Kegiatan CPRN Summit 2026: Kolaborasi untuk Masa Depan Pendidikan yang Inklusif dan Berkelanjutan
SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 menjadi ajang penting dalam memperkuat kolaborasi antara berbagai pihak terkait pendidikan di kawasan Asia Tenggara. Acara ini diselenggarakan oleh Kemendikdasmen bersama SEAMEO CECCEP dan SEAMEO Secretariat, dengan menghadirkan sekitar 200 peserta yang terdiri dari peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan mitra.
Selama tiga hari, forum ini menjadi ruang diskusi yang menyentuh berbagai tantangan yang akan menentukan masa depan pendidikan kawasan. Topik-topik seperti ketimpangan akses pendidikan, transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI), pengembangan guru, serta penguatan pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan menjadi fokus utama. Dengan tema “Bridging Research, Policy, and Practice: Pathways toward an Inclusive, Equitable and Sustainable Futures”, acara ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara hasil penelitian, proses perumusan kebijakan, dan praktik pendidikan di lapangan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, membuka acara dengan penegasan bahwa tantangan pendidikan semakin kompleks sehingga penyelesaiannya tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang terpisah. Ia menyoroti pentingnya menjembatani antara riset dan kebijakan agar solusi yang dihasilkan lebih efektif.
“Jembatan antara riset dan kebijakan sering kali terputus. Peneliti menerbitkan hasil penelitian yang tidak dibaca pembuat kebijakan, sementara pembuat kebijakan mengambil keputusan tanpa memanfaatkan hasil riset. Kita harus mengubah keadaan ini. Peneliti dan pembuat kebijakan harus duduk bersama sejak awal untuk merancang solusi bagi pendidikan,” ujar Menteri Abdul Mu’ti saat membuka kegiatan di Jakarta, Selasa (9/6).
Presiden Dewan SEAMEO, H.E. Datin Seri Setia Dr. Hajah Romaizah binti Haji Mohd Salleh, juga menegaskan bahwa CPRN telah berkembang menjadi platform strategis yang mempertemukan riset, kebijakan, dan praktik pendidikan di Asia Tenggara.
“Pengetahuan yang dihasilkan para peneliti tidak boleh berhenti di ruang akademik. Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Direktur SEAMEO CECCEP, Vina Adriany, menjelaskan bahwa CPRN 2026 dirancang untuk memperkuat kolaborasi antarpeneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi pendidikan di kawasan Asia Tenggara.
“Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga membangun jejaring profesional, kemitraan baru, dan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat mendorong perubahan nyata di kawasan,” ujar Vina.
Dalam forum tersebut dipaparkan bahwa adopsi AI dan robot di lima negara Asia Tenggara pada periode 2018–2022 menciptakan sekitar 2 juta lapangan kerja terampil, namun juga menggeser sekitar 1,4 juta pekerja dengan keterampilan rendah. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran pendidikan dalam menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Karena itu, Indonesia mengajak negara-negara Asia Tenggara membangun budaya pengambilan kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy), di mana penelitian, pengalaman lapangan, dan aspirasi masyarakat menjadi landasan dalam merumuskan solusi pendidikan. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Partisipasi Semesta yang dikembangkan Kemendikdasmen.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Abdul Mu’ti juga menegaskan Indonesia sendiri terus memperkuat transformasi pendidikan melalui pendekatan Deep Learning yang mendorong proses belajar menjadi lebih sadar (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful). Pendekatan ini didukung dengan penguatan kompetensi guru di bidang AI, coding, STEM, dan pendidikan karakter, pengembangan tata kelola data pendidikan, revitalisasi satuan pendidikan, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran yang lebih interaktif.
Kemendikdasmen memandang bahwa hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai publikasi akademik tetapi diwujudkan melalui berbagai output CPRN 2026, yang meliputi sintesis rekomendasi kebijakan bagi negara-negara anggota SEAMEO, publikasi prosiding terindeks Scopus, penerbitan artikel pada jurnal akademik, serta buku yang dapat dimanfaatkan oleh pembuat kebijakan, peneliti, dan praktisi pendidikan.
CPRN Summit 2026 merupakan hasil kolaborasi Kemendikdasmen, SEAMEO Secretariat, dan SEAMEO CECCEP dengan dukungan berbagai mitra yang mencakup GPE KIX EMAP Hub, INOVASI, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, The Conversation Indonesia, serta seluruh SEAMEO Centres di kawasan.
