Infomalangraya.net.CO.ID – JAKARTA. Kinerja ekspor non minyak dan gas (migas) Indonesia dinilai masih rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Pasalnya, kenaikan nilai ekspor di tengah penurunan volume menunjukkan bahwa peningkatan kinerja perdagangan belum sepenuhnya ditopang oleh penguatan daya saing produk nasional.

Peneliti Pusat Reformasi Ekonomi (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, kondisi tersebut terlihat pada komoditas unggulan ekspor non migas sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Nilai ekspor besi dan baja naik 4,88% menjadi US$ 19,18 miliar, meski volumenya turun 5,05% menjadi 14,26 juta ton. Nilai ekspor CPO dan turunannya meningkat 6,57% menjadi US$ 17,75 miliar, kemudian  volumenya menyusut 0,39% menjadi 16,13 juta ton.

Sementara itu, nilai ekspor batu bara tumbuh 4,31% menjadi US$ 16,58 miliar, di tengah penurunan volume sebesar 9,33% menjadi 227,70 juta ton.

Menurut Yusuf, kenaikan harga komoditas memang dapat memberikan tambahan devisa dalam jangka pendek. Namun, kondisi ini tidak serta-merta mencerminkan perbaikan fundamental daya saing ekspor Indonesia.

Ketika harga komoditas terkoreksi, nilai ekspor berpotensi ikut melemah apabila tidak disertai peningkatan volume. Terlebih, kenaikan harga saat ini turut dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah, sementara permintaan global masih relatif lemah.

“Menurut saya, kenaikan nilai ekspor di tengah penurunan volume menunjukkan bahwa kinerja perdagangan kita masih banyak ditopang harga komoditas, belum sepenuhnya berasal dari peningkatan daya saing,” ujar Yusuf kepada Infomalangraya.net, Kamis (22/10/2026).

Ia menjelaskan, tantangan ekspor Indonesia berasal dari sisi pasokan maupun permintaan.

Dari sisi pasokan, penurunan volume ekspor sebagian dipengaruhi kebijakan domestik, termasuk pengetatan kuota produksi batubara dan implementasi mandatori biodiesel B50 sejak Juli 2026.

Penerapan B50 meningkatkan penyerapan minyak sawit untuk kebutuhan domestik sehingga berpotensi membatasi pasokan yang tersedia untuk ekspor. Di sisi lain, kendala regulasi dan logistik juga masih membayangi pengiriman komoditas.

Pengiriman batu bara melalui laut tercatat turun 18,11% secara tahunan pada September 2026. Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan dalam menyeimbangkan kebutuhan ketahanan energi domestik dengan upaya mengoptimalkan penerimaan devisa dari ekspor.

Menurut Yusuf, kebijakan produksi dan ekspor perlu lebih adaptif terhadap perubahan siklus harga komoditas global agar Indonesia dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga tanpa mengabaikan kebutuhan dalam negeri.

Dari sisi permintaan, ketergantungan pada sejumlah pasar utama juga menjadi persoalan. Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menyerap 44,50% ekspor nonmigas Indonesia. Bahkan, nilai ekspor ke Tiongkok mencapai US$ 47,44 miliar hingga Agustus 2026.

Konsentrasi pasar tersebut membuat kinerja ekspor Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan industri dan permintaan di negara-negara tujuan utama. Ketika permintaan dari negara tersebut melemah, kenaikan harga komoditas tidak selalu diikuti peningkatan volume ekspor.

Di tengah tantangan tersebut, Yusuf melihat hilirisasi mulai memberikan kontribusi terhadap perubahan struktur ekspor Indonesia.

Ekspor industri pengolahan tumbuh 12,48% pada Agustus 2026, dengan nikel dan produk turunannya menjadi salah satu penopang utama. Produk agro, seperti kopi, kakao, dan tembakau, juga mulai memberikan kontribusi yang lebih besar.

Meski demikian, ia menilai proses hilirisasi belum sepenuhnya menghilangkan ketergantungan terhadap siklus harga komoditas. Sebab, sebagian produk hasil hilirisasi masih berupa barang antara, seperti feronikel dan baja setengah jadi, yang harganya tetap dipengaruhi perkembangan pasar komoditas global.

Dengan demikian, kerentanan ekspor tidak sepenuhnya hilang, tetapi berpotensi bergeser dari komoditas mentah ke produk olahan tahap awal.

Selain itu, hilirisasi belum otomatis mendorong iversifikasi pasar ekspor. Besi dan baja masih menyumbang 25,94% dari total ekspor Indonesia ke Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan ekspor produk olahan juga berpotensi memperdalam ketergantungan terhadap pasar tertentu.

Yusuf juga mengingatkan bahwa peningkatan nilai tambah dalam perdagangan belum tentu seluruhnya menjadi pendapatan domestik.

Kepemilikan modal asing dalam industri pengolahan serta besarnya insentif fiskal yang diberikan pemerintah perlu menjadi pertimbangan dalam mengukur manfaat ekonomi hilirisasi bagi Indonesia.

Ke depan, ia menilai strategi hilirisasi perlu diarahkan pada produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan lebih dekat dengan konsumen akhir. Beberapa di antaranya adalah baja khusus, komponen baterai, dan produk oleokimia.

Upaya tersebut perlu disertai diversifikasi pasar ke kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa, dengan memanfaatkan perjanjian perdagangan yang tersedia.

Di samping itu, kebijakan kuota produksi dan kewajiban pemenuhan pasar domestik perlu dirancang lebih adaptif terhadap perubahan siklus harga global.

“Dengan begitu, ketika harga global meningkat, Indonesia dapat menangkap tambahan nilai dan volume ekspor tanpa mengorbankan kebutuhan dalam negeri,” tandasnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indoensia (BI) menilai, dari sisi eksternal, peningkatan ekspor nonmigas menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, BI memandang masih terdapat peluang untuk mengoptimalkan kinerja ekspor dengan memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas di pasar global.

“Dari eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat, meskipun perlu semakin didorong memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas ekspor,” tutur Destry dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2026).

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version