Kasus Ambulans yang Disalahgunakan untuk Penagihan Utang Pinjol di Semarang
Sebuah kasus baru terungkap dalam dugaan penyalahgunaan layanan ambulans untuk keperluan penagihan utang pinjaman online (pinjol) di Kota Semarang. Perempuan yang namanya dicantumkan sebagai “pasien” dalam pemesanan ambulans fiktif tersebut mengaku telah menjadi korban teror penagihan selama beberapa waktu.
Pengakuan Korban dan Pihak Ambulans
Owner PT Armada Ambulance Service Semarang, Arsya, mengungkapkan bahwa perempuan tersebut mengaku sudah lama menjadi sasaran intimidasi dari debt collector, bahkan sebelum insiden kedatangan ambulans. Menurut pengakuan korban kepada Arsya, nilai utang pinjol yang saat ini masih menjadi tanggungannya tidak sampai Rp1 juta. Namun dalam praktik penagihan, ia dituntut membayar sebesar Rp14 juta.
“Angkanya jauh sekali. Dia sendiri kaget waktu kami sampaikan nominal yang disebutkan penelpon,” ujar Arsya.
Arsya menambahkan bahwa pola teror tersebut membuat korban dan keluarganya berada dalam tekanan psikologis. Bahkan pada malam sebelum kejadian, sebuah kendaraan sedot WC sempat berhenti cukup lama di depan rumah korban.
Kehadiran Ambulans yang Tidak Sesuai Dengan Tujuan
Fakta baru itu baru terungkap setelah pihak ambulans tiba langsung di lokasi dan berbincang dengan keluarga korban. Padahal sebelumnya, ambulans tersebut berangkat dengan asumsi tengah menangani kondisi medis darurat.
Arsya menjelaskan, pemesanan ambulans diterima Selasa (3/2/2026) sekitar pukul 11.40 WIB. Penelpon meminta ambulans datang pukul 12.00 WIB dengan alasan pasien akan kontrol ke dokter spesialis. Data lengkap seperti nama pasien, alamat, rumah sakit tujuan, dan keterangan sakit diberikan, sehingga tidak ada yang mencurigakan di awal.
Karena menganggap situasi darurat, Arsya yang juga merangkap sebagai sopir langsung mengerahkan armada ke lokasi di kawasan Semarang Barat. Namun, setibanya di alamat yang dituju, pihak ambulans justru mendapat respons mengejutkan dari warga sekitar.
Penjelasan dari Pemilik Rumah dan Korban
Pemilik rumah pertama menyatakan bahwa informasi yang diberikan kemungkinan fiktif. Nama pasien yang mereka sebut ternyata adalah rumah sebelah. Saat dikonfirmasi ke rumah yang dimaksud, perempuan yang namanya tercantum dalam data ambulans membenarkan bahwa dirinya bukan memesan ambulans dan tidak dalam kondisi sakit.
Arsya dan tim kemudian kembali menghubungi nomor pemesan. Pada awalnya, penelpon bersikeras bahwa data yang diberikan benar. Namun di akhir percakapan, maksud sebenarnya baru terungkap. Penelpon meminta agar pihak ambulans menagih utang pinjol sebesar Rp14 juta kepada perempuan tersebut.
“Kami langsung menolak. Kami ambulans, bukan penagih utang,” tegas Arsya.
Penyebaran Teror dengan Banyak Ambulans
Tak lama berselang, sebuah ambulans lain datang ke lokasi dengan nama pasien, alamat, dan nominal utang yang sama. Selang sekitar lima menit kemudian, ambulans ketiga menyusul. Total ada tiga ambulans yang menerima pesanan dari nomor yang sama, dengan nilai utang yang sama yaitu Rp14 juta.
Selain ambulans, sebuah kendaraan jasa angkut berbasis aplikasi juga datang ke lokasi dengan perintah serupa, meski menggunakan nomor pemesan yang berbeda.
Dampak Negatif terhadap Layanan Kemanusiaan
Arsya menyebut, peristiwa tersebut tidak berhenti di hari itu saja. Keesokan harinya, kejadian serupa kembali terulang dengan pola yang hampir identik. Lokasi hampir sama, jam hampir sama, hanya nomor pemesan yang berbeda.
Meski mulai curiga, pihak ambulans tetap berangkat karena mengutamakan prinsip layanan kemanusiaan. “Ambulans tidak bisa menilai dari telepon apakah ini benar atau tidak. Kalau kami salah menolak, bisa bahaya,” ujarnya.
Arsya menegaskan, praktik semacam ini merugikan banyak pihak, baik secara materiil maupun moral. Bensin, waktu, tenaga, semua habis. Tapi yang lebih berat, layanan darurat dipakai sebagai alat tekanan.
Ia khawatir jika pola ini dibiarkan, layanan publik lain seperti pemadam kebakaran, PMI, atau rumah sakit bisa mengalami hal serupa. “Kalau ini jadi tren, dampaknya bisa fatal. Ambulans itu soal nyawa,” pungkasnya.
