategi promosi ekspor, negosiasi tarif dagang, serta penguatan konsumsi produk lokal, HIMKI optimistis industri mebel nasional masih memiliki ruang tumbuh yang besar. Namun tanpa perlindungan pasar dan peningkatan nilai tambah desain, peluang tersebut berisiko tergerus oleh kompetisi global dan banjir impor.




