Polemik Perubahan Skor dalam SPMB Jabar 2026
Polemik terkait perubahan skor pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Barat 2026 khususnya di Sekolah Maung, menjadi sorotan utama masyarakat. Proses seleksi yang seharusnya transparan dan jelas, kini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan calon siswa.
Keresahan Orang Tua
Salah satu orang tua yang terdampak adalah Shopie Meilani. Ia mengunggah video yang viral, menjelaskan pengalamannya melihat poin anaknya tiba-tiba berkurang drastis. Menurutnya, posisi anaknya pada awalnya aman dalam kuota, namun tiba-tiba turun hingga 51 poin.
Shopie mengatakan bahwa setelah memperoleh informasi dari sekolah, ia dan orang tua lainnya diminta mengisi formulir pengaduan. Namun, penjelasan dari pihak sekolah tidak cukup jelas, sehingga mereka harus mengadukan masalah ini ke Disdik Jabar.
Perubahan Skor Jalur Ketua OSIS
Banyak orang tua yang mengeluh tentang perubahan skor pada jalur prestasi nonakademik, khususnya bagi Ketua OSIS. Shopie menjelaskan bahwa banyak ketua OSIS yang gagal masuk karena perubahan aturan.
Ia menyampaikan bahwa nilai yang awalnya 305 tiba-tiba turun menjadi 220, sesuai dengan aturan baru. Hal ini memicu pertanyaan mengapa aturan tersebut berubah mendekati waktu pengumuman.
Penjelasan dari Disdik Jabar
Disdik Jabar membantah adanya pemotongan skor secara sepihak. Mereka menjelaskan bahwa perubahan skor terjadi akibat sinkronisasi sistem dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) terbaru.
Menurut keterangan resmi, sistem melakukan verifikasi ulang untuk memastikan kesesuaian bobot prestasi sesuai Keputusan Gubernur. Selain itu, data yang ditampilkan masih bersifat sementara dan akan diperbarui hingga proses seleksi selesai.
Contoh Kasus Perubahan Skor
Disdik Jabar memberikan contoh kasus perubahan skor. Misalnya, pada kategori Taekwondo, skor awal 310 berubah menjadi 275 sesuai aturan. Begitu juga dengan kategori Ketua OSIS, di mana skor awal 305 berubah menjadi 220.
Dalam penjelasan tersebut, Disdik Jabar menegaskan bahwa perubahan ini bukanlah pemotongan nilai, tetapi penyesuaian sesuai aturan yang berlaku.
Kritik DPRD
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari, menilai sistem SPMB Sekolah Maung belum siap. Ia menyoroti bahwa klasemen ranking sebaiknya tidak ditampilkan sebelum finalisasi.
Zaini mengatakan bahwa klasemen yang dikeluarkan sebelumnya memicu asumsi kecurangan di masyarakat. Selain itu, ia menilai sistem SPMB belum melalui pengujian yang memadai sebelum diterapkan.
Kesimpulan
Perubahan skor dalam SPMB Jabar 2026 menimbulkan pro dan kontra. Meski Disdik Jabar menjelaskan bahwa perubahan terjadi karena sinkronisasi sistem, banyak orang tua masih merasa khawatir. DPRD pun mengkritik kesiapan sistem dan mekanisme penampilan klasemen.
