Sejarah Baru dalam Pendidikan Psikologi Nasional

Faradiba Anugerah Kaay Tabuni menjadi perempuan psikolog pertama dari Papua Pegunungan yang resmi lulus dari Universitas Katolik Soegijapranata (SCU), Semarang, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan pendidikan profesi psikolognya pada Kamis (29/1/2026). Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi sejarah baru dalam dunia pendidikan profesi psikolog nasional pasca-penerapan UU Nomor 23 Tahun 2022.

Misi Kesehatan Mental di Wilayah Lapago

Sebagai putri asli daerah Lapago, Faradiba memiliki komitmen kuat untuk memajukan layanan kesehatan mental di wilayah Papua Pegunungan. Ia berupaya mengurangi stigma terhadap gangguan jiwa melalui pendekatan terapi non-obat. Dengan pengalaman sebagai mantan asisten psikiater di RSUD Wamena, ia menyadari bahwa banyak pasien di pedalaman Papua membutuhkan pemulihan trauma melalui terapi bicara dan empati, bukan sekadar penanganan medis kimiawi.

Proses pengambilan sumpah profesi berlangsung khidmat di Kampus SCU Semarang. Faradiba merupakan bagian dari 47 lulusan angkatan pertama Program Pendidikan Profesi Psikolog yang diluncurkan setelah regulasi UU Nomor 23 Tahun 2022. Rektor SCU, Robertus Setiawan Aji Nugroho, menegaskan bahwa kelulusan ini adalah jawaban institusi terhadap regulasi layanan psikologi nasional.

Perjalanan Akademik yang Berawal dari Pengalaman Lapangan

Perjalanan akademik Faradiba tidak instan. Ia memulai kiprahnya dengan pengalaman empiris di lapangan, seperti mendampingi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta anak-anak jalanan melalui LSM Tangan Peduli Yayasan Kemanusiaan di Jayawijaya. Pengalamannya sebagai asisten psikiater di RSUD Wamena semakin memperkuat tekadnya untuk mendalami ilmu psikologi secara profesional.

Faradiba mengungkapkan bahwa gelar ini bukan sekadar seremoni, melainkan tanggung jawab moral untuk menyembuhkan luka batin masyarakat di wilayah terpencil. “Ini adalah titik balik dari perjalanan belajar menjadi perjalanan mengabdi di ruang kehidupan nyata,” ujarnya.

Kurikulum yang Komprehensif dan Kompetensi yang Mumpuni

Kurikulum pendidikan yang ditempuh Faradiba mencakup teori mendalam dan praktik layanan psikologi lapangan selama tiga semester. Ia berhasil melewati Uji Kompetensi Profesi Psikolog Umum yang diselenggarakan bersama Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).

Dekan Fakultas Psikologi SCU, Kristiana Haryanti, memastikan bahwa lulusan angkatan pertama ini memiliki kompetensi promotif, preventif, dan kuratif yang mumpuni. Faradiba dinilai memiliki kepekaan budaya yang tinggi, sebuah prasyarat penting untuk melakukan intervensi psikologis di tengah keragaman adat Papua.

Integrasi Ilmu dan Kearifan Lokal

Integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal menjadi nilai tambah yang dibawa Faradiba dalam praktik profesionalnya nanti. Kembalinya Faradiba ke Papua Pegunungan diharapkan mampu membuka akses “ruang aman” bagi warga yang selama ini memendam beban batin sendirian.

Ia berkomitmen untuk membangun sistem layanan kesehatan mental yang kontekstual dan menghormati otonomi setiap klien. Kehadiran psikolog asli daerah menjadi sangat krusial karena faktor bahasa dan pemahaman budaya sering kali menjadi penghambat utama dalam proses konseling.

Harapan dan Inspirasi untuk Generasi Muda

“Saya ingin memastikan bahwa setiap individu di Papua memiliki hak yang sama untuk pulih dari trauma dan mendapatkan martabat kemanusiaannya kembali,” tandas Faradiba.

Perjuangan Faradiba kini menjadi inspirasi bagi generasi muda di wilayah adat Lapago untuk terus mengejar pendidikan setinggi mungkin. Dengan dedikasi dan komitmen yang tinggi, ia menjadi contoh nyata bahwa pendidikan dapat menjadi alat perubahan yang signifikan bagi masyarakat.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version