Identifikasi Korban Kecelakaan Bus ALS yang Menghebohkan
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Rumah Sakit Bhayangkara Moh. Hasan Palembang menemukan dua jenazah yang menempel erat dalam satu kantong jenazah berkode PM008 selama proses identifikasi korban kecelakaan maut bus ALS dan truk tangki BBM di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026). Temuan ini memicu kekhawatiran terhadap kondisi korban yang mengalami kerusakan jaringan berat hingga tulang hancur lebur akibat panas ekstrem.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Moh. Hasan, Kombes Pol dr Budi Susanto menjelaskan bahwa awalnya petugas mengira kantong tersebut hanya berisi satu jenazah karena kondisi tubuh korban saling menempel akibat terbakar hebat. Namun setelah dilakukan pemeriksaan mendalam, ditemukan dua sampel yang berbeda dalam satu kantong jenazah.
“Di label penomoran PM008, kita menemukan ada dua sampel yang berbeda dalam satu kantong jenazah tadi. Lengket dia,” ujar Kombes Pol. Budi kepada Infomalangraya.net.
Setelah dilakukan pendalaman secara ilmiah, tim berhasil mengidentifikasi bahwa salah satu dari jenazah yang menempel tersebut diduga kuat merupakan seorang balita. “Didapatkan memang dia tidak identik dengan jenazah yang satu lagi. Kemungkinan adalah jenazah balita atau kurang dari lima tahun,” tambahnya.
Temuan ini membuat kantong PM008 kini memiliki dua penomoran baru, yakni 08B dan 08C. Ketika ditanya tentang jenis kelamin kedua body part itu, dr. Budi menambahkan bahwa dirinya belum bisa memastikan. Ia meminta keluarga korban untuk membantu memberikan data tambahan, seperti baju atau benda milik korban yang mengandung epitel kulit atau sikat gigi, guna mencocokkan profil DNA dengan jenazah yang ditemukan.
Kondisi Jenazah yang “Hancur Lebur”
Tingkat kerusakan tubuh korban akibat luka bakar menjadi tantangan terberat bagi tim ahli. Menurut Kombes Pol. Budi, hampir seluruh jenazah yang diterima sudah tidak berbentuk lagi, sehingga identifikasi visual melalui wajah, sidik jari, maupun gigi sangat sulit dilakukan. Kondisi panas yang ekstrem saat kebakaran terjadi menyebabkan pakaian hingga material bus seperti jok melekat erat pada tubuh para korban.
Bahkan, struktur tulang para korban rata-rata dilaporkan sudah dalam kondisi hancur lebur. “Kalau secara visual, secara fisik, jaringannya itu lengket hancur, jadi organ reproduksi pun kita tidak bisa mengidentifikasi.” Tim mengambil sampel dari bagian tubuh atau jaringan yang dianggap mengandung “bibit” DNA terbaik untuk dikirim ke Pusdokkes Polri.
“Untuk tulang sudah hancur lebur, karena badan dia lengket termasuk mungkin joknya juga lengket di situ, jadi tidak semua sampel yang kita berikan, tapi kita pilih yang mengandung bibit unsur DNA-nya,” ujarnya.
Proses identifikasi ini diperkirakan memakan waktu paling cepat 5 hari dan paling lama sekitar 12 hingga 14 hari, tergantung pada kondisi spesimen yang diterima oleh laboratorium.
Penyelidikan Terkait Manifes Bus ALS
Di sisi lain, Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel) tengah melakukan pendalaman intensif terkait ketidaksesuaian data manifes penumpang bus Antar Lintas Sumatera (ALS) yang mengalami kecelakaan maut di Musi Rawas Utara (Muratara), Rabu (6/5/2026). Hingga saat ini, jumlah pasti korban dalam insiden tragis tersebut masih simpang siur akibat adanya dugaan penumpang tidak resmi atau penumpang gelap yang tidak terdaftar dalam manifes keberangkatan.
Berdasarkan manifes resmi, bus tersebut tercatat hanya membawa lima orang penumpang. Namun, saat kecelakaan terjadi, ditemukan total 18 orang di dalam bus yang terdiri dari 14 penumpang dan 4 kru bus.
Penyebab Kecelakaan: Menghindari Lubang
Berdasarkan hasil olah TKP oleh Ditlantas Polda Sumsel dan Satlantas Polres Musirawas Utara, penyebab utama kecelakaan maut di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Kecamatan Karang Jaya ini adalah upaya bus menghindari lubang. Kapolres Muratara, AKBP Rendy Surya Aditama, menjelaskan bahwa bus ALS dengan nomor polisi BK-7778-DL yang dikemudikan Alif hilang kendali saat mencoba menghindari lubang jalan.
“Bus berbelok ke kanan dari arah Lubuk Linggau menuju Jambi, kemudian menabrak mobil tangki Seleraya dari arah berlawanan. Akibat kejadian tersebut, pengemudi dan penumpang mobil Seleraya meninggal dunia terbakar di dalam mobil,” ungkap AKBP Rendy.
Petugas juga menemukan sejumlah barang bawaan yang diduga memicu besarnya api, di antaranya:
Daftar Korban Tewas
Berikut adalah identitas nama 17 korban tewas :
- Aryanto (49) – Pengemudi Mobil Tangki Seleraya (Warga Lubuk Linggau).
- Martoni (48) – Penumpang Mobil Tangki Seleraya (Warga Musi Rawas Utara).
- Alif (44) – Pengemudi Bus ALS (Warga Jawa Tengah).
- Saf (50) – Kenek Bus ALS (Warga Medan).
- Maleh (42) – Kru Bus ALS (Warga Medan).
- Relodo – Penumpang Bus ALS.
- Zulkifli – Penumpang Bus ALS.
- Aldi Sulistiawan – Penumpang Bus ALS.
- Rani – Penumpang Bus ALS (Istri Aldi Sulistiawan).
- Bela – Penumpang Bus ALS (Anak dari Aldi dan Rani).
- Celinton – Penumpang Bus ALS
- Hisyamsiah Bachri – Penumpang Bus ALS
- Sukardi – Penumpang Bus ALS
- Salim – Penumpang Bus ALS
- Budiyanto – Penumpang Bus ALS
- Barhul Ulum – Penumpang Bus ALS
- Muhammad Fahrul Hubaidi (31), – Penumpang Bus ALS
Korban Selamat
Hingga saat ini, tercatat ada 3 orang yang berhasil lolos dari maut. Tiga di antaranya mengalami luka bakar serius akibat ledakan minyak mentah dan saat ini tengah berjuang dalam perawatan intensif di RSUD Rupit.
- Jumiatun (35), dan
- Ngadiono, warga Pati, Jawa Tengah (Luka bakar).
Korban diperbolehkan pulang : M. Fadli bin Ibrahim (30), kenek Bus ALS asal Riau (Luka lecet/ringan).
